• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Dikejar Mati-Matian, Tapi Rezeki Justru Muncul di Sisi yang lain? Kisah Ibu Hajar yang Jarang Dipikirkan!

Marjoko oleh Marjoko
12 bulan yang lalu
in Opini
0
19
SHARES
44
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Kisah Ibu Hajar yang berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah, dadanya penuh kecemasan demi seteguk air untuk Ismail kecilnya yang kehausan, bukan sekadar ritual haji. Ia adalah alegori hidup yang menyentuh sendi terdalam perjuangan manusia. Kita melihat seorang ibu yang menguras seluruh tenaga dan harapan, berlari ke sana kemari, memindai cakrawala gersang, mencari sumber kehidupan. Namun, keajaiban justru tidak muncul dari arah larinya yang penuh kesungguhan itu. Air Zamzam menyembur deras dari tempat yang paling tak terduga: di bawah kaki Nabi Ismail yang hanya bisa menangis kehausan, tepat di tempat Ibu Hajar meninggalkannya dengan cinta untuk mencari pertolongan.

Di sinilah pelajaran yang seringkali luput, namun begitu dahsyat: Usaha kita yang maksimal, bahkan yang menguras habis tenaga dan pikiran, terkadang tidak langsung membuahkan rezeki untuk diri kita sendiri, melainkan menjadi saluran berkat yang dititipkan Allah kepada anggota keluarga kita. Ibu Hajar berlari dengan segenap jiwa raga. Ikhtiarnya tak diragukan lagi, sebuah simbol kesungguhan. Namun, rezeki air kehidupan itu tidak ia minum terlebih dahulu dari usaha larinya sendiri; ia diberikan untuk Ismail, anak yang ia cintai, yang ia jaga, yang menjadi alasan ia berlari.

Lihatlah kehidupan kita. Betapa sering kita, bagai Ibu Hajar modern, “berlari” tak kenal lelah? Kita kejar karir, kita kumpulkan harta, kita raih gelar, kita bangun bisnis, dengan keyakinan bahwa hasil jerih payah itu akan memuaskan dahaga kita sendiri. Kita pikir kebahagiaan, keamanan, dan keberhasilan itu harus datang langsung dari arah yang kita tuju dengan keringat dan darah. Lalu, ketika hasil tak kunjung sesuai harapan di titik “Shafa” atau “Marwah” yang kita tuju, rasa kecewa dan frustrasi pun menyergap. Kita merasa usaha sia-sia.

Related Post

Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026
MI Muhammadiyah Pasuruan gelar qurban Idul Adha untuk menanamkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi. (foto: Istimewa/pasmu.id)

MasyaAllah! MI Muhammadiyah Pasuruan Sembelih 5 Kambing Qurban, Siswa Belajar Ikhlas dan Peduli Sesama

29 Mei 2026

Masjid Al-Ukhuwah Himpun 6 Sapi dan 10 Kambing Qurban, Distribusikan Hampir 1.800 Kantong Daging

28 Mei 2026

Hari Raya Orang muslim melalui Takbir Idul Adha 1447 H/ 2026 M

27 Mei 2026

Namun, kisah Ibu Hajar mengajarkan kita untuk memperluas pandangan. Boleh jadi, usaha maksimal kita yang tampak “tidak berbuah” bagi diri sendiri, sebenarnya adalah bibit yang ditanam untuk tumbuh menjadi pohon rindang yang teduh bagi anak, istri, orang tua, atau saudara kita. Seorang ayah yang bekerja banting tulang siang malam, mungkin tak melihat kekayaan berlimpah di rekeningnya sendiri, tetapi usahanya itu memastikan anaknya bisa sekolah tinggi, istrinya hidup layak, orang tuanya terawat. Seorang ibu yang mengorbankan karier cemerlang untuk merawat keluarga, mungkin tak mendapat pujian dunia, tetapi curahan cinta dan pengorbanannya adalah “Zamzam” yang menyuburkan kehidupan anak-anaknya, membentuk karakter dan masa depan mereka. Usaha keras orang tua itulah “lari-lari kecil” mereka; sementara rezeki pendidikan, kesehatan, dan kebahagiaan keluarga itulah “air” yang muncul di “kaki Ismail” mereka.

