Pasuruan, 1 November 2026 Kajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom kembali menghadirkan pencerahan mendalam bagi para jemaah. Kali ini, Ust. H. Ansori, S.Pd. membawakan tausiah bertema “Pengadilan Allah“, yang menekankan pentingnya introspeksi diri (hisab diri) serta kewaspadaan terhadap dosa-dosa di era digital masa kini.
Mengawali kajian, Ust. Ansori mengingatkan bahwa pencatat amal manusia adalah Malaikat Rakib. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa menghitung dan mengevaluasi diri setiap hari sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT di akhirat.
“Sebelum kita dihisab di akhirat, alangkah baiknya kita menghisab diri kita sendiri,” ujar Ust. Ansori di hadapan para jemaah.
Dalam pemaparannya, beliau mengutip Surat Maryam ayat 95 dan Surat Ghafir ayat 17. Jemaah diajak untuk tidak sombong atas kekayaan, jabatan, atau popularitas yang dimiliki. Sebagai teladan, beliau menceritakan kisah seorang pengusaha batik di Jawa Tengah yang gemar berinfak dan menyalurkan hartanya ke masjid, panti asuhan, serta pondok pesantren.
Ketika ditanya mengapa hartanya diberikan begitu saja, pengusaha tersebut menjawab bahwa ia tidak sedang memberi, melainkan menitipkan hartanya agar kembali kelak di akhirat.
Melalui Surat Ghafir ayat 17, Ust. Ansori menegaskan bahwa pada hari kiamat kelak, setiap jiwa akan menerima balasan yang seadil-adilnya tanpa ada kezhaliman sedikit pun, dan Allah SWT Maha Cepat dalam perhitungannya.
Salah satu poin krusial yang disoroti dalam kajian ini adalah bahaya dosa modern akibat penggunaan gawai atau gadget. Ust. Ansori mengingatkan para jemaah, khususnya generasi muda, agar berhati-hati dengan jejak digital.
“Jemari tangan kita tidak hanya berpotensi berbuat salah secara fisik, tetapi melalui gawai, kita sering kali menerima kiriman informasi atau video dan langsung membagikannya tanpa disaring terlebih dahulu. Padahal, jejak digital ini bisa menjadi saksi dan sumber kezaliman antarsesama,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya kelak akan berbicara di hadapan Allah SWT untuk bersaksi atas apa yang diperbuat selama di dunia.
Mengutip hadis riwayat Muslim, Ust. Ansori mengingatkan jemaah tentang fenomena orang yang “bangkrut” di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang datang dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun semasa hidupnya gemar memfitnah, menuduh, mencaci, memakan harta orang lain, serta menzalimi sesama.
Akibat perbuatan tersebut, pahala amal ibadah mereka ludes dan dialihkan kepada orang-orang yang pernah mereka zalimi.
Menutup kajian, Ust. Ansori mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan diri: apakah rezeki yang dibawa pulang ke rumah sudah murni dari jalan yang halal, serta apakah tangan dan langkah kaki kita hari ini lebih banyak menyeret kita menuju surga atau justru sebaliknya. Kajian ditutup dengan doa bersama agar setiap jemaah senantiasa dilimpahkan keikhlasan dalam beramal hanya karena Allah SWT.













