• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Otak Kita Rusak Tanpa Sadar! Ini Penyebab Asli Kenapa Susah Fokus Dan Kecanduan Hp!

Marjoko oleh Marjoko
8 bulan yang lalu
in Opini
0
foto: shutterstock

foto: shutterstock

4
SHARES
10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di era di mana hampir setiap momen kosong diisi dengan menggulir layar ponsel. Saat menunggu, bosan, bahkan sebelum tidur, jari kita secara refleks membuka TikTok, Instagram, atau YouTube. Perilaku ini tampak sepele, tapi sebenarnya menandakan fenomena yang jauh lebih serius, yaitu brain rot atau “pembusukan otak digital.”

Fenomena ini bukan lagi hal yang asing, terutama di kalangan generasi muda, Gen Z dan Gen Alpha. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang dikelilingi oleh konten berlimpah, cepat, dan adiktif. Setiap notifikasi, like, atau komentar memberi suntikan kecil dopamin, zat kimia di otak yang memunculkan rasa senang dan puas. Namun, seperti candu, efeknya cepat hilang, dan otak menuntut dosis berikutnya. Akhirnya, tanpa disadari, kita masuk ke dalam siklus endless scrolling yang membuat otak terus mencari rangsangan baru tanpa pernah merasa cukup.

Pendiri awal Facebook, Sean Parker, pernah secara jujur mengakui bahwa sejak awal, media sosial memang dirancang untuk mencuri perhatian manusia sebanyak mungkin. Mereka menggunakan konsep yang disebut social validation feedback loop, mekanisme psikologis yang membuat pengguna merasa dihargai ketika mendapat pengakuan dari orang lain. Semakin sering kita mendapat like atau komentar, semakin besar dorongan untuk kembali memposting, menggulir, dan mengulangi pola tersebut.

Masalahnya, desain sistem ini bukan hanya memengaruhi perilaku, tapi juga cara kerja otak. Penelitian Profesor Informatika dari UC Irvine, Dr. Mark Gloria, menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir, rentang fokus manusia menurun drastis. Pada 2004, rata-rata seseorang bisa fokus pada satu layar selama 150 detik. Pada 2020, ketika TikTok dan media sosial serupa mendominasi, angka itu menyusut hingga hanya 47 detik. Bayangkan, kemampuan fokus kita turun hampir 70 persen dalam waktu kurang dari dua dekade.

Related Post

Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

27 Mei 2026
Profesor bisa salah, juri bisa keliru, karena manusia tidak pernah sepenuhnya objektif berpikir/Ilustrasi AI

Peserta Sudah Benar, Tapi Dikalahkan Ego Juri? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

17 Mei 2026

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

4 Mei 2026

Belajar dari Film yang Tiba-tiba Laku Keras: Kelas Menengah Bukan Lemah, Mereka Hanya Lelah

11 April 2026

Penurunan fokus ini hanyalah salah satu efeknya. Studi lain yang melibatkan lebih dari 700 responden menemukan bahwa penggunaan internet berlebihan dapat menyebabkan penyusutan pada area otak yang mengatur kendali diri. Akibatnya, seseorang menjadi semakin sulit menahan dorongan untuk berhenti menggulir, bahkan ketika tahu aktivitas itu tidak produktif. Selain itu, kebiasaan berpindah cepat dari satu aplikasi ke aplikasi lain juga terbukti meningkatkan detak jantung, kadar hormon stres, dan kelelahan mental.

Kecanduan ini tidak hanya merusak fokus, tetapi juga menggerogoti harga diri. Otak manusia secara alami hanya mampu menjaga hubungan sosial bermakna dengan sekitar 150 orang. Namun kini, lewat media sosial, kita bisa membandingkan hidup dengan jutaan orang lain di seluruh dunia. Sayangnya, yang kita lihat hanyalah versi terbaik dari hidup mereka, hasil editan, pencitraan, dan potongan momen bahagia. Tanpa sadar, kita membandingkan diri sendiri dengan standar palsu yang mustahil dicapai. Dari sinilah muncul rasa tidak puas, iri, bahkan depresi.

