Tapak Suci, organisasi pencak silat otonom Muhammadiyah, dikenal sebagai salah satu perguruan yang nyaris tidak pernah terseret dalam berbagai konflik antarperguruan silat. Di tengah maraknya pemberitaan mengenai bentrokan yang melibatkan pesilat dari berbagai organisasi, nama Tapak Suci justru lebih sering dikenal melalui prestasi, pembinaan karakter, dan aktivitas dakwahnya.
Hal tersebut bukan tanpa alasan. Sejak awal, Tapak Suci dibangun di atas fondasi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga membentuk kepribadian anggotanya. Setiap latihan menjadi ruang pembelajaran untuk menanamkan disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, keberanian, sportivitas, persaudaraan, serta nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Bagi anggota Tapak Suci, gelanggang latihan bukan sekadar tempat mengasah kemampuan fisik. Di sanalah mereka dididik untuk menghormati pelatih, mencintai ilmu, mengendalikan emosi, bekerja sama, dan menjadikan akhlak sebagai ukuran utama, bukan semata-mata kekuatan.
Filosofi “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah” bukan hanya slogan, melainkan menjadi ruh dalam proses pendidikan setiap pesilat.
Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Tapak Suci juga memiliki keunggulan berupa dakwah kultural. Pendirinya, Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad, menunjukkan bahwa pencak silat dapat menjadi media dakwah yang efektif. Nilai-nilai tauhid dipadukan dengan seni bela diri sehingga lahir tradisi pencak silat yang rasional, menjauh dari praktik syirik, sekaligus tetap menghargai budaya bangsa.
Melalui pendekatan budaya tersebut, Tapak Suci mampu menjangkau berbagai kalangan masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya belum mengenal Muhammadiyah melalui jalur pendidikan maupun pengajian.
Di samping berbagai karakteristiknya, Tapak Suci memberikan perhatian besar pada pengendalian diri. Para pesilat dididik untuk menghindari pertikaian yang tidak perlu dan tidak menjadikan kemampuan bela diri sebagai alat untuk menunjukkan kehebatan.
Di lingkungan Tapak Suci, keterlibatan dalam bentrok antarperguruan dipandang sebagai sesuatu yang memalukan. Seorang pesilat tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama Tapak Suci dan Muhammadiyah, serta mencerminkan nilai-nilai Islam yang dianutnya.
Memang tidak dapat dimungkiri bahwa terkadang ada oknum anggota yang terlibat persoalan pribadi. Namun, organisasi tidak akan membenarkan tindakan tersebut apabila tidak berkaitan dengan nama perguruan.
Sebaliknya, apabila nama Tapak Suci ikut terseret, sesama anggota akan hadir untuk memberikan pendampingan. Jika anggotanya berada di pihak yang benar, mereka akan memberikan dukungan. Namun apabila terbukti bersalah, mereka tidak segan menegur, mengingatkan, bahkan melakukan pembinaan.
Inilah salah satu kekuatan Tapak Suci: membangun persaudaraan yang erat tanpa harus memusuhi pihak lain. Semangat untuk meraih kemenangan tetap dibarengi dengan penghormatan kepada lawan. Nilai persaudaraan lebih dikedepankan daripada permusuhan.
Pesilat Tapak Suci tidak memiliki alasan untuk bersikap angkuh, sekalipun berhasil menorehkan banyak prestasi. Kesombongan justru dipandang sebagai pintu awal lahirnya konflik antarperguruan, yang sering kali dipicu oleh gengsi dan ego kelompok.
Karena itu, doktrin “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah” terus ditanamkan dalam diri setiap anggota. Prestasi tidak boleh melahirkan kesombongan, tetapi justru harus menjadi motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas iman, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari berbagai nilai yang ditanamkan Tapak Suci, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat menjadi teladan bagi seluruh perguruan pencak silat.
- Berorientasi pada prestasi dan pembinaan, bukan konflik.
- Memperkuat akidah, intelektualitas, dan akhlak Islam.
- Menumbuhkan sikap rendah hati serta menghormati siapa pun, termasuk lawan.
Pada akhirnya, kemampuan bela diri seharusnya menjadi sarana pengendalian diri, bukan alasan untuk merasa paling hebat. Seorang pesilat sejati adalah mereka yang mampu menjaga sikap, memberi teladan, dan menggunakan ilmunya secara bertanggung jawab.
Tradisi bentrok antarperguruan sudah saatnya ditinggalkan, digantikan dengan budaya berprestasi, saling menghormati, dan mempererat persaudaraan.













