Surabaya, 5 November — Pemateri Prof. Dr. Zainuri menyampaikan kajian tentang ijtihad dan takdir dalam Muhammadiyah pada Munas XXXIII Tarjih di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSura), Jumat 6 November 2026. Kedua tema tersebut menjadi objek kajian dan rumusan keputusan yang dikeluarkan berdasarkan pokok ajaran Islam itu sendiri.
Dalam paparannya, Prof. Zainuri menegaskan bahwa ijtihad dan ikhtiar merupakan upaya dalam rangka membersihkan Islam dari pengaruh ajaran yang menyimpang. Pembersihan Islam memiliki makna yang sangat luas, termasuk di dalamnya bagi pengikut Muhammadiyah, yakni pemberantasan khurafat, tahayul, dan bidah.
“Reformasi ajaran Islam menggunakan akal karena akal akan membedakan mana yang utama. Akal menjadi instrumen penting dalam memahami sumber-sumber pokok Islam dan menjadi alat penting dalam pembaharuan,” ujarnya.
Prof. Zainuri menjelaskan bahwa pemahaman tersebut lahir karena tingkat pendidikan umat dan pengaruh pemikiran Muhammad Abduh yang diadopsi Muhammadiyah. Pembaruan dan pembersihan itu muncul dalam pemberantasan praktik khurafat dan tahayul. Karena itulah Ahmad Dahlan sesungguhnya menegaskan misi pembaharuan Muhammadiyah, meski tidak pernah menyebut dirinya sebagai gerakan modernisasi.
“Gerakan modernisasi itu baru akhir-akhir ini saja kemudian berani dicantumkan sebagai gerakan. Indikasi dan karakteristik yang diajarkan Muhammadiyah adalah orang-orang yang modern. Itu ada pada Ahmad Dahlan, pemberantasan bidah, tetapi bukan merupakan agenda utama,” jelasnya.
Prof. Zainuri juga menyinggung strategi sosialisasi agama Muhammadiyah kepada masyarakat yang tidak hanya terbatas pada pemerintah. Menurutnya, proses pembelajaran terjadi melalui komunikasi dan interaksi langsung di masyarakat, termasuk pengalaman masa kecilnya pada tahun 1950-an yang menunjukkan bagaimana dakwah Muhammadiyah berjalan melalui pendidikan dan interaksi sosial.
“Pembahasan Muhammadiyah tentang purifikasi dalam arti pemberantasan bidah dan khurafat itu ditutupi oleh program pendidikan yang cukup untuk masyarakat. Kenapa tidak disampaikan? Karena orang Muhammadiyah punya mobilitas sering pergi ke sana kemari, sehingga berpengalaman,” tuturnya.
Ia juga mengaitkan karakter pedagang dengan komunitas modern. Menurutnya, pedagang memiliki mobilitas meninggalkan kampungnya untuk menjajakan barang dagangan, sehingga tumbuh menjadi komunitas modern. Hal ini sejalan dengan tesis yang menyebut modernisasi di Barat dibawa oleh kaum pedagang yang melahirkan gerakan Protestan, sementara di Indonesia gerakan pembaruan terkait dengan masalah sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
Prof. Zainuri menekankan pentingnya kedisiplinan waktu sebagai cerminan karakter modern, seperti memulai rapat tepat waktu sesuai undangan. Ia juga menegaskan bahwa antara modifikasi dan modernisasi itulah makna yang sesungguhnya dilakukan Muhammadiyah.
“Kedua, dari agama yang diyakini sebagai agama universal, perilaku sepanjang masa sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad sampai akhir zaman nanti, menembus batas geografis, tidak hanya untuk orang Arab tetapi untuk semuanya,” pungkasnya.
Kajian ini diharapkan memperkaya pemahaman peserta Munas tentang ijtihad dan takdir dalam perspektif Muhammadiyah, sekaligus memperkuat semangat pembaruan dan purifikasi ajaran Islam yang berkemajuan.












