Dalam kajian bertajuk “Konversi Energi dalam Perspektif Islam: Menghidupkan Lampu, Menjaga Bumi”, diulas bahwa aktivitas sehari-hari seperti menyalakan lampu hemat energi, mengendarai motor listrik, atau memasang panel surya ternyata memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Islam. Sering kali masyarakat memisahkan ilmu agama dan sains, padahal Islam memiliki pandangan visioner tentang pengelolaan alam.
Pertama, konsep khalifah dalam Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah pemimpin yang bertanggung jawab merawat bumi. Memanfaatkan energi matahari melalui panel surya atau energi angin melalui turbin merupakan bentuk nyata menjalankan amanah tersebut, karena tidak merusak alam seperti pembakaran batu bara yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Kedua, firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41 menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut disebabkan ulah manusia. Krisis iklim dan polusi akibat bahan bakar fosil adalah wujud fasad (kerusakan). Beralih ke energi bersih seperti air, angin, atau surya menjadi solusi konkret untuk menghentikan kerusakan ini, sekaligus menjalankan perintah agama.
Ketiga, prinsip tabzir (mubazir) dalam QS. Al-Isra ayat 27 mengingatkan bahwa pemboros adalah saudara setan. Dalam hukum termodinamika, konversi energi selalu menyisakan energi terbuang (entropi). Teknologi yang tidak efisien atau pemborosan listrik di rumah adalah bentuk tabzir. Sebaliknya, menggunakan lampu LED atau perangkat hemat energi mencerminkan penerapan anti-mubazir. Para ulama dan pakar mengajak umat untuk membawa semangat green energy ke kehidupan sehari-hari melalui langkah-langkah kecil yang bernilai ibadah, seperti memilih teknologi efisien, mendukung energi terbarukan, serta mengedukasi diri tentang asal listrik yang digunakan. Dengan memandang konversi energi sebagai amanah spiritual, setiap hemat energi dan inovasi teknologi bersih menjadi perwujudan iman, bukan sekadar tren lingkungan.
Editor:Marjoko













