Pasuruan, 21 Agustus 2026 – Terik matahari Agustus membingkai perayaan kemerdekaan ke-81 di berbagai penjuru negeri. Namun, di bawah kubah Masjid Ibrahim, Pondok Pesantren Speam Kampus Putra, Kota Pasuruan, suasana siang itu berubah menjadi ruang kontemplasi yang sunyi namun tajam.
Bertindak sebagai imam dan khotib Sholat Jumat, Ustadz Moslem Errifai melontarkan sebuah pertanyaan profetik yang menghujam nurani jemaah: “Semerdeka itukah hatimu, Ratu?”
Pertanyaan yang merujuk pada “Ratu”—sebagai metafora bagi jiwa atau sang pengendali diri—menjadi pintu masuk untuk membongkar makna kemerdekaan hingga ke akar batiniah yang paling fundamental. Dalam khutbahnya, Ustadz Moslem mengajak jemaah untuk tidak sekadar merayakan kemerdekaan secara seremonial, melainkan melakukan audit moral atas kondisi bangsa yang kini tengah berjuang melawan polusi korupsi dan kezhaliman.
Antara Kemerdekaan dan Pembegalan Hak Rakyat
Kemerdekaan hakiki, menurut Ustadz Moslem, bukanlah sekadar absennya penjajah fisik di tanah air. Kemerdekaan yang sejati adalah terbebasnya jiwa dari perbudakan hawa nafsu. Mengutip QS. Al-Baqarah: 188, ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bangsa saat ini adalah tindakan korupsi yang dalam perspektif Islam bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pembegalan hak-hak rakyat.
“Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil,” kutip khotib, merujuk pada peringatan keras Al-Qur’an agar harta rakyat tidak dibawa ke meja hakim untuk sekadar melegitimasi dosa. Ketika uang negara dikorupsi, maka hak kaum fakir, yatim, dan masyarakat lemah yang dirampas secara zhalim.
Kezhaliman ini, tegas Ustadz Moslem, adalah kegelapan yang sesungguhnya. Merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ia menekankan, “Berhati-hatilah kalian terhadap kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari Kiamat.” Ia menyentil realitas negeri di mana hukum acap kali tajam ke bawah namun tumpul ke atas, di mana yang kuat kerap menindas yang lemah.
Tiga Kuas Moral untuk Indonesia
Di hadapan para santri dan jemaah, Ustadz Moslem menawarkan tiga manifesto moral—yang ia sebut sebagai “tiga kuas”—untuk merawat kemerdekaan agar tidak kehilangan substansinya:
Pertama, Kejujuran Tanpa Pengawasan. Merujuk pada QS. At-Taubah: 119, ia menegaskan bahwa kejujuran paling bernilai bukanlah saat kita dipuji manusia, tetapi saat kita memiliki celah untuk berbuat curang namun memilih untuk tidak melakukannya karena takut kepada Allah.
Kedua, Amanah dalam Jabatan. Jabatan bukan sekadar privilese atau jalan pintas memperkaya diri, melainkan tanggung jawab besar. Sesuai QS. An-Nisa’: 58 dan hadis tentang setiap pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, ia mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang akan dihitung setiap butirnya di akhirat kelak.
Ketiga, Keadilan Tanpa Pandang Bulu. Keadilan adalah ujian terberat. Mengutip QS. An-Nisa’: 135, Ustadz Moslem mengajak jemaah untuk berani menegakkan kebenaran meski keputusan itu terasa berat atau merugikan diri sendiri, keluarga, maupun kelompoknya.
Penutup: Mengisi Kemerdekaan dengan Takut Mengkhianatinya
Khutbah Jumat di Pesantren Speam Kota Pasuruan ini ditutup dengan sebuah refleksi mendalam. Ustadz Moslem menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan orang-orang pandai, tetapi manusia-manusia yang takut mengkhianati amanah.
Perjuangan bangsa ini belum selesai selama korupsi masih mengakar, keserakahan merajalela, dan kezhaliman dibiarkan. Merawat kemerdekaan berarti berani memerdekakan hati dari belenggu hawa nafsu. “Jika tiga nilai ini—jujur, amanah, dan adil—hidup dalam masyarakat dan para pemimpinnya, insya Allah kemerdekaan bukan sekadar sejarah, melainkan amanah yang benar-benar kita jaga,” pungkasnya.
Sebuah alarm moral telah ditabuh dari mimbar Pasuruan: merdeka atau tidaknya bangsa ini, dimulai dari seberapa merdeka hati kita dari noda keserakahan.











