Tidak sedikit organisasi, kelompok, atau ormas hari ini yang dengan lantang mengklaim diri sebagai yang paling besar, paling berpengaruh, dan paling banyak pengikutnya. Ukuran massa sering dijadikan legitimasi kebenaran, seolah-olah jumlah adalah jaminan keabadian. Padahal sejarah, teknologi, dan peradaban telah berkali-kali memberi pelajaran pahit, yang besar bukan berarti kebal, yang dominan bukan berarti abadi.
Kebanggaan yang berlebihan justru sering menjadi awal dari kejatuhan. Ketika sebuah ormas merasa paling kuat, paling benar, dan paling dibutuhkan, di situlah bahaya mulai mengintai. Rasa puas diri menumpulkan kemampuan untuk melakukan koreksi, menutup telinga dari kritik, dan menumpahkan energi untuk mempertahankan simbol, bukan memperbaiki substansi.
Kita hidup di era disrupsi, sebuah zaman di mana perubahan bergerak lebih cepat daripada kesiapan banyak pihak. Studi-studi tentang kegagalan organisasi besar menunjukkan pola yang sama, bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena keengganan untuk berubah. Contoh paling klasik adalah Nokia. Pada masanya, Nokia adalah raksasa industri telekomunikasi dunia. Pangsa pasarnya menguasai hampir seluruh benua, produknya merajai pasar, dan namanya identik dengan ponsel itu sendiri. Namun, ketika dunia bergerak menuju ekosistem smartphone berbasis Android dan iOS, Nokia bersikeras bertahan dengan Symbian. Kesombongan atas kejayaan masa lalu membuat mereka menolak realitas masa depan. Hasilnya jelas, Nokia jatuh, bukan karena kecil, tetapi karena tidak mau berubah.
Sejarah peradaban pun menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar dan lebih dalam. Islam di Andalusia adalah contoh paling monumental. Selama hampir 800 tahun, dari tahun 711 hingga 1492 M, Islam berjaya di tanah Eropa. Andalusia bukan sekadar wilayah kekuasaan, melainkan pusat peradaban dunia, ilmu pengetahuan, filsafat, arsitektur, kedokteran, dan toleransi berkembang pesat. Cordoba, Sevilla, dan Granada menjadi mercusuar peradaban ketika Eropa masih berada dalam abad kegelapan.
Namun, kejayaan itu tidak abadi. Perlahan, konflik internal, perebutan kekuasaan, kemewahan yang berlebihan, dan melemahnya semangat koreksi diri menggerogoti fondasi peradaban tersebut. Hingga akhirnya, Granada adalah kesultanan Islam terakhir yang menyerah kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada tahun 1492. Itu bukan hanya akhir sebuah kerajaan, tetapi akhir dari kehadiran Islam sebagai kekuatan politik di Andalusia.
Yang lebih menyedihkan, warisan Islam di Spanyol hampir bersih. Simbol-simbol Islam dihapus, masjid diubah menjadi gereja, dan identitas Islam dipinggirkan hingga nyaris tak bersisa. Delapan ratus tahun kekuasaan runtuh tanpa sisa yang signifikan. Jika peradaban sebesar itu bisa lenyap, maka apa artinya organisasi yang baru berusia puluhan atau seratus tahun?
Inilah poin refleksi yang sering diabaikan oleh banyak ormas hari ini. Usia, jumlah anggota, dan besarnya pengaruh bukanlah jaminan keberlangsungan. Justru semakin besar sebuah organisasi, semakin besar tanggung jawabnya untuk terus bercermin dan mengoreksi diri. Tanpa mekanisme kritik internal yang sehat, organisasi akan membusuk dari dalam sebelum diserang dari luar.
Opini ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan satu ormas tertentu, melainkan sebagai koreksi bagi semua. Tidak ada yang kebal dari hukum sejarah. Tidak ada yang terlalu besar untuk gagal. Ketika sebuah ormas mulai sibuk membanggakan jumlah pengikut, mengklaim diri paling benar, dan meremehkan pihak lain, saat itulah alarm bahaya seharusnya berbunyi.
Kerendahan hati adalah kunci keberlanjutan. Keterbukaan terhadap perubahan adalah syarat utama untuk bertahan. Ormas yang hidup adalah ormas yang mau mendengar kritik, mau beradaptasi dengan zaman, dan mau menempatkan nilai di atas simbol. Tanpa itu, kebesaran hanya akan menjadi catatan masa lalu.
Sejarah tidak berpihak pada yang paling keras bersuara, tetapi pada yang paling mampu membaca zaman. Nokia gagal membacanya. Andalusia terlambat menyadarinya. Jangan sampai ormas-ormas hari ini mengulangi kesalahan yang sama. Karena sejarah selalu memberi kesempatan belajar, tetapi tidak selalu memberi kesempatan kedua.













