• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
Pasmu
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Khutbah

Seni Jiwa Mengalah: Puncak Kemuliaan Orang Bertakwa

Suharsono oleh Suharsono
41 detik yang lalu
in Khutbah
0
Mengalah bukan kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang memenangkan cinta Allah dan kedamaian hakiki. (Foto: Suharsono/pasmu.id)

Mengalah bukan kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang memenangkan cinta Allah dan kedamaian hakiki. (Foto: Suharsono/pasmu.id)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Khotbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Sidang Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Related Post

Khutbah Jumat mengingatkan bahwa keikhlasan dan orientasi akhirat adalah kunci meraih keberkahan dunia yang hakiki. (Foto: Suharsono/pasmu.id)

Orientasi Akhirat dan Ikhlas: Kunci Meraih Dunia yang Berkah

3 Juli 2026
Ustadz Muhammad Taqiyyudin (Santri SPEAM) mengajak muhasabah diri, karena hisab akhirat pasti datang dan tak bisa ditawar. (foto: Firnas/pasmu.id)

Ustadz Muhammad Taqiyyudin Ajak Jamaah Rutinkan Muhasabah Diri Sebelum Hisab Akhirat

27 Juni 2026

Khutbah Jumat Dzulhijjah: Haji dan Qurban sebagai Pondasi Membangun Peradaban yang Adil dan Bermartabat

29 Mei 2026

Khutbah Idul Adha di Masjid Al Kautsar Pasuruan Tekankan Pencarian Ketuhanan dan Nilai Sosial Qurban

27 Mei 2026

Marilah kita tiada henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat, karunia, dan napas kehidupan yang masih diberikan kepada kita hingga detik ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Sebab, takwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadap Sang Pencipta.

Jemaah yang Dimuliakan Allah,

Dalam mengarungi samudra kehidupan bermasyarakat, kita sering kali dihadapkan pada gesekan kepentingan, perbedaan pendapat, hingga perselisihan. Di saat ego manusia meninggi, dunia kerap mendoktrin kita untuk selalu menjadi pemenang dengan cara apa pun. Seolah-olah, siapa yang menurunkan egonya, dialah pihak yang lemah.

Namun, Islam datang dengan konsep moral yang jauh lebih luhur. Islam mengenalkan kita pada sebuah seni jiwa yang luar biasa, yaitu “Mengalah”. Pijakan utama dari sifat mulia ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Ali ‘Imran ayat 134, ketika Allah menyifati karakteristik orang-orang yang bertakwa (muttaqin):

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Dalam ayat ini, dua pilar utama dari sifat mengalah disebutkan secara gamblang, yaitu: wal-kaadzimiinal ghaizha (menahan amarah) dan wal-‘aafiina ‘anin-naas (memaafkan manusia).

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Sering kali, syaitan membisikkan ke dalam hati kita bahwa mengalah adalah sebuah kehinaan. Di sinilah letak kekeliruan berpikir yang harus kita luruskan. Kita harus mampu membedakan dengan tegas: Apa bedanya mengalah dengan kalah?

Kalah adalah sebuah kondisi ketidakberdayaan. Seseorang dikatakan kalah ketika ia ingin melawan, ingin mempertahankan egonya, namun ia tidak memiliki kemampuan, kekuatan, atau argumen, sehingga ia terpaksa tunduk di bawah tekanan orang lain. Kalah melahirkan rasa dongkol, dendam, dan sesak di dada.

Mengalah, di sisi lain, bukanlah ketidakberdayaan. Mengalah adalah sebuah pilihan sadar yang diambil oleh orang yang sebenarnya kuat dan mampu untuk membalas. Ia memiliki kekuatan, ia memiliki argumen yang benar, ia bisa saja membalas pukulan dengan pukulan atau makian dengan makian, tetapi ia memilih untuk mengerem egonya demi kemaslahatan yang lebih besar. Ia menahan diri demi menjaga silaturahmi, demi kedamaian, dan yang paling utama, demi mengharap rida Allah SWT.

Rasulullah SAW menegaskan perbedaan ini dalam sebuah hadis sahih:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, mendominasi, dan menjatuhkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya (menahan egonya) ketika ia marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, orang yang mengalah sejatinya adalah pemenang sejati. Ia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya, yaitu pertempuran melawan hawa nafsu dan bisikan syaitan di dalam dadanya sendiri.

Jemaah yang Dirahmati Allah,

Merujuk pada Surat Ali ‘Imran ayat 134 tadi, setidaknya ada tiga hikmah mendalam yang terkandung di balik sikap mengalah:

Pertama: Mengangkat Derajat di Sisi Allah dan Manusia
Secara logika manusia, jika kita mengalah, kita mengorbankan harga diri. Namun, hukum Allah berlaku sebaliknya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang suka memaafkan dan mengalah, melainkan kemuliaan (di dunia dan akhirat).” (HR. Muslim). Orang yang mengalah justru akan disegani, dihormati, dan dicintai oleh sesama karena kelapangan dadanya.