Ini bukan berarti kita berpangku tangan. “Lari-lari kecil” Ibu Hajar tetap wajib. Ikhtiar adalah kewajiban. Kesungguhan adalah keharusan. Tawakal bukan berarti pasif, melainkan aktif berusaha dengan sepenuh hati sambil menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi. Kita harus berlari antara “Shafa” dan “Marwah” kehidupan kita – mengejar ilmu, bekerja keras, berjuang demi kebaikan. Namun, kita juga harus belajar melepaskan kendali atas bagaimana dan untuk siapa rezeki itu akhirnya dimanifestasikan.

Kisah Ibu Hajar dan Ismail adalah penghiburan sekaligus pencerahan. Ia menenangkan jiwa yang lelah karena usaha yang belum berbuah dengan harapan: “Bersabarlah, mungkin rezekimu sedang dititipkan pada orang yang kau cintai.” Ia juga membuka mata: Lihatlah di sekitar, di kaki “Ismail”-mu. Mungkin disanalah Zamzam kehidupanmu mengalir – dalam senyuman anak yang terdidik, dalam rasa aman istri yang tercukupi, dalam doa orang tua yang terawat. Usaha Hajar tak sia-sia, ia menjadi jalan bagi mukjizat terbesar bagi anaknya. Demikian pula, usaha maksimal kita, diiringi niat ikhlas dan tawakal, takkan pernah sia-sia. Rezeki itu pasti datang, hanya bentuk, waktu, dan penerima utamanya yang menjadi rahasia Ilahi. Tugas kita hanya satu: terus berlari dengan sungguh-sungguh seperti Ibu Hajar, sambil merawat “Ismail-Ismail” dalam hidup kita dengan penuh cinta, dan percaya bahwa Allah Maha Tahu di mana dan kepada siapa sebaik-baiknya rezeki itu dititipkan. Air Zamzam itu nyata, meski tak selalu muncul di ujung lari kita sendiri.

Pelajaran berikutnya adalah tentang tempat di mana rezeki itu tumbuh. Seringkali kita sibuk “berlari” di panggung luar yang ramai – kantor, proyek, pertemuan penting – mengira di sanalah sumber segala jawaban. Padahal, seperti Hajar yang meninggalkan Ismail dengan penjagaan penuh cinta, rezeki yang hakiki seringkali justru bersemi di tempat yang kita jaga dengan kelembutan dan pengorbanan: keluarga. Mungkin bukan bonus besar atau promosi jabatan yang menjadi rezeki utama, melainkan kesehatan anak, kebahagiaan pasangan, atau ketenangan orang tua yang kita rawat, yang bersumber dari jerih payah kita. Kesuksesan sejati mungkin tidak berteriak di panggung dunia, tetapi berbisik hangat di ruang keluarga yang penuh syukur.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: idul adhaislammuhammadiyah
Share8Tweet5Share1
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy and Hubby in every universe.

Related Posts

Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)
Opini

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

oleh Dary Yumna Joesi
1 Juni 2026
MI Muhammadiyah Pasuruan gelar qurban Idul Adha untuk menanamkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi. (foto: Istimewa/pasmu.id)
Kabar

MasyaAllah! MI Muhammadiyah Pasuruan Sembelih 5 Kambing Qurban, Siswa Belajar Ikhlas dan Peduli Sesama

oleh PasMu Media
29 Mei 2026
Kabar

Masjid Al-Ukhuwah Himpun 6 Sapi dan 10 Kambing Qurban, Distribusikan Hampir 1.800 Kantong Daging

oleh Yogi Arfan
28 Mei 2026
Next Post
Image PDPM Kota Pasuruan

Peduli Potensi Generasi Muda, PDPM Kota Pasuruan Sampaikan Aspirasi Ini ke Ketua DPRD

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

1 Juni 2026
Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan