Di berbagai penjuru dunia, ketika Kamis malam tiba dan berganti menuju hari Jumat, jutaan manusia mengangkat tangan mereka dalam doa. Di masjid-masjid, umat Islam membaca Surah Al-Kahfi, melantunkan shalawat, dan memohon ampunan kepada Allah. Di gereja-gereja dan biara-biara tertentu, umat Kristiani mengenang penderitaan Yesus Kristus, merenungkan kasih-Nya, dan menjalankan devosi yang dikenal sebagai Jumat Pertama. Meskipun berasal dari keyakinan yang berbeda, keduanya menunjukkan satu kenyataan yang sama: manusia selalu mencari waktu-waktu istimewa untuk mendekat kepada Tuhan. Namun sedikit orang mengetahui bahwa tradisi Jumat Pertama dalam Gereja Katolik tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir melalui perjalanan sejarah yang panjang, melibatkan para rahib, biarawan, teolog, santo, paus, dan seorang perempuan sederhana yang kelak mengubah arah spiritualitas jutaan umat Katolik di dunia.
Untuk memahami asal-usul Jumat Pertama, kita harus kembali ke Eropa abad pertengahan. Saat itu Kekristenan berkembang melalui kehidupan biara. Di dalam tembok-tembok batu yang sunyi, para rahib Benediktin dan Sistersian menghabiskan hari-hari mereka dalam doa, puasa, dan meditasi. Mereka membaca Kitab Suci berulang kali dan merenungkan penderitaan Yesus di kayu salib. Dari permenungan inilah muncul devosi kepada Hati Kudus Yesus. Para rahib memandang hati sebagai simbol cinta, pengorbanan, dan belas kasih Kristus kepada umat manusia. Pada abad ke-11 dan ke-12, penghormatan kepada Hati Kudus Yesus mulai berkembang di lingkungan biara-biara Eropa. Namun pada masa itu devosi tersebut masih bersifat pribadi. Belum ada pesta resmi, perayaan umum, atau kewajiban gerejawi.
Memasuki abad ke-13 hingga ke-16, berbagai pergolakan melanda Eropa. Perang, konflik politik, wabah penyakit, dan perubahan sosial membuat banyak praktik spiritual mengalami kemunduran. Devosi kepada Hati Kudus Yesus juga ikut meredup. Meskipun tetap dipraktikkan oleh sebagian rohaniwan, gaungnya tidak lagi sebesar sebelumnya. Kebangkitan kembali terjadi pada abad ke-16. Salah satu tokoh yang berperan penting adalah Yohanes dari Salib, seorang mistikus besar Spanyol yang hidup antara tahun 1542 hingga 1591. Yohanes dikenal sebagai tokoh reformasi rohani dalam Gereja Katolik. Melalui tulisan dan pengajarannya, ia menekankan pentingnya cinta kepada Tuhan yang lahir dari hati yang murni. Meskipun bukan pencetus langsung Jumat Pertama, ajarannya ikut menghidupkan kembali spiritualitas yang berpusat pada kasih Kristus.
Pada abad ke-17, semakin banyak tokoh Katolik yang mengembangkan penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Di antaranya Santo Fransiskus Borgia, seorang bangsawan Spanyol yang meninggalkan kemewahan dunia demi kehidupan religius. Kemudian Santo Aloysius Gonzaga, seorang pemuda yang dikenal karena kesalehan dan pengorbanannya. Ada pula Beato Petrus Kanisius, seorang imam dan teolog besar yang memperkuat pendidikan iman Katolik di Eropa. Meski demikian, semua praktik tersebut masih bersifat pribadi. Belum ada bentuk ibadah umum yang mengikat seluruh umat. Di sinilah muncul tokoh penting bernama Beato Yohanes Eudes. Yohanes Eudes lahir di Prancis pada tahun 1601. Ia dikenal sebagai imam, pengkhotbah, dan pembaharu rohani. Berbeda dari tokoh sebelumnya, Yohanes Eudes tidak ingin devosi kepada Hati Kudus Yesus hanya menjadi praktik pribadi. Ia ingin seluruh umat dapat merayakannya bersama-sama dalam liturgi gereja. Dengan penuh semangat, Yohanes Eudes menyusun doa-doa khusus, teks peribadatan, dan tata cara penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Upayanya mencapai puncak ketika pada tanggal 31 Agustus 1670 di Seminari Tinggi Rennes, Prancis, untuk pertama kalinya diadakan pesta liturgi resmi Hati Kudus Yesus. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting. Untuk pertama kalinya penghormatan kepada Hati Kudus Yesus dirayakan secara terbuka oleh umat dalam ibadah resmi. Banyak sejarawan gereja menyebut perayaan tersebut sebagai fondasi awal lahirnya devosi Hati Kudus yang kelak menyebar ke seluruh dunia.
