• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
Pasmu
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Mencari “Rocky Gerung 2.0”: Oposisi adalah Penyeimbang Negara, Bukan Musuh Pemerintah

Marjoko oleh Marjoko
11 menit yang lalu
in Opini
0
Mencari Rocky Gerung 2.0: ruang kritik harus tetap terbuka; oposisi menyeimbangkan negara, bukan membenci pemerintah(ilustrasiby ai)

Mencari Rocky Gerung 2.0: ruang kritik harus tetap terbuka; oposisi menyeimbangkan negara, bukan membenci pemerintah

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026 menjadi “plot twist” yang mengguncang panggung politik nasional. Selama bertahun-tahun, sosoknya lekat sebagai pengkritik paling lantang di era Jokowi, namun kini justru duduk di lingkar kekuasaan. Publik pun bertanya-tanya: siapa yang akan mengisi ruang kritik yang kini lowong? Apakah ada “Rocky Gerung 2.0”?

Jawabannya tidak sesederhana mencari sosok dengan gaya retorika yang sama. Fenomena “Rocky Gerung 2.0” sejatinya adalah panggilan zaman bagi lahirnya generasi baru intelektual publik yang lebih sistematis, berbasis data, dan konstitusional. Ruang kritik tidak hilang; ia sedang bertransformasi. Namun, sebelum membahas siapa yang harus mengisi ruang itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa oposisi dan kritik sebenarnya dibutuhkan? Dan mengapa kritik tidak boleh dimaknai sebagai bentuk kebencian terhadap pemerintah?

Oposisi sebagai Penyeimbang, Bukan Lawan

Dalam sistem demokrasi, keberadaan oposisi bukanlah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Oposisi berfungsi sebagai mekanisme check and balances yang memastikan kekuasaan tidak berjalan tanpa kendali. Wakil Ketua MPR RI pernah menegaskan bahwa meskipun konstitusi Indonesia tidak secara eksplisit mengatur soal oposisi, kehadiran kelompok di luar koalisi pemerintah turut berkontribusi menyeimbangkan demokrasi agar tetap berada dalam koridor Pancasila dan UUD 1945 . Bahkan dengan jumlah suara yang sedikit, oposisi terbukti mampu mencegah kebijakan bermasalah, seperti penolakan terhadap RUU Haluan Ideologi Pancasila dan penarikan Perpres Investasi Miras setelah kritik keras dari parlemen dan masyarakat.

Related Post

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia Dunia teknologi kembali diguncang. Kali ini bukan karena kemampuan AI menulis artikel, membuat gambar, atau membantu pemrograman, melainkan karena munculnya model kecerdasan buatan yang dinilai memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang keamanan siber. Model tersebut adalah Claude Mythos, yang dikembangkan oleh Anthropic. Kemampuannya bahkan membuat International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global. Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum dimanfaatkan oleh peretas. Dalam pengujian internal, model ini mampu menemukan ribuan celah keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama di dunia. Namun, kemampuan tersebut juga berarti bahwa jika jatuh ke tangan yang salah, AI ini berpotensi digunakan untuk melakukan serangan siber berskala besar. AI yang Terlalu Pintar untuk Dilepas ke Publik Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya, Claude Mythos tidak langsung dirilis secara luas. Anthropic justru membatasi akses hanya kepada sejumlah organisasi terpercaya melalui program Project Glasswing. Langkah tersebut diambil karena perusahaan menyadari kemampuan model ini dapat digunakan bukan hanya untuk memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi kerentanannya. Di antara mitra awal yang mendapat akses terbatas adalah perusahaan teknologi dan lembaga besar seperti Amazon, Apple, Cisco, Nvidia, dan JPMorgan Chase. IMF: "Waktu Bukan Lagi Teman Kita" Kekhawatiran terbesar datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva. Dalam wawancara dengan CBS News, Georgieva mengatakan bahwa dunia belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi sistem moneter internasional dari ancaman siber yang diperkuat AI. Ia bahkan mengingatkan bahwa "time is not our friend" atau "waktu bukan lagi teman kita", menandakan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pertahanan global. Ancaman terhadap Perbankan Global IMF menilai serangan siber berbasis AI tidak hanya berpotensi mencuri data atau melumpuhkan server. Dalam skenario terburuk, serangan terhadap bank-bank besar dapat menyebabkan: 1. gangguan sistem pembayaran internasional, 2. kepanikan nasabah, 3. tekanan likuiditas, 4. gangguan transaksi lintas negara, 5. bahkan mengancam stabilitas lembaga keuangan yang dianggap "terlalu besar untuk gagal" (too big to fail). Inilah sebabnya isu keamanan AI kini tidak lagi dipandang sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi isu stabilitas ekonomi global. Sampai Bank Sentral Turun Tangan Besarnya ancaman tersebut membuat pejabat tinggi Amerika Serikat menggelar pertemuan tertutup bersama para pemimpin bank-bank besar untuk membahas risiko Claude Mythos. Laporan CBS News menyebut Ketua Federal Reserve dan pejabat Departemen Keuangan AS bertemu dengan sejumlah CEO bank guna membahas kesiapan menghadapi ancaman AI generasi baru. Ironisnya, Model Ini Sempat Diretas Di tengah upaya pembatasan akses, Anthropic kemudian mengonfirmasi adanya dugaan akses tidak sah terhadap lingkungan vendor pihak ketiga yang berkaitan dengan Mythos. Perusahaan menyatakan investigasi dilakukan dan belum menemukan bukti bahwa sistem inti Anthropic ikut disusupi. Peristiwa tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa model AI dengan kemampuan luar biasa pun tetap memiliki risiko kebocoran. Pelajaran bagi Dunia Kasus Claude Mythos menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya dunia khawatir AI menggantikan pekerjaan manusia, kini kekhawatiran bergeser ke kemungkinan AI digunakan sebagai senjata siber yang mampu mempercepat serangan terhadap infrastruktur vital. Bagi regulator seperti IMF, tantangannya bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi AI tidak berubah menjadi ancaman bagi sistem keuangan dunia. Claude Mythos pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, perlombaan bukan hanya soal menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan juga membangun sistem keamanan yang mampu mengimbanginya. (Ilustrasi: AI)

