Nilai tukar rupiah sering dianggap sekadar angka yang bergerak di layar bank atau pasar keuangan. Padahal, bagi rakyat biasa, rupiah yang kuat berarti harga kebutuhan pokok lebih stabil, biaya produksi lebih murah, lapangan kerja lebih terjaga, dan daya beli masyarakat meningkat. Karena itu, ketika membayangkan masa depan Indonesia, salah satu harapan terbesar adalah hadirnya pemimpin yang benar-benar berpihak kepada rakyat dan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Sejarah Indonesia pernah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berani mengambil keputusan sulit dapat mengubah keadaan. Salah satu contoh yang sering dibicarakan kembali adalah masa kepemimpinan Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie.
Dalam sebuah wawancara yang kembali viral belakangan ini, Habibie menjelaskan mengapa ia tidak memaksakan kelanjutan proyek pesawat N250 ketika Indonesia sedang berada dalam krisis ekonomi. Saat itu inflasi tinggi, suku bunga melonjak, rupiah terpuruk, PHK terjadi di mana-mana, dan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Habibie mengakui bahwa proyek pesawat merupakan impiannya, namun ia memilih mendahulukan penyelamatan ekonomi rakyat dibanding mempertahankan ambisi industri strategis tersebut. Menurutnya, kemenangan sejati bukanlah kemenangan pribadi, melainkan kemenangan rakyat.
Keputusan tersebut tidak mudah. Industri pesawat yang dibangunnya selama puluhan tahun mengalami penghentian dan ribuan tenaga ahli terdampak. Namun Habibie melihat bahwa dalam kondisi darurat nasional, stabilitas ekonomi harus menjadi prioritas utama.
Jika kita membayangkan Indonesia dipimpin oleh sosok yang benar-benar pro rakyat hari ini, maka penguatan rupiah tidak akan dilakukan melalui slogan atau pencitraan semata. Rupiah akan menguat karena adanya kepercayaan. Pasar, investor, pelaku usaha, dan masyarakat percaya bahwa pemerintah bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan kelompok tertentu.
Pelajaran dari Habibie menunjukkan bahwa kepercayaan adalah mata uang yang sama pentingnya dengan rupiah itu sendiri. Ketika Habibie memimpin di tengah krisis 1998, pemerintah melakukan restrukturisasi perbankan, memperkuat kelembagaan ekonomi, dan berupaya mengembalikan kepercayaan investor. Dalam waktu sekitar 17 bulan, rupiah yang sempat berada di kisaran Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS menguat hingga sekitar Rp6.500 per dolar AS. Pada saat yang sama, ekonomi yang sebelumnya terkontraksi mulai kembali tumbuh positif.
Bayangkan apabila Indonesia memiliki pemimpin yang konsisten menjalankan prinsip serupa dalam konteks masa kini.
Pertama, pemimpin tersebut akan memberantas korupsi secara nyata. Korupsi adalah pajak tak resmi yang dibayar rakyat setiap hari. Ketika kebocoran anggaran berkurang, dana negara dapat digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pertanian, dan infrastruktur produktif. Efisiensi ini akan memperkuat kepercayaan pasar terhadap Indonesia.
Kedua, pemerintah akan menciptakan kepastian hukum. Investor tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga kepastian. Ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, investasi akan meningkat, lapangan kerja bertambah, dan permintaan terhadap rupiah ikut naik.
Ketiga, fokus pembangunan akan diarahkan pada sektor produktif. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun nilai tambah terbesar tidak berasal dari menjual bahan mentah, melainkan dari mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Pemimpin pro rakyat akan memastikan bahwa industrialisasi menciptakan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya keuntungan bagi segelintir pihak.
Keempat, pemerintah akan menjaga ketahanan pangan dan energi. Negara yang terlalu bergantung pada impor rentan terhadap gejolak nilai tukar. Sebaliknya, semakin kuat produksi dalam negeri, semakin kuat pula fondasi rupiah.
Kelima, pendidikan dan teknologi akan menjadi investasi utama. Di sinilah warisan pemikiran Habibie menjadi sangat relevan. Habibie selalu percaya bahwa sumber daya manusia adalah aset terbesar bangsa. Negara yang menghasilkan ilmuwan, insinyur, dan inovator akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dalam ekonomi global.
Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan. Rupiah yang kuat bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat. Tidak ada gunanya rupiah menguat jika pengangguran tinggi, petani merugi, atau usaha kecil kesulitan berkembang. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya kurs mata uang, tetapi juga kualitas hidup masyarakat.
BJ Habibie pernah menunjukkan bahwa seorang pemimpin terkadang harus mengorbankan kebanggaan pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Ia rela melihat proyek yang sangat dicintainya dihentikan sementara demi menyelamatkan jutaan rakyat dari dampak krisis yang lebih parah. Sikap seperti inilah yang menjadi esensi kepemimpinan pro rakyat.
Jika Indonesia di masa depan dipimpin oleh sosok yang jujur, kompeten, berani mengambil keputusan sulit, dan selalu menempatkan rakyat sebagai prioritas utama, maka rupiah yang kuat bukanlah mimpi. Rupiah akan menguat karena ekonomi tumbuh sehat, investasi meningkat, industri berkembang, dan masyarakat percaya pada arah bangsa.
Pada akhirnya, kekuatan rupiah bukan hanya soal angka terhadap dolar. Kekuatan rupiah adalah cerminan kekuatan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya. Dan ketika pemimpin benar-benar bekerja untuk rakyat, maka yang menang bukan pemerintah, bukan elite, melainkan seluruh bangsa Indonesia.











