PASURUAN – SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan menyiapkan sejumlah strategi menarik untuk menyambut Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2027. Panitia SPMB bersama jajaran guru SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan mengadakan rapat pada Jumat (30/10/2026). Mereka membahas berbagai program dan persiapan penerimaan siswa baru, termasuk strategi promosi hingga skema pembiayaan pendidikan yang lebih inklusif.
Dalam pembahasan strategi promosi, panitia berupaya menghadirkan konsep brosur SPMB yang berbeda dari biasanya. Salah satunya dengan menjadikan program ekstrakurikuler sebagai daya tarik utama melalui pendekatan visual yang lebih menonjol dan tidak monoton.
Sementara itu, dari sisi pembiayaan, sekolah menyiapkan sejumlah kemudahan, mulai dari potongan SPP dalam jumlah besar bagi siswa yatim, piatu, dan dhuafa.
Namun, ada satu gagasan yang cukup unik, yakni memberikan kesempatan kepada siswa untuk membayar SPP menggunakan komoditas hasil pertanian maupun perikanan. Nilai hasil bumi dan laut tersebut nantinya akan disesuaikan dengan besaran kewajiban pembayaran SPP.
Komoditas yang terkumpul kemudian akan didistribusikan atau dipasarkan melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan Amal Usaha ‘Aisyiyah (AUA) di Kota Pasuruan, termasuk ke sejumlah pasar tradisional. Salah satu panitia SPMB diketahui memiliki relasi yang dapat mendukung proses pemasaran tersebut.
Gagasan ini disampaikan Yogi Arfan dari PasMu Media sekaligus kader Pemuda Muhammadiyah yang turut diminta membantu persiapan SPMB SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan.
Menurut Yogi, Pasuruan memiliki potensi hasil bumi dan laut yang cukup melimpah. Terlebih, wilayah utara Kabupaten Pasuruan memiliki banyak masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Ia menilai, potensi tersebut dapat menjadi peluang untuk menghadirkan model pembiayaan pendidikan yang lebih dekat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Ide tersebut juga terinspirasi dari Universitas Maumere di Nusa Tenggara Timur yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membayar biaya kuliah menggunakan hasil bumi atau komoditas pertanian. Skema tersebut menjadi alternatif bagi mahasiswa dari keluarga petani, nelayan, maupun masyarakat dengan keterbatasan ekonomi agar tetap dapat mengakses pendidikan tinggi.
Ketua Panitia SPMB SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan, Helmi, menyambut positif gagasan tersebut. Bahkan, ide pembayaran SPP menggunakan hasil bumi dan laut itu langsung mendapat persetujuan pihak sekolah dalam rapat.
“Ide yang fresh dan menarik, mungkin baru pertama dan satu-satunya di Pasuruan. Dengan begitu, anak-anak yang berasal dari keluarga petani, nelayan, tidak perlu khawatir soal biaya SPP di SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan. Tapi tentu saja nanti kami akan memberikan syarat dan ketentuan yang masih akan kami godok,” ujar Helmi.
Meski demikian, mekanisme pelaksanaan program tersebut masih akan dibahas lebih lanjut, terutama menyangkut jenis komoditas yang diterima, penentuan harga, teknis penyerahan, hingga proses distribusinya.
Selain menghadirkan terobosan pembiayaan, panitia SPMB menargetkan penerimaan sebanyak 100 siswa baru. Untuk memperluas jangkauan promosi, pihak sekolah juga berencana melakukan audiensi sekaligus menjalin kerja sama dengan sejumlah pondok pesantren di wilayah Pasuruan Raya.
Tak hanya itu, SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan juga menyiapkan fasilitas kendaraan antarjemput bagi calon siswa yang tinggal jauh dari sekolah dan mengalami kendala transportasi.
Berbagai strategi tersebut menjadi bagian dari upaya SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menghadirkan layanan pendidikan yang lebih ramah terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Jika terealisasi, skema pembayaran SPP menggunakan hasil bumi dan laut ini bukan sekadar menjadi strategi penerimaan siswa baru. Lebih dari itu, gagasan tersebut berpotensi menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus ikhtiar agar keterbatasan finansial tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Pasuruan untuk memperoleh pendidikan.