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia

11 Juli 2026
Umat Islam harus bijak bermedia digital, tabayyun, dan jadikan AI untuk dakwah, bukan fitnah. (foto: Firnas/pasmu.id)

Masjid At Taqwa, Kota Jagalan Peluang Dakwah di Era Artificial Intelligence (AI)

5 Juni 2026

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

28 Mei 2026

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

4 Mei 2026

Anggota DPR RI Azis Subekti mengingatkan bahwa pemerintah dan masyarakat sipil berasal dari sumber legitimasi yang sama, yaitu kedaulatan rakyat. Keduanya harus menjaga demokrasi agar tidak berubah menjadi kompetisi saling mencurigai. Dalam kerangka ini, oposisi bukanlah entitas asing yang harus dimusuhi, melainkan bagian integral dari ekosistem demokrasi yang sehat. Tanpa oposisi yang efektif, parlemen berisiko hanya menjadi stempel kekuasaan, dan fungsi pengawasan legislatif tidak akan berjalan sesuai harapan .

Presiden Prabowo Subianto sendiri pernah menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. “Kita menghormati kritik. Kritik adalah penting. Kita butuh kritik untuk mengingatkan kita. Kita butuh kritik untuk memperbaiki diri kita,” ujarnya di hadapan ribuan anggota Polri pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 . Pernyataan ini secara implisit mengakui bahwa kritik bukanlah ancaman, melainkan alat evaluasi yang membantu pemerintah memperbaiki kebijakan.

Kritik Bukan Berarti Benci

Sayangnya, di ruang publik Indonesia, kritik sering kali dipersempit maknanya menjadi bentuk permusuhan atau ketidaksukaan terhadap pemerintah. Padahal, kritik yang sehat memiliki batas yang jelas dengan ujaran kebencian. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 282/PUU-XXIII/2025 telah membatalkan Pasal 240 dan 241 KUHP tentang penghinaan terhadap pemerintah atau lembaga negara. Salah satu pertimbangan pentingnya: lembaga negara tidak memiliki perasaan untuk dilindungi dari penghinaan. Kewibawaan lembaga negara tidak semestinya dibangun melalui ketakutan warga untuk berbicara, melainkan melalui integritas, akuntabilitas, dan kinerja.

Putusan MK ini menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan, kinerja, maupun tindakan lembaga pemerintahan adalah bagian dari kontrol sosial yang dilindungi hukum dan konstitusi. Kritik yang disampaikan dengan argumentasi, data, dan kepatuhan terhadap konstitusi justru merupakan wujud kepedulian terhadap bangsa dan negara. Sebaliknya, kritik yang berubah menjadi serangan personal, hoaks, atau ujaran kebencian, itulah yang melampaui batas dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum .

Dewan Pers bahkan menegaskan bahwa jurnalisme kritis tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Kritik merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi untuk memastikan kekuasaan tetap berjalan sesuai koridornya. Tanpa sikap kritis, pers akan kehilangan fungsi utamanya sebagai pengawas kebijakan publik. Ini menunjukkan bahwa kritik bukanlah monopoli kelompok oposisi, melainkan hak seluruh warga negara yang dijamin konstitusi.