Kedua: Menjaga Keharmonisan dan Memutus Rantai Permusuhan
Ketika ada api perselisihan, jika dibalas dengan api ego, maka yang terjadi adalah kebakaran besar. Mengalah adalah laksana air jernih yang menyiram api tersebut. Dengan mengalah, sebuah rumah tangga terselamatkan dari perceraian, sebuah organisasi tetap utuh, dan hubungan bertetangga tetap rukun. Mengalah mengubah musuh menjadi sahabat yang setia.

Ketiga: Meraih Predikat Ihsan dan Cinta Allah
Di akhir ayat 134 Surat Ali ‘Imran, Allah berfirman: Wallahu yuhibbul muhsiniin—”Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” Mengalah, menahan amarah, dan memaafkan adalah maqam (tingkatan) ibadah hati yang sangat tinggi. Ketika kita berhasil mencapainya, kita tidak hanya mendapatkan kedamaian di dunia, tetapi juga jaminan cinta dari Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita bawa ruh dari ayat ini ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Di rumah bersama keluarga, di tempat kerja bersama rekan, maupun di tengah-masyarakat. Mengalahlah bukan karena kita kalah, tapi karena kita menghargai kedamaian dan rida Allah di atas segalanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Amma ba’du, fayaa ‘ibaadallah…

Marilah kita merenungkan sekali lagi, bahwa dunia ini fana dan sementara. Segala perdebatan, perselisihan, dan perebutan gengsi yang sering kali membuat kita menguras energi, tidak akan kita bawa mati. Yang akan menemani kita di alam kubur adalah amal saleh kita, termasuk kelapangan hati kita untuk mengalah demi menjaga kedamaian dan ukhuwah.

Ingatlah janji Rasulullah SAW yang sangat indah bagi mereka yang mau mengalah:

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan (mengalah) meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud)

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat sombong, egois, dan keras kepala. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang luas, yang mampu menahan amarah, mudah memaafkan, dan bijaksana dalam mengalah.

Marilah kita akhiri khotbah ini dengan memohon ampunan dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Editor: Marjoko

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: Bertakwakhutbah
ShareTweetShare
Suharsono

Suharsono

Related Posts

Khutbah Jumat mengingatkan bahwa keikhlasan dan orientasi akhirat adalah kunci meraih keberkahan dunia yang hakiki. (Foto: Suharsono/pasmu.id)
Khutbah

Orientasi Akhirat dan Ikhlas: Kunci Meraih Dunia yang Berkah

oleh Suharsono
3 Juli 2026
Ustadz Muhammad Taqiyyudin (Santri SPEAM) mengajak muhasabah diri, karena hisab akhirat pasti datang dan tak bisa ditawar. (foto: Firnas/pasmu.id)
Khutbah

Ustadz Muhammad Taqiyyudin Ajak Jamaah Rutinkan Muhasabah Diri Sebelum Hisab Akhirat

oleh Firnas Muttaqin
27 Juni 2026
Haji mengajarkan kesetaraan, qurban menanamkan kepedulian; keduanya membangun peradaban Islam berkeadilan dan bermartabat. (foto: firnas/pasmu.id)
Khutbah

Khutbah Jumat Dzulhijjah: Haji dan Qurban sebagai Pondasi Membangun Peradaban yang Adil dan Bermartabat

oleh Firnas Muttaqin
29 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

MI Muhammadiyah dan TK ABA 1 Pasuruan melepas generasi berprestasi menuju masa depan gemilang.

MI Muhammadiyah dan TK ABA 1 Kota Pasuruan Melepas Generasi Berprestasi Menyongsong Masa Depan Gemilang

21 Juni 2026
Almarhumah Hj. Siti Fatimah

Duka Jamaah Perempuan Masjid Baiturrahman, Satu per Satu Ibu-Ibu Teladan Berpulang

9 Juli 2026

Satu Peristiwa, Ribuan Hikmah: Inilah Mengapa Hijrah Nabi Menjadi Awal Kalender Islam!

24 Juni 2025 - Updated On 25 Juni 2025
Milad ke-109 ‘Aisyiyah Panggungrejo menguatkan dakwah kesehatan melalui semangat hidup sehat tanpa obat. (foto: Firnas/pasmu.id)

Pengajian Milad ke-109 ‘Aisyiyah Panggungrejo: Meneguhkan Spirit Hidup Sehat Tanpa Obat

14 Juni 2026
Mengalah bukan kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang memenangkan cinta Allah dan kedamaian hakiki. (Foto: Suharsono/pasmu.id)

Seni Jiwa Mengalah: Puncak Kemuliaan Orang Bertakwa

10 Juli 2026
Kajian Masjid At-Taqwa: hijrah ke Habasyah karena penindasan Quraisy, Raja Najasi adil melindungi muslimin. (Foto: Firnas Muttaqin/pasmu.id)

Meneladani Keteguhan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah

10 Juli 2026

DWP RSUD dr. Soedarsono Kota Pasuruan Dukung PLAY Muharam Ceria 2026, Salurkan Bantuan Kaki Palsu untuk Penyandang Disabilitas

10 Juli 2026

Aisyiyah Kota Pasuruan Apresiasi PLAY Muharam Ceria Lazismu: Hadirkan Kebahagiaan bagi 50 Anak Yatim

10 Juli 2026
PasMu

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan