Jumat Berkah di Masjid Al-Ukhuwah, Sekargadung, Kota Pasuruan, kini hadir dua kali dalam sehari. Bukan hanya selepas Subuh, tetapi juga setelah salat Jumat.
Pada Jumat siang, puluhan nasi kotak atau nasi bungkus dibagikan kepada jamaah yang baru menunaikan salat Jumat. Menariknya, program tersebut tidak menggunakan kas masjid.
Puluhan nasi itu merupakan sedekah rutin dari salah seorang jamaah Masjid Al-Ukhuwah yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Setiap Jumat, ia menyisihkan rezekinya untuk menyediakan makanan bagi jamaah.
Inisiatif tersebut menjadi warna baru dalam gerakan pelayanan jamaah di Masjid Al-Ukhuwah. Sebelumnya, masjid ini telah memiliki program Jumat Berkah selepas Subuh dengan sasaran jamaah yang hadir pada waktu tersebut.
Kini, Jumat Berkah hadir dalam dua momentum: selepas Subuh dan selepas salat Jumat.
Fenomena ini menjadi menarik karena kebaikan tersebut muncul dari jamaah sendiri. Program-program pelayanan yang selama ini dibangun masjid seolah menemukan ekosistemnya: masjid menyediakan ruang untuk berbuat baik, sementara jamaah ikut mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Dari Sayur Berkah hingga NGOPI
Masjid Al-Ukhuwah memang tengah mengembangkan berbagai program yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas ibadah, tetapi juga membangun kedekatan dan kebersamaan antarjamaah.
Ada Sayur Berkah setiap Senin selepas Subuh. Kemudian Jumat Berkah selepas Subuh, kajian Ahad pagi yang dilanjutkan dengan ngopi bersama jamaah, serta Sarapan Bareng yang digelar sebulan sekali.
Untuk jamaah ibu-ibu, tersedia Tahsin Al-Qur’an setiap selepas Maghrib. Sementara anak-anak mendapatkan akses TPQ gratis.
Ada pula NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), sebuah kajian yang dikemas lebih santai dengan ngopi dan ngegrill bersama. Program ini dirancang berlangsung rutin setiap bulan.
Belum lama ini, Masjid Al-Ukhuwah juga menggelar Pelatihan Perawatan Jenazah. Program tersebut bahkan diwacanakan untuk dilaksanakan secara rutin setiap bulan atau beberapa bulan sekali.
Rangkaian program itu menunjukkan satu pola: masjid tidak hanya menjadi tempat datang untuk salat, lalu pulang. Ada upaya untuk membuat jamaah memiliki alasan lain untuk datang, bertemu, belajar, berbagi, dan merasa menjadi bagian dari komunitas.
Bahkan, beberapa pekan lalu, Masjid Al-Ukhuwah memberikan pengalaman berbeda kepada jamaah yang istiqamah dengan mengadakan perjalanan gratis ke vila di Kota Batu. Sekitar 50 jamaah mengikuti kegiatan tersebut.
Bagi Al-Ukhuwah, pelayanan jamaah menjadi salah satu cara untuk menghidupkan masjid.
Ketika Jamaah Ikut Berlomba dalam Kebaikan
Munculnya Jumat Berkah selepas salat Jumat dari seorang jamaah anonim menjadi contoh menarik dari efek yang ingin dibangun tersebut.
Tidak ada nama yang dipasang. Tidak ada publikasi mengenai siapa pemberinya. Yang terlihat hanyalah nasi-nasi yang berpindah tangan dari satu jamaah kepada jamaah lainnya.
Di titik ini, semangat fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—menemukan bentuk yang sederhana.
Masjid membuat program. Jamaah menikmati manfaatnya. Kemudian, sebagian jamaah terdorong untuk menghadirkan manfaat baru bagi jamaah lainnya.
Rantai kebaikan itu berjalan tanpa harus selalu bersumber dari kas masjid.
Belajar dari Jogokariyan, Bertumbuh Secara Bertahap
Dalam mengembangkan konsep pelayanan tersebut, Masjid Al-Ukhuwah secara terbuka menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai salah satu role model.
Model pengelolaan Masjid Jogokariyan dikenal luas karena menempatkan jamaah sebagai bagian penting dalam ekosistem pelayanan masjid, termasuk melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.
Al-Ukhuwah mencoba mengambil semangat tersebut dengan menyesuaikannya pada kondisi dan kemampuan masjid. Implementasinya pun masih dilakukan secara bertahap.
Tujuannya sederhana: membuat masjid semakin hidup, jamaah semakin dekat, dan anak-anak maupun generasi muda merasa bahwa masjid adalah tempat yang ramah untuk mereka.
Karena pada akhirnya, masjid yang ramai bukan hanya masjid yang banyak kegiatan.
Lebih dari itu, masjid adalah tempat ketika orang datang untuk beribadah, lalu menemukan alasan untuk kembali—karena merasa diterima, dilayani, dan menjadi bagian dari kebaikan bersama.











