Menjelang waktu berbuka puasa pada Minggu (1/3/2026), Masjid Al Ukhuwah menghadirkan suasana sejuk melalui siraman rohani yang disampaikan oleh Ustaz Baidowi.
Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan umat (ukhuwah) dan memahami peran hakiki manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Melampaui Sekat Organisasi
Ustaz Baidowi membuka ceramah dengan mengutip ayat Al-Qur’an tentang perintah berpegang teguh pada tali Allah dan larangan bercerai-berai. Beliau menyoroti fenomena perbedaan antara organisasi kemasyarakatan seperti NU dan Muhammadiyah yang seringkali dibenturkan oleh hal-hal bersifat kulit atau simbolis.
“Jangan melihat Islam hanya dari parfumnya, jubahnya, atau sajadahnya. Tapi lihatlah apa manfaatnya bagi umat manusia,” tegasnya. Menurutnya, selama masih memegang kalimat La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, perbedaan wadah tidak boleh memutus tali persaudaraan.
Belajar dari Dialog Malaikat dan Allah
Dalam materi intinya, Ustaz Baidowi mengulas tafsir Al-Qurtubi mengenai penciptaan manusia. Beliau menceritakan kembali dialog antara Allah dan Malaikat saat Adam AS hendak diciptakan. Malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia karena khawatir akan terjadi pertumpahan darah dan kerusakan, berkaca pada makhluk sebelum manusia yang berperilaku kasar.
Namun, Allah menjawab dengan kalimat yang menjadi pengingat bagi seluruh umat: “Inni a’lamu ma la ta’lamun” (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui).
“Manusia dipilih menjadi khalifah untuk menegakkan kebenaran (al-haq) dan mencegah kemungkaran. Kita harus membuktikan bahwa manusia bisa menjadi rahmat, bukan perusak seperti yang dikhawatirkan,” tambah beliau.
Meluruskan Budaya dan Menjauhi Syirik
Ustaz Baidowi juga menyentuh persoalan budaya lokal yang terkadang bersinggungan dengan aqidah. Beliau mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada ritual yang tidak memiliki dasar syariat, seperti menyiapkan sesaji atau bunga di malam Jumat dengan keyakinan bahwa benda tersebut yang mendatangkan keselamatan.
“Kalau bunga dianggap bisa menghadirkan keselamatan, di mana letak Allah? Budaya yang tidak sesuai jantung ajaran Islam harus kita tinggalkan,” ujarnya dengan lugas. Beliau juga memperingatkan jamaah agar tidak berkolaborasi dengan jin atau mempercayai fenomena indigo yang melampaui batas keimanan.
Meneladani Luqmanul Hakim
Sebagai penutup, beliau mengajak jamaah untuk meneladani sosok Luqmanul Hakim. Meskipun bukan seorang Nabi atau Rasul, namanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena dua hal:
- Gemar menghadiri majelis ilmu.
- Tidak pernah mencampuri urusan orang lain kecuali jika diminta.
“Mari kita menjadi hamba Allah yang fokus melaksanakan perintah-Nya, menjaga lisan di majelis ilmu, dan melatih kesabaran serta pengendalian nafsu selama bulan suci ini,” tutup Ustaz Baidowi.












