Suasana haru dan penuh perenungan menyelimuti Masjid At-Taqwa Jagalan pada Kamis malam (11/6/2026). Puluhan jamaah yang memadati area masjid tampak larut dalam tausiyah Ustadz Anang Abdul Malik yang mengupas perbandingan kadar keimanan antara umat di masa Rasulullah SAW dengan generasi modern yang serba digital. Dengan gaya ceramah yang sarat analogi dan menyentuh hati, sang ustadz membuka pengajian dengan mengutip sabda Nabi tentang keberuntungan dua golongan umat.
“Rasulullah bersabda, ‘Thuba li man raani wa amana bi, wa thuba li man lam yarani wa amana bi’. Beruntunglah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, dan sungguh beruntung orang yang tidak pernah melihatku namun mereka beriman kepadaku. Nah, kita yang hidup di akhir zaman ini harus meniru cara para sahabat dalam mencintai beliau,” ujar Ustadz Anang mengawali tausiyah.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan berat yang justru dihadapi umat masa kini meskipun secara fisik fasilitas hidup jauh lebih nyaman. Menurutnya, godaan dan kebingungan dalam menentukan kebenaran semakin kompleks. Ia mencontohkan kemudahan transportasi untuk beribadah yang kerap disalahartikan, hingga kemunculan kecerdasan buatan dan robot yang membuat manusia sulit membedakan mana yang asli dan mana yang buatan. “Jangan dikira tantangan sekarang ringan. Ini ujian besar bagi keimanan,” tegasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Ustadz Anang mengajak jamaah agar tidak berhenti pada iman turunan atau sekadar ikut-ikutan lingkungan. Ia menekankan perlunya peningkatan kualitas ke tingkat iman makrifat, yaitu iman yang didasari oleh kajian, ilmu, dan penelitian sungguh-sungguh. Dua dalil utama pun disitir untuk memperkuat pesan agar umat Islam selektif dan teliti dalam menerima informasi. Pertama, Surat Az-Zumar ayat 18: “(Yang) mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” Kedua, hadits riwayat Muslim: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristikamahlah (teguh pendirian).”
Di akhir ceramah, Ustadz Anang mengingatkan bahwa Allah tidak akan mewariskan pemahaman Al-Qur’an kepada orang yang malas berpikir. “Sehat fisik dan sehat akal adalah amanah. Pakailah untuk meneliti kebenaran,” pungkasnya, mengajak jamaah mensyukuri nikmat akal dan melatih empati sejak dini agar mampu membedakan yang hak dan batil di tengah derasnya arus informasi.
Editor:Marjoko











