Masjid Baitul Huda, Kota Pasuruan, pada Rabu malam Kamis (13/05/2026) kembali menggelar pengajian rutin yang diisi oleh Ustadz Anang Abdul Malik. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang mekanisme kebahagiaan manusia yang telah diatur Allah melalui sinkronisasi antara hati (qolbun), akal, dan tindakan nyata.
Di hadapan jamaah, Ustadz Anang menjelaskan bahwa setiap perbuatan manusia sesungguhnya memiliki dampak balik terhadap dirinya sendiri. Menurut beliau, dunia bekerja dengan mekanisme yang sangat presisi. Ketika seseorang berbuat baik, maka manfaatnya akan kembali menjadi ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi dirinya. Sebaliknya, keburukan akan menjadi racun yang merusak sistem internal manusia.
Beliau mengutip firman Allah:
“In ahsantum ahsantum li-anfusikum”
(Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri).
Prinsip tersebut, lanjutnya, sejalan dengan kaidah Al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal, yakni balasan akan sesuai dengan jenis perbuatannya.
“Sebenarnya Allah sudah membuat mekanisme dalam diri kita. Ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan adalah bonus langsung bagi mereka yang memilih jalan kebaikan,” tuturnya.
Dalam ceramahnya, Ustadz Anang juga mengaitkan nilai-nilai agama dengan neurosains. Ia menjelaskan fungsi Prefrontal Cortex (PFC) pada otak manusia sebagai pusat kontrol diri dan pengambilan keputusan moral, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Namun, fungsi tersebut dapat rusak akibat paparan negatif yang terus-menerus.
Beliau memberi peringatan mengenai bahaya pornografi yang dinilai dapat merusak fungsi kontrol otak. Secara biologis, paparan tersebut dapat memicu zat tertentu yang melemahkan kemampuan manusia dalam mengendalikan emosi dan perilaku, hingga akhirnya hanya mengikuti dorongan insting semata.
Sebagai penguat, beliau mengutip firman Allah:
“Wa laa tulquu bi-aydiikum ilat-tahlukah”
(Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan).
Selain itu, Ustadz Anang menjelaskan bahwa emosi negatif seperti marah, dendam, dan kegelisahan berkepanjangan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh. Sebaliknya, sikap jujur, ikhlas, dan pasrah kepada Allah diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin yang berpengaruh positif terhadap kondisi fisik manusia.
Beliau kemudian membawakan hadits Rasulullah SAW:
“Alaikum bish-shidqi, fa innash-shidqo yahdi ilal-birri, wa innal-birro yahdi ilal-jannah.”
(Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke surga).
Menurutnya, surga yang dimaksud tidak hanya di akhirat, tetapi juga “surga dunia” berupa kesehatan fisik, ketenangan hati, dan kehidupan yang penuh keberkahan.
Menjelang akhir pengajian, Ustadz Anang mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ritual ibadah semata, melainkan juga dari kemampuan seseorang dalam menebarkan kasih sayang kepada sesama. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak akan merasakan manisnya iman apabila masih menyimpan kebencian, dendam, dan permusuhan di dalam hati.
“Kalian tidak akan benar-benar beriman sampai kalian saling mencintai,” pungkasnya, sembari mengajak jamaah untuk saling memaafkan dan mendoakan kebaikan, bahkan kepada orang yang pernah menyakiti.
Malam itu, jamaah Masjid Baitul Huda pulang bukan hanya membawa tambahan ilmu agama, tetapi juga kesadaran bahwa menjaga syariat dan memperbaiki akhlak sejatinya merupakan bentuk mencintai diri sendiri.













