Sevilla — Ketika peluit akhir berbunyi di Stadion Ramón Sánchez-Pizjuán, papan skor yang mencolok “4-1” tidak hanya mengumumkan kehancuran Kroasia, tetapi juga menyaksikan lahirnya momen bersejarah. Dini hari 30 September waktu setempat, Spanyol menghancurkan Kroasia dalam laga grup UEFA Nations League, memperpanjang rekor tak terkalahkan tim menjadi 40 pertandingan. Sejak kalah dari Kolombia pada Maret 2024, selama 922 hari, La Furia Roja tidak pernah tahu apa itu kekalahan.
Ini bukan kemenangan biasa, melainkan sebuah deklarasi. Baru 2 menit pertandingan berjalan, Lamine Yamal membuka gawang Livaković dengan tendangan jarak jauh yang presisi. Meskipun Kroasia menyamakan kedudukan melalui sundulan Baturina pada menit ke-28, itu hanyalah ketenangan sesaat sebelum badai. Tiga menit kemudian, Marc Pubill kembali mencetak gol melalui sundulan; menit ke-63, Yamal mencetak gol keduanya; menit ke-89, Nico Williams menutup pertandingan dengan skor 4-1 melalui aksi individu.
Tim asuhan Luis de la Fuente sedang mendominasi sepak bola dengan cara yang mencekik. Data memang dingin, tetapi juga merupakan bukti paling kuat: dari 40 pertandingan, 31 kemenangan dan 9 imbang, mencetak gol yang tak terhitung jumlahnya, dan yang lebih penting, selama periode ini mereka mengangkat dua trofi paling bergengsi: Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Malam Berlin 2024 mengalahkan Inggris, lalu di Stadion MetLife New York 2026 mengalahkan Argentina lewat gol di perpanjangan waktu — tim Spanyol ini memahkotai rekor tak terkalahkan mereka dengan gelar juara.
Setelah pertandingan, De la Fuente memuji anak asuhnya: “Yamal selalu sangat murah hati, dia memberikan seluruh bakatnya untuk tim. Menurut saya, dia adalah yang paling istimewa.” Kata-kata pelatih veteran ini mengungkapkan sebuah filosofi: di tim Spanyol ini, bakat melayani sistem, bukan sistem yang mengakomodasi bakat. Dari Yamal ke Pedri, dari Nico Williams ke Rodri, perpaduan sempurna antara generasi muda dan kekuatan inti membuat armada Matador memiliki keahlian individu yang memukau sekaligus disiplin taktis yang ketat.
Pelatih Kroasia, Bilić, mengakui setelah pertandingan: “Ini adalah malam yang buruk dalam segala aspek.” Timnya mencoba melawan, tetapi di hadapan tekanan terus-menerus dan perpindahan bola yang presisi dari Spanyol, keunggulan lini tengah Vatreni sama sekali tidak ada. Ini bukan kemunduran Kroasia, melainkan evolusi Spanyol — mereka telah berubah dari tim yang dulu terobsesi dengan penguasaan bola menjadi mesin sepak bola yang menggabungkan efisiensi dan estetika.
Dari perspektif yang lebih makro, makna 40 pertandingan tak terkalahkan jauh melampaui angka itu sendiri. Rekor ini memecahkan rekor 37 pertandingan tak terkalahkan tim nasional Italia yang tercipta antara 2018 dan 2021, mengangkat definisi “tak terkalahkan” ke tingkat yang baru. Yang lebih meyakinkan, kualitas rekor ini sangat tinggi: selama periode ini mereka melewati seluruh Euro, seluruh Piala Dunia, dan pertandingan-pertandingan besar Nations League, dengan lawan termasuk Prancis, Jerman, Inggris, Argentina, Portugal, dan tim-tim top lainnya.
Tentu saja, suara rasional harus didengar. Secara teknis, di final Nations League 2025 Spanyol kalah dari Portugal melalui adu penalti, tetapi statistik resmi menghitung hasil imbang 2-2 dalam 120 menit sebagai tidak terkalahkan. Ini mengingatkan kita bahwa Spanyol bukanlah tim yang tak terkalahkan; mereka juga pernah didorong ke tepi jurang. Tetapi justru di momen-momen kritis itulah tim ini menunjukkan ketangguhan khas seorang juara.
Spanyol saat ini sedang menulis narasi dinasti mereka sendiri. Merebut Euro dan Piala Dunia secara berturut-turut membuat “La Roja” kembali berdiri di puncak dunia setelah lebih dari satu dekade. Dan 40 pertandingan tak terkalahkan adalah catatan kaki paling mencolok dalam perjalanan gemilang ini. De la Fuente, pria berusia 65 tahun dari Rioja ini, dengan kerendahan hati dan kebijaksanaannya telah menempa sekelompok pemuda berbakat luar biasa menjadi mesin kemenangan. Kontraknya telah diperpanjang hingga 2032, yang berarti era keemasan sepak bola Spanyol mungkin baru saja dimulai.
Tujuan berikutnya, Praha. Tetapi apa pun lawannya, satu hal sudah pasti: ketika tim Spanyol ini melangkah ke lapangan, mereka membawa bukan hanya keinginan untuk menang, tetapi juga keyakinan yang membuat semua lawan gemetar — mereka sudah lama lupa bagaimana rasanya kalah.














