Sekitar 48 jamaah Masjid Al-Muttaqin Perumahan Gading Permai, Gadingrejo, Kota Pasuruan, mengikuti agenda wisata religi dan tadabur alam ke Dieng dan Yogyakarta pada 12–13 September 2026.
Kegiatan tahunan tersebut tidak sekadar menjadi agenda rekreasi bersama. Jamaah juga menjadikan perjalanan ini sebagai ruang untuk memperkuat keimanan, mempererat silaturahmi, sekaligus belajar tentang pengelolaan masjid.
Salah satu agenda utama adalah kunjungan ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Di masjid yang dikenal dengan berbagai program pelayanan jamaah tersebut, rombongan mengikuti salat berjamaah Subuh dan kajian ba’da Subuh.
Ketua Takmir Masjid Al-Muttaqin, Ustaz Amin, mengatakan wisata religi tersebut memang menjadi agenda rutin tahunan jamaah. Selain tadabur alam, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi jamaah dalam mengembangkan kehidupan masjid.
“Wisata religi ini menjadi agenda rutin tahunan jamaah Masjid Al-Muttaqin Perumahan Gading Permai ke Dieng dan Yogyakarta dalam rangka tadabur alam, untuk semakin meningkatkan iman dan takwa, serta mempererat tali silaturahmi antarjamaah,” ujar Ustaz Amin dalam wawancara daring.
Khusus kunjungan ke Masjid Jogokariyan, salat Subuh berjamaah dan kajian ba’da Subuh menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan. Agenda tersebut sekaligus menggantikan kajian rutin Ahad ba’da Subuh yang biasanya digelar di Masjid Al-Muttaqin setiap Ahad kedua dan keempat.
Bagi jamaah Al-Muttaqin, kajian di Jogokariyan memberikan perspektif baru mengenai bagaimana takmir dapat membangun kemandirian dan mengoptimalkan potensi jamaah.

Salah satu materi yang menarik perhatian rombongan adalah strategi penggalangan dana dengan melibatkan jamaah yang memiliki kemampuan ekonomi dan kepedulian terhadap masjid.
Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa pendekatan kepada jamaah potensial tidak selalu harus dilakukan di lingkungan masjid. Kajian dapat digelar di tempat yang representatif dengan jamaah yang mengundang berasal dari kalangan jamaah masjid sendiri yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk berbagi.
Dari pendekatan tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui masjid.
Ustaz Amin menyebut, dalam kajian yang mereka ikuti, disampaikan bahwa takmir Masjid Jogokariyan pada momentum tertentu pernah menerima amanah zakat dan infak jamaah hingga mencapai sekitar Rp3,5 miliar dalam satu tahun.
“Pesan penting lainnya bahwa takmir masjid tidak boleh pasif, tetapi harus aktif dalam mengelola masjid. Baik dalam hal penggalangan dana, inovasi kegiatan, serta pelayanan kepada jamaah,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu catatan penting bagi rombongan Masjid Al-Muttaqin. Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan, pemberdayaan, dan penguatan hubungan sosial antarjamaah.
Selain berkunjung ke Masjid Jogokariyan, rombongan juga melakukan tadabur alam di kawasan Dieng dan sejumlah destinasi di Yogyakarta.
Perjalanan selama dua hari tersebut akhirnya menjadi kombinasi antara rekreasi, ibadah, silaturahmi, dan pembelajaran. Jamaah pulang bukan hanya membawa pengalaman perjalanan, tetapi juga gagasan baru untuk terus menghidupkan Masjid Al-Muttaqin melalui program dan pelayanan yang lebih aktif bagi jamaah.











