Ada satu pola yang selalu berulang setiap kali dua hal besar hadir bersamaan: manusia gemar membanding-bandingkan, seolah-olah keunggulan satu pihak hanya bisa dibuktikan dengan menjatuhkan pihak lain. Pola ini bukan sesuatu yang baru, dan bukan pula sesuatu yang eksklusif milik dunia olahraga atau keagamaan. Ia muncul di mana pun ada dua entitas besar yang berjalan berdampingan dalam bidang yang sama: dua merek ponsel, dua klub sepak bola sekota, dua partai politik, bahkan dua kakak-beradik yang sama-sama berprestasi. Otak manusia rupanya lebih nyaman dengan narasi “salah satu harus menang” ketimbang menerima kenyataan bahwa dua hal bisa sama-sama unggul, hanya dengan jalan yang berbeda.
Lihat saja perdebatan Ronaldo vs Messi. Sudah belasan tahun, tapi tak pernah benar-benar selesai. Fans Ronaldo membanggakan kerja keras, disiplin fisik, dan mentalitas juara yang luar biasa. Fans Messi membanggakan bakat alami, visi bermain, dan sentuhan magis yang jarang ditemukan sekali dalam satu generasi. Keduanya benar. Keduanya GOAT (Greatest of All Time) dengan caranya masing-masing. Tapi anehnya, di media sosial, mengakui satu nama sering dianggap sebagai penghinaan terhadap nama yang lain.
Pola yang sama, dengan kadar yang jauh lebih sensitif, kadang muncul dalam relasi antara pengikut Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Dua Organisasi, Satu Tujuan Besar
NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang usianya bahkan lebih tua dari negara ini sendiri. Keduanya lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana umat Islam bisa maju, terdidik, dan berkontribusi bagi bangsa.
Muhammadiyah dikenal dengan pendekatan modernis, jaringan pendidikan dan rumah sakitnya yang tersebar hingga ke pelosok, serta semangat purifikasi ajaran yang rapi dan sistematis. NU dikenal dengan pendekatan tradisionalis yang mengakar kuat di pesantren-pesantren, kekayaan tradisi keilmuan klasik, dan kemampuannya merawat keberagaman budaya lokal tanpa kehilangan esensi keislaman.
Keduanya sama-sama mendirikan sekolah saat pendidikan masih langka. Keduanya sama-sama mendirikan rumah sakit saat akses kesehatan masih timpang. Keduanya sama-sama berjuang dalam kemerdekaan, sama-sama menjaga NKRI dari ancaman disintegrasi, dan sama-sama menjadi benteng moderasi beragama di tengah gempuran paham-paham yang lebih keras dan eksklusif.
Kalau boleh meminjam istilah sepak bola: NU dan Muhammadiyah sama-sama GOAT, hanya dengan gaya bermain yang berbeda.
Menariknya, sejarah mencatat bahwa kedua organisasi ini justru lahir dan berkembang berdampingan, saling mengisi kekosongan yang tidak bisa dijangkau oleh yang lain. Di daerah-daerah yang kental dengan tradisi pesantren, NU hadir dengan pendekatan yang membumi. Di daerah-daerah perkotaan yang membutuhkan sistem pendidikan modern secara cepat, Muhammadiyah hadir dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Dua-duanya sama-sama dibutuhkan, dan sejarah membuktikan bahwa Indonesia justru diuntungkan karena memiliki keduanya, bukan hanya salah satunya.
Fanatisme Itu Wajar, Tapi Jangan Berubah Jadi Sekat
Yang perlu digarisbawahi bukan soal boleh atau tidaknya memiliki preferensi. Wajar saja jika seseorang lebih dekat secara emosional dengan Ronaldo karena kisah perjuangannya, atau lebih terpukau pada Messi karena keajaiban yang ia tunjukkan di lapangan. Sama wajarnya jika seseorang tumbuh dengan tradisi NU dan merasa nyaman dengan pendekatan keagamaannya, atau dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah dan menemukan makna dalam semangat pembaruannya.
Yang jadi masalah adalah ketika preferensi berubah menjadi identitas eksklusif yang harus dibela mati-matian dengan cara merendahkan pihak lain. Padahal, baik dalam sepak bola maupun dalam kehidupan berorganisasi, dua kubu yang saling melengkapi biasanya justru menghasilkan ekosistem yang lebih sehat dan lebih kaya, bukan lebih lemah.
Bayangkan sepak bola tanpa rivalitas Ronaldo-Messi. Barangkali dunia tak akan menyaksikan dua atlet mendorong batas kemampuan manusia sejauh itu, karena justru kehadiran satu sama lain yang membuat keduanya terus terpacu untuk menjadi lebih baik setiap musim. Bayangkan pula Indonesia tanpa NU dan Muhammadiyah yang saling melengkapi. Barangkali pendidikan Islam di negeri ini tidak akan sekaya dan seluas sekarang, karena kompetisi sehat dalam mendirikan sekolah, kampus, dan rumah sakit di antara keduanya justru mempercepat pemerataan akses bagi masyarakat luas.
Ironisnya, justru pihak-pihak yang paling memahami organisasinya masing-masing biasanya adalah pihak yang paling menghormati organisasi yang lain. Para kiai senior di NU dan tokoh-tokoh senior Muhammadiyah kerap terlihat duduk satu meja, berdiskusi, bahkan saling mendukung dalam isu-isu kebangsaan. Perseteruan yang tajam justru lebih sering muncul dari kalangan akar rumput yang mungkin belum sepenuhnya memahami sejarah panjang dan kontribusi nyata dari kedua organisasi tersebut. Fenomena serupa juga terjadi di dunia sepak bola, di mana Ronaldo dan Messi sendiri justru saling menunjukkan rasa hormat satu sama lain, sementara sebagian pendukung fanatik di media sosial malah saling menyerang tanpa henti.
Penutup: Rivalitas yang Sehat, Bukan Permusuhan
Perdebatan itu boleh, bahkan menyenangkan, selama tetap dalam koridor argumentasi dan bukan penghinaan. Namun ada baiknya kita sesekali mengambil jarak dan melihat gambaran besarnya: bahwa dua hal hebat bisa hadir bersamaan tanpa harus saling meniadakan.
Ronaldo hebat. Messi juga hebat. NU besar jasanya. Muhammadiyah pun tak kalah besar jasanya. Barangkali pertanyaan yang lebih layak diajukan bukan “siapa yang lebih unggul”, melainkan “bagaimana kita bisa belajar dan mengambil yang terbaik dari keduanya”.