Mengapa Ruang Kritik Harus Tetap Terbuka

Kehadiran figur oposisi yang vokal dan independen adalah oksigen demokrasi. Tanpa penyeimbang, kekuasaan cenderung anti-kritik dan rentan menyalahgunakan wewenang. Lord Acton pernah mengingatkan: power tends to corrupt, absolute power tends to corrupt absolutely. Kekuasaan yang tidak diawasi, sekecil apa pun, selalu memiliki potensi untuk menyimpang.

Sayangnya, ruang oposisi di Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak tokoh kritis yang justru dilaporkan ke polisi karena menyuarakan pendapat. Komnas HAM mencatat 73 aduan terkait kebebasan berekspresi dan berpendapat selama periode Januari 2020 hingga Februari 2024, dengan 11 di antaranya terkait dugaan kriminalisasi akibat kritik . Kondisi ini menciptakan chilling effect, warga memilih diam karena takut dipidana, bukan karena tidak ada yang perlu dikritik. Padahal, dalam demokrasi, rasa takut untuk berbicara adalah tanda bahaya yang harus segera diatasi.

Meski Rocky Gerung menegaskan sikapnya tetap “radical break” dan hanya “pindah dari luar ke dalam”, publik tetap skeptis. Sebab, kritik dari dalam kekuasaan selalu menghadapi godaan yang berbeda: akses, fasilitas, kedekatan, dan kenyamanan. Ukuran independensi bukan lagi seberapa keras suara, melainkan seberapa berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar penguasa. Ketika satu per satu suara kritis ditarik ke dalam lingkar kekuasaan, pertanyaannya bukan lagi “siapa Rocky Gerung berikutnya”, melainkan “apakah ruang kritik masih mendapat tempat di negeri ini?”

Penutup: Kritik adalah Napas Demokrasi

Mencari “Rocky Gerung 2.0” sebenarnya bukan tentang menggantikan satu sosok dengan sosok lain. Ini tentang memastikan ekosistem demokrasi tetap hidup dengan pluralitas suara kritis yang datang dari berbagai latar belakang: hukum, ekonomi, pertahanan, dan politik. Yang kita butuhkan bukan satu figur kharismatik, melainkan kesadaran kolektif bahwa kritik adalah hak dan kewajiban setiap warga negara.

Rocky Gerung mungkin telah “pindah dari luar ke dalam”, tetapi ruang kritik tidak boleh ikut pindah ke dalam Istana. Justru, ruang itu harus semakin lebar dan terbuka bagi siapa pun yang berani bersuara dengan argumen, data, dan integritas. Sebab, kritik bukanlah dosa; ia adalah napas demokrasi yang memastikan kekuasaan tetap berada di jalur konstitusi. Oposisi bukanlah musuh negara; ia adalah cermin yang memantulkan apakah kekuasaan masih berpihak kepada rakyat atau telah berpaling kepada dirinya sendiri.

Ketika pemerintah memandang setiap kritik sebagai ancaman, kekuasaan mulai kehilangan kebijaksanaan. Sebaliknya, ketika setiap kebijakan pemerintah selalu dicurigai tanpa dasar, ruang publik perlahan kehilangan rasionalitasnya . Keseimbangan itulah yang harus dijaga: kritik yang berbasis data dan argumentasi, serta pemerintah yang cukup bijak untuk mendengarkan. Tanpa keduanya, demokrasi hanya menjadi kata tanpa makna.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: AIMencariRockyGerung2RockyGerung2.0
ShareTweetShare
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy and Hubby in every universe.

Related Posts

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia Dunia teknologi kembali diguncang. Kali ini bukan karena kemampuan AI menulis artikel, membuat gambar, atau membantu pemrograman, melainkan karena munculnya model kecerdasan buatan yang dinilai memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang keamanan siber. Model tersebut adalah Claude Mythos, yang dikembangkan oleh Anthropic. Kemampuannya bahkan membuat International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global. Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum dimanfaatkan oleh peretas. Dalam pengujian internal, model ini mampu menemukan ribuan celah keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama di dunia. Namun, kemampuan tersebut juga berarti bahwa jika jatuh ke tangan yang salah, AI ini berpotensi digunakan untuk melakukan serangan siber berskala besar. AI yang Terlalu Pintar untuk Dilepas ke Publik Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya, Claude Mythos tidak langsung dirilis secara luas. Anthropic justru membatasi akses hanya kepada sejumlah organisasi terpercaya melalui program Project Glasswing. Langkah tersebut diambil karena perusahaan menyadari kemampuan model ini dapat digunakan bukan hanya untuk memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi kerentanannya. Di antara mitra awal yang mendapat akses terbatas adalah perusahaan teknologi dan lembaga besar seperti Amazon, Apple, Cisco, Nvidia, dan JPMorgan Chase. IMF: "Waktu Bukan Lagi Teman Kita" Kekhawatiran terbesar datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva. Dalam wawancara dengan CBS News, Georgieva mengatakan bahwa dunia belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi sistem moneter internasional dari ancaman siber yang diperkuat AI. Ia bahkan mengingatkan bahwa "time is not our friend" atau "waktu bukan lagi teman kita", menandakan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pertahanan global. Ancaman terhadap Perbankan Global IMF menilai serangan siber berbasis AI tidak hanya berpotensi mencuri data atau melumpuhkan server. Dalam skenario terburuk, serangan terhadap bank-bank besar dapat menyebabkan: 1. gangguan sistem pembayaran internasional, 2. kepanikan nasabah, 3. tekanan likuiditas, 4. gangguan transaksi lintas negara, 5. bahkan mengancam stabilitas lembaga keuangan yang dianggap "terlalu besar untuk gagal" (too big to fail). Inilah sebabnya isu keamanan AI kini tidak lagi dipandang sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi isu stabilitas ekonomi global. Sampai Bank Sentral Turun Tangan Besarnya ancaman tersebut membuat pejabat tinggi Amerika Serikat menggelar pertemuan tertutup bersama para pemimpin bank-bank besar untuk membahas risiko Claude Mythos. Laporan CBS News menyebut Ketua Federal Reserve dan pejabat Departemen Keuangan AS bertemu dengan sejumlah CEO bank guna membahas kesiapan menghadapi ancaman AI generasi baru. Ironisnya, Model Ini Sempat Diretas Di tengah upaya pembatasan akses, Anthropic kemudian mengonfirmasi adanya dugaan akses tidak sah terhadap lingkungan vendor pihak ketiga yang berkaitan dengan Mythos. Perusahaan menyatakan investigasi dilakukan dan belum menemukan bukti bahwa sistem inti Anthropic ikut disusupi. Peristiwa tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa model AI dengan kemampuan luar biasa pun tetap memiliki risiko kebocoran. Pelajaran bagi Dunia Kasus Claude Mythos menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya dunia khawatir AI menggantikan pekerjaan manusia, kini kekhawatiran bergeser ke kemungkinan AI digunakan sebagai senjata siber yang mampu mempercepat serangan terhadap infrastruktur vital. Bagi regulator seperti IMF, tantangannya bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi AI tidak berubah menjadi ancaman bagi sistem keuangan dunia. Claude Mythos pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, perlombaan bukan hanya soal menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan juga membangun sistem keamanan yang mampu mengimbanginya. (Ilustrasi: AI)
Opini

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia

oleh Firnas Muttaqin
11 Juli 2026
Umat Islam harus bijak bermedia digital, tabayyun, dan jadikan AI untuk dakwah, bukan fitnah. (foto: Firnas/pasmu.id)
Khutbah

Masjid At Taqwa, Kota Jagalan Peluang Dakwah di Era Artificial Intelligence (AI)

oleh Firnas Muttaqin
5 Juni 2026
Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)
Opini

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

oleh Dary Yumna Joesi
28 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo bersama Ibunda hadir di nobar film Istimewa SD Al Kautsar

Siswa Kelas 1 dan 2 SD Al Kautsar Kota Pasuruan Nobar Film Istimewa, Wali Kota dan Bunda Wali Kota Turut Hadir

6 Oktober 2026
Edu Trip KB-TK ABA 6 Kota Pasuruan ke P3GI/Pasmu

Serunya Edu Trip KB-TK ABA 6 Kota Pasuruan, dari Museum hingga Kebun Tebu P3GI

22 Oktober 2026

Satu Peristiwa, Ribuan Hikmah: Inilah Mengapa Hijrah Nabi Menjadi Awal Kalender Islam!

24 Juni 2025 - Updated On 25 Juni 2025

Peringati Milad ke-29, IGABA Kota Pasuruan Gelar Jalan Sehat hingga Senam Bersama

26 Oktober 2026
Mencari Rocky Gerung 2.0: ruang kritik harus tetap terbuka; oposisi menyeimbangkan negara, bukan membenci pemerintah(ilustrasiby ai)

Mencari “Rocky Gerung 2.0”: Oposisi adalah Penyeimbang Negara, Bukan Musuh Pemerintah

27 Oktober 2026

PCIM Hungaria Tadabbur Alam ke Lillafüred, Satukan Warga Muhammadiyah dan Komunitas Internasional

26 Oktober 2026

Peringati Milad ke-29, IGABA Kota Pasuruan Gelar Jalan Sehat hingga Senam Bersama

26 Oktober 2026
Siswa kelas VI SD Al Kautsar mengikuti PLK di Mega Science Center Jatim Park 1, Batu

Siswa Kelas VI SD Al Kautsar Jelajahi Dunia Sains dan Budaya melalui Pendidikan Luar Kelas di Jatim Park 1

23 Oktober 2026
PasMu

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan