Juara bukan hanya soal taktik. Kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand adalah contoh bagaimana mental dan fighting spirit bisa menentukan hasil. Bagi saya, inilah bukti terkuat bahwa John Herdman berada di jalur yang benar.
Lihat saja jalannya turnamen. Saat melawan Bangladesh, Indonesia sempat tertinggal dan kebobolan di babak tambahan, tetapi masih sanggup mencetak dua gol hanya dalam satu menit. Jika itu bukan mental baja, apa lagi namanya? Pertanyaan apakah Indonesia punya fighting spirit yang konsisten setelah empat pertandingan kini terjawab.
Satu hal lain yang patut dipuji adalah ketepatan Herdman dalam melakukan pergantian pemain. Para pemain pengganti terbukti memberi kontribusi nyata. Karena itu, saya enggan menunjuk satu man of the match. Dari Audero, Bagot, hingga Joey Pelupessy yang sering tak terlihat tetapi penting, semuanya punya andil. Bahkan pemain yang tidak mencetak gol maupun yang hanya duduk di bangku cadangan adalah bagian dari kemenangan ini.
Meski begitu, euforia tidak boleh menutup mata. Finishing Indonesia masih buruk, dan terlalu banyak kesalahan individu serta salah umpan. Indonesia mendominasi di babak pertama, tetapi di babak kedua Thailand justru mengambil alih permainan. Padahal hampir seluruh pemain inti kita adalah pemain diaspora, jadi wajar bila publik menuntut lebih. Namun kita juga perlu realistis: peringkat Indonesia masih di atas 100, jauh dari kelas Brasil, Argentina, atau Jerman, sehingga kesalahan semacam ini masih mungkin terjadi.
Pemilihan formasi juga patut dikritisi. Pola empat bek terbukti tepat, sedangkan saat Herdman memakai tiga bek melawan Bangladesh, Indonesia justru kebobolan dua gol meski lawannya lemah. Semoga di Piala Asia nanti ia tetap berani bereksperimen dengan 4-4-2 atau 4-2-3-1, tetapi tidak kembali ke tiga bek.
Tantangan sesungguhnya ada di depan. Di Piala Asia bulan Januari, Indonesia satu grup dengan Jepang, Qatar, dan Thailand. Thailand masih bisa dikalahkan, tetapi Jepang dan Qatar tidak akan mudah. Uji coba melawan Yordania pada November harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Timnas butuh lebih banyak laga tandang untuk menambah jam terbang dan menguji mental di kandang lawan, hal yang sudah berulang kali disampaikan, termasuk kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Sebagian orang sudah menuntut Herdman dipecat jika tidak juara. Tuntutan itu berlebihan. Ia belum genap setahun menangani tim ini, baru delapan sembilan bulan dan segelintir laga. Wajar jika ia masih mencari pakem. Bahkan setelah lebih dari tiga dekade menanti trofi senior sejak SEA Games 1991, Indonesia akhirnya mendapatkannya. Tidak adil membandingkan Herdman dengan pelatih yang sudah tiga sampai lima tahun menukangi sebuah tim.
Kesimpulannya jelas: proses ini layak dilanjutkan. Herdman pantas diberi waktu.














