• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Perempuan Versus Patriarki dalam Frame Islam Berkemajuan

Nurul Mawaridah oleh Nurul Mawaridah
1 tahun yang lalu
in Opini
0
Foto: Getty Image/The Independent

Foto: Getty Image/The Independent

12
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Patriarki telah menjadi sistem sosial yang secara historis mengakar dalam banyak peradaban, termasuk dalam banyak komunitas Muslim. Sistem ini menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, kontrol, dan otoritas, seringkali mengabaikan atau merendahkan peran perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan spiritual. Dalam konteks ini, Islam sering kali disalahpahami atau bahkan disalahgunakan untuk memperkuat struktur patriarkis tersebut. Padahal, nilai-nilai Islam yang murni dan berkemajuan justru mengedepankan keadilan, kesetaraan, dan pemberdayaan. 

Tulisan ini merupakan ikhtiar untuk menggali dan merefleksikan bagaimana Islam, terutama Islam Berkemajuan dapat menjadi narasi tandingan terhadap patriarki yang membelenggu perempuan. Dengan pendekatan kontekstual, historis, dan normatif, opini ini berusaha membangun kesadaran bahwa Islam bukan agama patriarkis, tetapi telah memberikan banyak ruang dan pengakuan terhadap hak-hak perempuan sejak lebih dari 14 abad silam. 

Patriarki dalam Realitas Sosial 

Perempuan Versus Patriarki dalam Frame Islam Berkemajuan
Foto: suluk.id

Di berbagai ruang kehidupan, perempuan masih menghadapi diskriminasi yang berlapis: di rumah, di tempat kerja, di ruang publik, dan bahkan dalam institusi keagamaan. Banyak yang menganggap kodrat perempuan adalah mengurus rumah tangga, tunduk pada suami, dan menjauhi ruang-ruang strategis pengambilan keputusan. Dalam kerangka patriarki, suara perempuan dianggap inferior, tubuhnya dikontrol, dan pilihan hidupnya dibatasi. 

Lebih menyakitkan lagi, tak sedikit doktrin keagamaan yang dilintasi oleh tafsir yang bias gender. Hadis-hadis tertentu dijadikan dalih untuk menguatkan dominasi laki-laki atas perempuan, tanpa membedah konteks dan autentisitasnya secara kritis. Padahal, Islam yang dibawa Rasulullah SAW bukan agama yang menindas, melainkan membebaskan. Perempuan di masa jahiliyah diperlakukan sebagai properti, namun Islam datang dan menjunjung tinggi martabat mereka. 

Related Post

Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

27 Mei 2026

KURMA: Ruang Ukhuwah Digital bagi Kader Milenial Aisyiyah Kota Pasuruan

9 Juni 2025

Hak Reproduksi Perempuan dalam Pandangan Islam: antara Kuasa, Martabat, dan Kesadaran

30 Mei 2025

Perempuan dan Kehidupan Publik: antara Martabat, Peran, dan Tantangan Zaman

28 Mei 2025

Perempuan dalam Al-Qur’an dan Sejarah Islam Awal 

Al-Qur’an memberikan ruang luar biasa terhadap perempuan. Maryam, ibu Nabi Isa AS, mendapat satu surat khusus (Surat Maryam) yang menegaskan kesucian, kekuatan spiritual, dan keteladanannya. Ratu Saba’ dalam QS. An-Naml disebut sebagai pemimpin yang bijaksana. Khadijah RA adalah sosok pengusaha sukses dan pendukung utama dakwah Nabi. Aisyah RA menjadi rujukan ilmu hadis yang luar biasa. 

Namun seiring waktu, sejarah mencatat munculnya dominasi penafsiran Islam oleh kaum laki-laki dalam konteks sosial yang patriarkis. Ini bukan kesalahan Islam, melainkan sejarah sosial umat Islam yang perlu dibaca ulang. Oleh karena itu, penting menghadirkan narasi Islam yang berkemajuan yakni Islam yang mampu bergerak dinamis, adaptif, dan berpihak pada keadilan sejati. 

Islam Berkemajuan sebagai Tawaran Epistemologis 

Islam Berkemajuan bukan sekadar jargon ideologis, melainkan paradigma pemikiran yang mengakar pada semangat pembaruan, keadaban, dan kesetaraan. Dalam frame ini, keislaman tidak dipahami sebagai pembakuan terhadap tradisi patriarkis, tetapi sebagai sumber nilai-nilai transformatif yang membebaskan. 

Konsep Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah, misalnya, menempatkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam pembangunan umat. ‘Aisyiyah, sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, menjadi pionir gerakan perempuan modern di Indonesia. Mereka tidak hanya mengurusi domestik, tapi juga aktif dalam pendidikan, kesehatan, sosial, dan bahkan advokasi kebijakan publik. 

Dalam perspektif ini, Islam menjadi jalan untuk meretas ketimpangan, bukan memperkuatnya. Tafsir-tafsir Al-Qur’an dan hadis yang meminggirkan perempuan perlu dikaji ulang dengan metode tafsir kontekstual dan maqashid Syariah yakni memahami maksud dan tujuan hukum Islam yang membawa kemaslahatan, keadilan, dan rahmat. 

Kritik terhadap Tafsir Patriarkis 

Banyak ayat dan hadis yang disalahpahami akibat tafsir bias patriarki. Misalnya, ayat tentang “qawwam” dalam QS. An-Nisa:34 sering dimaknai sebagai dominasi laki-laki atas perempuan. Padahal, qawwam berarti penanggung jawab, bukan pemimpin absolut. Tanggung jawab ini bermakna spiritual, moral, dan sosial, bukan kekuasaan otoriter. 