Namun kisah terbesar justru belum dimulai. Pada tahun 1647 lahirlah seorang gadis bernama Maria Margaretha Alacoque di Burgundy, Prancis. Ia berasal dari keluarga sederhana dan sejak kecil dikenal memiliki kehidupan rohani yang mendalam. Setelah dewasa ia masuk Biara Visitasi di Paray-le-Monial. Di tempat inilah sejarah Jumat Pertama bermula. Antara tahun 1673 hingga 1675, Maria Margaretha mengaku mengalami beberapa penampakan Yesus Kristus. Dalam pengalaman mistiknya, Yesus menunjukkan Hati Kudus-Nya yang menyala oleh kasih kepada manusia tetapi juga terluka oleh dosa, penghinaan, dan penolakan manusia. Pada penampakan ketiga tahun 1674, Yesus memperlihatkan diri dalam kemuliaan. Luka-luka sengsara-Nya memancarkan cahaya terang seperti matahari. Dari dada-Nya tampak Hati Kudus yang dikelilingi nyala cinta dan mahkota duri. Menurut kesaksian Maria Margaretha, Yesus menyampaikan bahwa banyak manusia melupakan kasih-Nya. Sebagai bentuk pemulihan dan silih atas dosa manusia, Yesus meminta penghormatan khusus kepada Hati Kudus-Nya. Permintaan tersebut meliputi penerimaan Sakramen Ekaristi sesering mungkin, terutama pada Hari Jumat Pertama setiap bulan. Selain itu Yesus juga meminta umat berdoa pada Kamis malam sebagai kenangan atas penderitaan-Nya di Taman Getsemani sebelum penyaliban. Di sinilah asal mula istilah “Jumat Pertama”.
Tradisi tersebut kemudian menyebar secara perlahan ke berbagai wilayah Eropa. Para imam, biarawan, dan umat mulai melaksanakan Komuni Kudus pada Jumat pertama setiap bulan sebagai bentuk penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Kamis malam juga mendapat tempat istimewa. Dalam Injil Matius 26:38, Yesus berkata: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Karena itu lahirlah tradisi Hora Sancta atau Jam Suci. Pada malam Kamis, umat berkumpul untuk berdoa dan merenungkan saat-saat Yesus berdoa di Getsemani sebelum ditangkap. Perkembangan devosi ini semakin pesat selama dua abad berikutnya. Hingga akhirnya pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus sebagai perayaan resmi Gereja Katolik sedunia. Sejak saat itu Jumat Pertama menjadi bagian penting dari kehidupan rohani umat Katolik.
Menariknya, jika kita melihat tradisi Islam, Kamis malam menuju Jumat juga memiliki kedudukan yang sangat mulia. Dalam Islam, malam Jumat dimulai sejak matahari terbenam pada hari Kamis. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat” (HR. Muslim). Karena keutamaan tersebut, para ulama menganjurkan memperbanyak ibadah sejak Kamis sore. Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menulis, “Persiapkanlah diri untuk menyambut Jumat sejak hari Kamis.” Pada malam itu umat Islam dianjurkan membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, memperbanyak shalawat, dan menghidupkan malam dengan doa. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Doa adalah senjata orang mukmin.” Jika dalam tradisi Katolik Kamis malam menjadi kenangan akan doa Yesus di Getsemani, maka dalam Islam Kamis malam menjadi waktu memperbanyak doa dan persiapan menyambut hari Jumat yang penuh keberkahan.
Meskipun memiliki dasar teologis yang berbeda, sejarah menunjukkan bahwa baik umat Islam maupun Katolik sama-sama memandang malam menjelang Jumat sebagai waktu yang istimewa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Keduanya mengisi malam itu dengan doa, perenungan, pengakuan dosa, permohonan ampun, dan harapan akan rahmat ilahi. Pada akhirnya, sejarah Jumat Pertama bukan hanya kisah tentang sebuah tradisi gereja. Ia adalah kisah tentang pencarian manusia terhadap kasih Tuhan. Dari biara-biara sunyi abad pertengahan, dari doa-doa para rahib, dari perjuangan Yohanes Eudes, dari pengalaman mistik Maria Margaretha Alacoque, hingga perayaan jutaan umat saat ini, semuanya menunjukkan satu hal: hati manusia selalu merindukan Sang Pencipta. Beberapa tokoh penting yang berperan dalam lahirnya tradisi ini antara lain Yohanes dari Salib yang menghidupkan kembali spiritualitas kasih Kristus, Santo Fransiskus Borgia yang menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus, Santo Aloysius Gonzaga yang memperkuat praktik devosi, Beato Petrus Kanisius sebagai teolog dan pendidik iman Katolik, Beato Yohanes Eudes yang mengubah devosi pribadi menjadi ibadah umat dan menyelenggarakan pesta Hati Kudus pertama tahun 1670, Santa Maria Margaretha Alacoque sebagai tokoh utama lahirnya tradisi Jumat Pertama yang menerima penampakan Yesus tahun 1673–1675, serta Paus Pius IX yang pada tahun 1856 menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus sebagai perayaan resmi Gereja Katolik. Tradisi Jumat Pertama dalam Katolik yang berasal dari devosi Hati Kudus Yesus sejak abad ke-11, diperkuat melalui penampakan kepada Maria Margaretha Alacoque, berpusat pada Komuni Kudus setiap Jumat pertama, dan menjadikan Kamis malam sebagai peringatan Hora Sancta atau Jam Suci, sementara dalam Islam tradisi Kamis malam Jumat diisi dengan persiapan menyambut hari terbaik dalam sepekan, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, membaca Al-Qur’an dan Surah Al-Kahfi, memperbanyak istighfar dan doa, serta menghidupkan malam dengan ibadah dan taubat. Dua tradisi dari dua agama yang berbeda, tetapi sama-sama berusaha meraih rahmat Tuhan di waktu yang penuh berkah.
Editor:Marjoko











