Jambore Media AfiliasiMu #3 yang digelar Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada 12–13 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi perjalanan pers Muhammadiyah.
Pada puncak kegiatan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, menerima Kartu Wartawan Utama Khusus Dewan Pers sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang dan kontribusinya di dunia jurnalistik.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Puncak Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8).
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat, Rektor UMJ Ma’mun Murod, serta jajaran PP Muhammadiyah.
Dua agenda utama menjadi bagian dari puncak peringatan tersebut, yakni pidato kebangsaan Haedar Nashir dan penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus Dewan Pers.
Pemberian kartu ini memiliki makna tersendiri karena perjalanan Haedar di dunia jurnalistik telah berlangsung sejak masa mahasiswa dan kemudian terus berlanjut melalui keterlibatannya di Suara Muhammadiyah.
Haedar tercatat mulai menjalani profesi sebagai wartawan Suara Muhammadiyah sejak 1984.
Saat itu, ia masih muda dan harus melalui proses panjang untuk ditempa sebagai wartawan lapangan.
Selama hampir lima tahun, Haedar menjalani berbagai penugasan untuk mencari dan mengumpulkan berita dari beragam daerah.
Ia bepergian menggunakan bus, kereta api, berjalan kaki, hingga berbagai moda transportasi lainnya, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter jurnalistik Haedar sekaligus memperkuat kedekatannya dengan dunia pers Muhammadiyah.
Perjalanan itu terus berlanjut hingga lebih dari empat dekade.
“Setelah 42 tahun menjadi wartawan, saya baru dapat kartu wartawan dari Dewan Pers. Ini sesuatu yang sudah lama saya impikan,” ujar Haedar.
Perjalanan Haedar juga menjadi bagian dari sejarah panjang Suara Muhammadiyah sebagai salah satu media tertua di Indonesia.
Media tersebut telah terbit sejak 1915 dan hingga kini tetap bertahan sebagai bagian dari ekosistem pers Muhammadiyah.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam menghadirkan alternatif narasi dan informasi yang dapat dipercaya masyarakat.
Pers juga dituntut mampu memberikan arah bagi kehidupan bersama di tengah berbagai perubahan zaman.
Menurutnya, tantangan dunia jurnalistik semakin kompleks karena media harus bergerak di antara kepentingan ekonomi, politik, serta tuntutan publik. Kondisi tersebut membuat insan pers dituntut memiliki kecerdasan, integritas, dan profesionalitas.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, Haedar meyakini pers tetap memiliki peran penting.
Profesionalitas dan kecerdasan insan pers menjadi modal utama agar media mampu mempertahankan kepercayaan publik sekaligus menjalankan fungsi jurnalistiknya secara bertanggung jawab.
Penganugerahan Kartu Wartawan Utama tersebut sekaligus menjadi penanda perjalanan panjang Haedar Nashir dalam dunia pers—sebuah perjalanan yang bermula dari kerja jurnalistik di lapangan dan terus berkembang seiring perjalanan Muhammadiyah serta dinamika media di Indonesia.
Momentum ini juga menjadi bagian penting dari rangkaian Jambore Media AfiliasiMu #3 yang mempertemukan media-media afiliasi Muhammadiyah dari berbagai daerah untuk memperkuat kapasitas, jejaring, dan peran media sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah di era digital.
Editor : Marjoko