Perlu ada kesadaran kolektif di kalangan umat Islam untuk berani menafsirkan ulang teks-teks agama dengan pendekatan adil gender. Bukan menolak teks, tapi membaca ulang makna dan semangatnya. Karena jika Islam adalah rahmat bagi semesta alam, maka ia tidak boleh menjadi alat penindasan terhadap setengah umat manusia. 

Pendidikan sebagai Jalan Transformasi 

Perempuan yang terdidik adalah ancaman bagi patriarki. Maka tidak mengherankan jika banyak sistem sosial menekan akses perempuan terhadap pendidikan. Dalam Islam Berkemajuan, pendidikan adalah hak dan kewajiban semua, tanpa kecuali. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah.” 

Transformasi pemahaman tentang peran perempuan harus dimulai dari Pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal. Sekolah, keluarga, dan institusi keagamaan harus menjadi ruang aman dan merdeka untuk perempuan bertumbuh dan berdaya. 

Melampaui Simbol, Menembus Struktur 

Hari ini, banyak perempuan Muslim yang sudah menembus ruang publik. Ada yang menjadi akademisi, pejabat publik, ulama perempuan, dan pengusaha. Namun, simbol kehadiran perempuan belum tentu berarti keadilan struktural. Masih banyak struktur sosial, hukum, dan budaya yang menghalangi perempuan untuk setara dalam arti substantif. 

Islam Berkemajuan mengajak umat untuk tidak berhenti pada simbol. Bukan soal berapa banyak perempuan duduk di kursi DPR, tetapi apakah suara mereka didengar? Apakah kebutuhan perempuan diperjuangkan? Apakah hak-hak mereka diakui penuh? 

Kesetaraan dalam Keluarga dan Masyarakat 

Keluarga adalah institusi pertama tempat patriarki beroperasi. Dalam banyak kasus, perempuan diajari sejak kecil untuk patuh, bukan berpikir kritis. Istri diajarkan melayani, bukan bermitra. Islam Berkemajuan mendorong relasi keluarga yang berlandaskan musyawarah, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama. 

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam membangun relasi yang sehat dengan istrinya. Beliau membantu pekerjaan rumah, mendengarkan pendapat istri, dan menghormati mereka. Ini adalah fondasi rumah tangga yang adil dan berkemajuan. 

Perempuan, Iman, dan Kepemimpinan 

Keimanan tidak mengenal jenis kelamin. Surga tidak dikhususkan untuk laki-laki saja. Perempuan dalam Islam punya hak penuh untuk menjadi pemimpin, bukan karena jenis kelaminnya, tetapi karena kapasitas, integritas, dan ilmunya. 

Tokoh-tokoh seperti Nawal El Saadawi, Zainab al-Ghazali, hingga pemikir-pemikir perempuan Muslim kontemporer telah membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan adalah niscaya dan produktif. Mereka tidak melawan Islam, justru menghidupkan semangat Islam yang adil dan memanusiakan. 

Menuju Generasi Emas yang Adil Gender 

Islam Berkemajuan adalah keniscayaan sejarah dan kebutuhan umat. Peradaban Islam takkan bangkit jika perempuan, setengah dari umat, terus dibungkam dan dilemahkan. Keadilan gender bukan sekadar jargon, melainkan amanat tauhid. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan bukan untuk saling mendominasi, tapi saling melengkapi dan memuliakan. Perjuangan perempuan melawan patriarki masih panjang dan penuh tantangan. Namun, dengan kerangka Islam Berkemajuan, harapan akan keadilan dan kesetaraan tetap menyala. Inilah jalan menuju dunia yang adil, seimbang, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam: rahmatan lil ‘alamin. 


Baca Juga:

  • Perempuan dan Kehidupan Publik: antara Martabat, Peran, dan Tantangan Zaman

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: patriarkiperempuan
Share5Tweet3Share1
Nurul Mawaridah

Nurul Mawaridah

Related Posts

Ilustrasi dibuat menggunakan AI
Opini

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

oleh Nashrul Muminin
27 Mei 2026
Kabar

KURMA: Ruang Ukhuwah Digital bagi Kader Milenial Aisyiyah Kota Pasuruan

oleh Nurul Mawaridah
9 Juni 2025
Image: Light of Islam
Opini

Hak Reproduksi Perempuan dalam Pandangan Islam: antara Kuasa, Martabat, dan Kesadaran

oleh Nurul Mawaridah
30 Mei 2025
Next Post

Ditemukan 1.200 Tahun Lalu, tapi Karyanya jadi Fondasi TikTok, AI, dan Cryptocurrency! Siapa Dia?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Teknik mesin dan Islam selaras: Al-Jazari pelopor poros engkol, ihsan jadi etika, green tech amanah khalifah. (Ilustrasi: AI)

Menelusuri Jejak Sejarah Indah Islam dan Etika Teknik Mesin

4 Juni 2026
Poster siswa berprestasi bukan merendahkan, melainkan bukti nyata bahwa kerja keras membuahkan hasil. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Poster Siswa Berprestasi Bukan Bentuk Ketidakadilan, Melainkan Cermin Realitas dan Inspirasi

4 Juni 2026
Pesantren SPEAM Kota Pasuruan: agama, hafalan Al-Qur'an, wirausaha, dan bahasa asing dalam satu pendidikan modern. (foto: SPEAM/passmu.id)

Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Entrepreneur, SPEAM Kota Pasuruan Tawarkan Kurikulum Integratif dan Pengawasan 24 Jam

4 Juni 2026
Subuh di Masjid Darul Arqom, Ust. Heru ungkap fenomena tiga laut bertemu tak menyatu sebagai bukti kuasa Allah. (foto: Suharsono/pasmu.id)

Keajaiban Doa Air yang Tak Menyatu: Refleksi Teologis dan Saintifik di Masjid Darul Arqom

4 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan