GOR Kota Pasuruan menjadi ruang perjumpaan lintas iman pada malam hari ke-8 Berkah Fest 2025, Rabu (31/12). Muhammadiyah Kota Pasuruan bersama LazisMu menggelar acara refleksi akhir tahun bertajuk Malam Refleksi dan Harapan sebagai penutup tahun 2025 dengan nuansa dialog, kebudayaan, dan spiritualitas.
Acara ini dihadiri oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pasuruan, para tokoh dan pemuka agama dari Islam, Kristen, dan Hindu, serta perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) yang diwakili oleh Gus Sholeh. Kehadiran lintas elemen ini menegaskan semangat kebersamaan dan toleransi dalam merefleksikan perjalanan Kota Pasuruan sepanjang tahun 2025.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Kiai Cepu dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sosok yang dikenal sebagai filsuf, seniman, sekaligus ulama Muhammadiyah tersebut hadir memberikan refleksi kritis melalui pendekatan budaya, sastra, dan tausyiyah yang khas.
Baca Juga:
Sebelum acara inti dimulai, panggung Malam Refleksi dan Harapan dibuka dengan penampilan hadrah dari murid-murid SDN Gentong. Penampilan ini menjadi hal yang cukup unik, mengingat seni budaya hadrah relatif jarang ditampilkan dalam kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, Aysha Vio F. H. Christvani Islamwell turut memukau hadirin dengan pembacaan puisi yang sarat satire tersirat terhadap fenomena perayaan Tahun Baru.
Perwakilan LazisMu Kota Pasuruan, PDM Kota Pasuruan, dan FKUB Pasuruan kemudian secara bergantian menyampaikan sambutan. Memasuki sesi refleksi, Kiai Cepu duduk bersama para pemuka agama Islam, Hindu, dan Kristen, serta perwakilan PDM, LazisMu, dan NU Kota Pasuruan dalam satu panggung. Masing-masing tokoh agama menyampaikan refleksi, harapan, dan evaluasi atas dinamika sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang terjadi di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2025.
Kritik Pendidikan Anak, Mental Bangsa, dan Etika Demokrasi
Dalam sesi tausyiyahnya, Kiai Cepu menyampaikan refleksi mendalam yang dikemas melalui pembacaan tiga puisi dan dongeng. Karya-karya tersebut sarat dengan kritik dan satire terhadap kualitas masyarakat serta para pemangku kebijakan di negeri ini. Salah satu penekanan utama Kiai Cepu adalah pentingnya pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini, khususnya di tingkat taman kanak-kanak.
Ia secara kritis membedah lirik lagu anak-anak yang selama ini dianggap biasa, namun menurutnya memiliki dampak psikologis tersembunyi. Lagu Balonku Ada Lima, misalnya, mendapat sorotan karena lirik “hatiku sangat kacau” dinilai mengajarkan kondisi depresi sejak dini. Menurut Kiai Cepu, anak-anak dapat menyerap makna tersebut secara bawah sadar dan berpotensi tumbuh dengan mental yang rapuh.
Selain itu, lagu Naik Kereta Api juga dikritisi melalui lirik “bolehlah naik dengan percuma”. Menurutnya, lagu tersebut dapat menanamkan mental gratisan pada anak-anak jika tidak disikapi secara kritis dalam dunia pendidikan.
Tak hanya soal pendidikan, Kiai Cepu juga menyinggung realitas sosial-politik masyarakat, khususnya praktik serangan fajar dalam pemilihan pemimpin. Ia berharap ke depan masyarakat semakin cerdas, berani menolak praktik tersebut, dan memilih pemimpin yang memiliki kapasitas serta integritas.
Usai tausyiyah, perwakilan dari agama Islam memimpin doa akhir tahun yang diikuti seluruh hadirin. Sebelum memulai doa, ia terlebih dahulu meminta izin kepada seluruh peserta karena doa dipanjatkan secara Islam, sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman yang hadir.
Setelah rangkaian Malam Refleksi dan Harapan selesai, suasana dilanjutkan dengan penampilan musik dari sejumlah musisi yang tampil bergantian sambil menunggu pergantian tahun dari 2025 ke 2026. Musisi yang memeriahkan malam tersebut antara lain Ranggi Akustik, Abnormal Streetrockers Unity, dan Madame Whimpsy.
Mas Pras, Pimpinan LazisMu Kota Pasuruan, dalam wawancara menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia dan sponsor yang telah bekerja tanpa lelah menyukseskan Berkah Fest 2025. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar pembiayaan acara berasal dari sponsor, sementara dana ZIS hanya digunakan dalam porsi yang sangat kecil.
“Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi kepada seluruh panitia dan sponsor. Ini event besar pertama yang diselenggarakan oleh LazisMu, tapi hasilnya secara keseluruhan sangat baik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Berkah Fest 2025 turut berdampak pada peningkatan saldo donasi LazisMu, meskipun jumlah pastinya masih dalam proses penghitungan. Masukan dan kritik dari masyarakat, menurutnya, akan dijadikan bahan evaluasi agar penyelenggaraan kegiatan serupa di tahun 2026 dapat berjalan lebih baik dan mendapat dukungan yang lebih luas.













Muhammadiyah tdk jauh beda dg NU, punya kyai berambut gondrong hehe…