PASURUAN — TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 6 Kota Pasuruan menggelar kegiatan Smart Parenting bertajuk “Mendidik Anak dengan Cinta, Keteladanan, dan Nilai-Nilai Al-Qur’an” di Hall BJ Perdana Hotel, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan ini diikuti para wali murid sebagai peserta utama. Hadir sejumlah tokoh dan unsur pendidikan, di antaranya Ketua PDM Kota Pasuruan Ustaz Abu Nasir yang sekaligus menjadi narasumber utama, Ketua PCA Purworejo Royce Diana Sari, Ketua M PAUD Dasmen PDA Kota Pasuruan Ustazah Zainab, Pengawas TK Kecamatan Purworejo Dinas P & K Kota Pasuruan Rini Hidayati, serta Kepala SD MuCES Ustaz Suyatno.
Rangkaian acara dimulai dengan penampilan fashion show oleh ananda Khalisa Nasyauqi Ramadhani. Setelah itu, acara resmi dibuka oleh MC Chotamul Laili dan dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh dua murid TK ABA 6, Elmeera Nuwarra Hafizah dan Tanisha Zaara Mecca.
Para peserta kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama yang dipandu Nazilatur Rohmah. Doa untuk kelancaran dan keberkahan kegiatan dipimpin oleh Naili Munah.
Dalam sambutannya, Khairiri Daulah menyoroti perubahan pola pengasuhan antara generasi terdahulu dengan kondisi saat ini.
“Parenting era dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Dalam kesempatan kali ini kita akan mendapat pencerahan dan ilmu tentang parenting yang berlandaskan cinta, teladan, serta nilai-nilai Qur’an. Untuk itu, semoga para ayah bunda sekalian dapat mengikuti acara hingga selesai.”
Sementara itu, Ustazah Zainab dalam sambutannya memberikan apresiasi sekaligus doa atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Suasana kegiatan kemudian semakin semarak dengan penampilan Asmaul Husna yang dibawakan para murid TK ABA 6. Acara dilanjutkan dengan sambutan Rini Hidayati selaku Pengawas TK Kecamatan Purworejo Dinas P & K Kota Pasuruan.
Para wali murid juga mendapat selayang pandang mengenai SD MuCES yang disampaikan Ustaz Suyatno. Sebelum memasuki sesi utama, para murid TK ABA 6 kembali tampil melalui Tari Ayo Sholat.
Parenting Berbasis Al-Qur’an di Tengah Ancaman Dunia Digital

Memasuki acara inti, Ustaz Abu Nasir mengajak para wali murid melihat kembali pola pengasuhan anak yang relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada tuntunan Al-Qur’an.
Salah satu rujukan yang diangkat adalah kisah Luqman dalam mendidik anaknya. Menurutnya, nilai-nilai pendidikan dalam kisah tersebut tetap relevan untuk diterapkan orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan saat ini.
Tak sekadar menyampaikan materi, Ustaz Abu Nasir juga melibatkan para wali murid melalui permainan sederhana. Beberapa peserta diminta maju ke depan untuk mengikuti games yang berkaitan dengan kebiasaan anak-anak di rumah.
Dalam pemaparannya, ia juga mengangkat sejumlah gagasan dari buku Generasi Cemas (The Anxious Generation) karya psikolog sosial Jonathan Haidt. Buku tersebut membahas krisis kesehatan mental anak dan remaja yang berkaitan dengan dominasi ponsel pintar dan media sosial.
Ustaz Abu Nasir menyoroti perubahan pola masa kecil, dari yang sebelumnya lebih banyak dihabiskan melalui permainan dan interaksi di dunia nyata menjadi aktivitas yang semakin berbasis layar dan internet.
Dampaknya, menurut materi yang disampaikan, dapat terlihat dari berbagai persoalan seperti kurang tidur, penggunaan gawai yang berlebihan, rasa kesepian, hingga persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja.
Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah nyata dari orang tua, guru, dan sekolah untuk membangun batasan terhadap penggunaan teknologi sekaligus mengembalikan ruang interaksi sosial secara langsung.
Selain persoalan gawai, Ustaz Abu Nasir juga mengajak orang tua menanamkan kemandirian sejak dini.
Anak perlu dibiasakan memahami bahwa memperoleh sesuatu membutuhkan proses dan usaha. Orang tua tidak selalu harus memenuhi setiap keinginan anak.
Menurutnya, pola tersebut penting agar anak memiliki kesiapan menghadapi kehidupan nyata ketika dewasa. Anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan dapat langsung diperoleh dan tidak selamanya ada orang lain yang akan membantu memenuhi kebutuhannya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari konsep parenting yang tidak hanya berorientasi pada kasih sayang, tetapi juga keteladanan, batasan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter.
Selama kurang lebih 90 menit, sesi materi berlangsung interaktif. Sejumlah wali murid mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait persoalan parenting yang mereka hadapi di rumah.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijawab langsung oleh Ustaz Abu Nasir sehingga sesi parenting tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi juga menyentuh pengalaman keseharian para orang tua.
Kegiatan berakhir sekitar 10 menit sebelum waktu Zuhur. Sebelum meninggalkan lokasi, para peserta berfoto bersama Ustaz Abu Nasir dan jajaran guru TK ABA 6 Kota Pasuruan.
Melalui Smart Parenting ini, TK ABA 6 Kota Pasuruan tidak sekadar menggelar pertemuan antara sekolah dan wali murid. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi bahwa pendidikan anak merupakan proses bersama—antara keluarga dan sekolah—dengan cinta, keteladanan, serta nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pijakannya.