Yang lebih berbahaya, semua ini terjadi secara halus dan berulang. Setiap kali kita merasa tidak nyaman, entah bosan, kesepian, atau cemas, ponsel menjadi pelarian utama. Otak menerima “hadiah instan”, lalu menyimpannya sebagai pola perilaku bawah sadar. Semakin sering diulang, semakin kuat kebiasaan itu tertanam. Inilah yang disebut pattern loop, dan inilah akar dari brain rot.

Namun, kabar baiknya, kondisi ini tidak permanen. Otak manusia bersifat plastis, artinya dapat berubah dan memperbaiki diri jika dilatih dengan pola baru. Kuncinya adalah break the pattern, memutus kebiasaan lama dan menggantinya dengan rutinitas yang lebih sehat.

Langkah pertama bisa dimulai dari first hour rule, yakni satu jam pertama setelah bangun tidur. Alih-alih langsung mengecek ponsel, gunakan waktu ini untuk berdoa, berolahraga, membaca, atau merencanakan hari. Aktivitas kecil ini membantu otak memulai hari dengan fokus yang lebih jernih.

Langkah berikutnya adalah menciptakan jarak dengan media sosial. Pindahkan aplikasi hiburan ke folder terpisah dan beri pengaman pin. Hambatan kecil ini membuat otak berpikir dua kali sebelum membuka aplikasi. Jika sudah terlalu parah, pertimbangkan untuk menghapusnya sementara waktu. Selain itu, pilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Lingkungan sosial yang positif dapat menular, begitu pula sebaliknya.

Terakhir, lakukan mental cleansing. Menulis jurnal, refleksi diri, dan bersyukur dapat membantu menata ulang pikiran serta mengembalikan kendali atas fokus kita.

Brain rot memang fenomena modern, tapi penyebab dan solusinya tetap klasik: kita terlalu sering mencari kenyamanan instan dan lupa menikmati proses. Jika selama ini otak kita rusak karena kebiasaan kecil yang diulang setiap hari, maka satu-satunya cara memperbaikinya adalah dengan kebiasaan baru yang konsisten.

Karena pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh, kitalah yang harus belajar menundukkannya sebelum layar kecil di tangan benar-benar mengendalikan hidup dan masa depan kita.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: adiktifbrainrootselfupdate
Share2Tweet1Share
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy and Hubby in every universe.

Related Posts

Ilustrasi dibuat menggunakan AI
Opini

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

oleh Nashrul Muminin
27 Mei 2026
Profesor bisa salah, juri bisa keliru, karena manusia tidak pernah sepenuhnya objektif berpikir/Ilustrasi AI
Opini

Peserta Sudah Benar, Tapi Dikalahkan Ego Juri? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

oleh Marjoko
17 Mei 2026
Pakai AI bukan curang, asal kamu tetap berpikir kritis dan gak bergantung sepenuhnya/Ilustrasi Shutterstock.com
Opini

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

oleh Marjoko
4 Mei 2026
Next Post
foto: Pembelajaran di luar kelas / M. Haidar

Belajar Tak Harus di Kelas! Siswa SD Al Kautsar Jelajahi Pasuruan, dari TIC hingga P3GI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Image IPM

Presiden Copot Kepala BGN: Harapan Baru Bagi Pelajar

3 Juni 2026
Cinta bisa tumbuh berbeda, tetapi pernikahan kokoh ketika dibangun di atas akidah yang sama. (ilustrasi: shutterstock.com

Cinta Beda Mazhab antara Muhammadiyah dan NU: Ketika Hati Bertemu, Haruskah Pernikahan Berpisah?

2 Juni 2026
Burung yang rajin berzikir pun bisa mati dengan suara kreek, bagaimana dengan kita (foto: Suharsono/pasmu.id)

Renungan Fajar: Ketika Burung Berzikir Mengajarkan Kita Tentang Kematian

2 Juni 2026
Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan