Langit mulai meredup ketika laju motor Beat hitam itu perlahan menepi di kawasan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Setelah menempuh perjalanan jalur Pantura dari arah Surabaya menuju Denpasar, pengendara memilih berhenti sejenak di Masjid Ash-Shiddiqi, sebuah masjid yang berada di tepi jalur utama dan dikenal ramah bagi para musafir.
Di halaman masjid yang cukup luas, motor Beat hitam diparkir dengan aman. Mesin yang sejak siang setia menemani perjalanan panjang itu akhirnya diberi kesempatan untuk “bernapas” dan mendingin. Bagi para pengendara jarak jauh, rehat seperti ini bukan sekadar berhenti melepas lelah, tetapi juga bagian penting menjaga keselamatan perjalanan.
Masjid Ash-Shiddiqi tampak hidup meski malam mulai turun. Di bagian depan terlihat tulisan sederhana namun menenangkan: “Buka 24 Jam.”Kalimat itu seolah menjadi isyarat bahwa rumah ibadah ini terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan tempat singgah, beristirahat, ataupun menenangkan hati di tengah perjalanan.
Suasana semakin terasa hangat ketika di teras masjid tersedia kopi dan teh gratis untuk jamaah. Sederhana, tetapi memberi kesan mendalam bagi para musafir yang singgah. Secangkir kopi hangat di tengah perjalanan malam sering kali terasa lebih dari sekadar minuman, ia menjadi simbol kepedulian dan persaudaraan.
Sambil menunggu waktu salat Isya berjamaah, pengendara memanfaatkan waktu untuk beristirahat setelah menunaikan salat Magrib. Hembusan angin malam dan suasana masjid yang teduh membuat rasa lelah perjalanan perlahan berkurang.
Perjalanan menuju Sidoarjo malam itu bukan sekadar urusan perjalanan biasa. Ada tujuan silaturahmi yang ingin dijaga, yakni bertemu pimpinan perusahaan sebagai bagian dari komunikasi dan ikhtiar yang sedang dijalani. Dalam setiap kilometer perjalanan, tersimpan harapan agar langkah yang ditempuh membawa manfaat dan keberkahan.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari semangat mendukung proses rehabilitasi Masjid Darul Arqom yang saat ini sedang berlangsung. Setiap usaha, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan diharapkan menjadi bentuk amal dan kontribusi nyata bagi keberlangsungan rumah ibadah.
“Semoga lelah perjalanan ini menjadi ibadah, membawa manfaat, dan menjadi bagian dari ikhtiar untuk rehab Masjid Darul Arqom,” ungkapnya penuh harap.
Di tengah hiruk pikuk jalan Pantura yang tak pernah benar-benar tidur, Masjid Ash-Shiddiqi menjadi tempat singgah yang menghadirkan ketenangan. Bukan hanya tempat untuk menunaikan salat, tetapi juga ruang rehat bagi jiwa dan perjalanan panjang manusia.











