Malam 1 Suro merupakan salah satu malam yang sangat dikenal dalam budaya masyarakat Jawa. Setiap tahunnya, ketika kalender Jawa memasuki tanggal 1 Suro, berbagai kegiatan dilakukan oleh sebagian masyarakat, mulai dari tirakat, doa bersama, kirab pusaka, kungkum, hingga berbagai ritual adat lainnya. Di tengah tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji: bagaimana hukum mengucapkan “Selamat Malam 1 Suro” dalam Islam? Apakah termasuk amalan yang dibenarkan, atau justru bagian dari keyakinan yang perlu diluruskan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu sejarah lahirnya bulan Suro. Kata “Suro” sebenarnya berasal dari kata Arab *عَاشُورَاءُ (Āsyūrā’)*, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram. Dalam perkembangannya, masyarakat Jawa menyebut bulan Muharram sebagai bulan Suro. Perubahan istilah ini terjadi ketika Islam berkembang di tanah Jawa dan berinteraksi dengan budaya lokal yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.
Secara historis, kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil reformasi yang dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram pada tahun 1633 Masehi. Sebelum masa Sultan Agung, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu. Sultan Agung kemudian menggabungkan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah Islam sehingga lahirlah kalender Jawa-Islam yang tetap mempertahankan nama-nama pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Karena kalender Jawa mengikuti peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, maka bulan pertama dalam kalender Jawa disejajarkan dengan bulan Muharram. Dari sinilah istilah Suro menjadi sangat populer dalam masyarakat Jawa. Namun perlu dipahami bahwa kemuliaan yang sesungguhnya dalam Islam bukan terletak pada istilah Suro, melainkan pada bulan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah.
Allah berfirman:
﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ﴾
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ »
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa keutamaan Muharram terletak pada ibadah yang dianjurkan syariat, bukan pada ritual-ritual yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Sunnah.
Lalu bagaimana hukum mengucapkan “Selamat Malam 1 Suro” atau “Selamat Tahun Baru Suro”?
Para ulama pada umumnya menjelaskan bahwa hukum ucapan tersebut kembali kepada niat dan maknanya. Jika sekadar ucapan sosial untuk menyambut pergantian tahun dalam kalender Jawa tanpa meyakini adanya kesakralan tertentu yang bertentangan dengan akidah Islam, maka hukumnya boleh sebagai bentuk muamalah dan adat kebiasaan.
Kaidah fikih menyebutkan:
« الْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ »
“Hukum asal dalam perkara adat adalah boleh.”
Namun apabila ucapan tersebut disertai keyakinan bahwa malam 1 Suro memiliki kekuatan gaib tertentu, mendatangkan keberuntungan, atau diyakini sebagai malam yang harus ditakuti karena membawa kesialan, maka keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar dalam Islam.
Allah berfirman:
﴿ وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ﴾
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17)
Islam mengajarkan bahwa segala manfaat dan mudarat berada dalam kekuasaan Allah semata, bukan pada tanggal, bulan, hari, benda pusaka, atau ritual tertentu.
Dalam sebagian masyarakat Jawa berkembang kepercayaan bahwa malam 1 Suro adalah malam yang angker, malam keluarnya makhluk halus, atau malam yang tidak baik untuk mengadakan hajatan. Kepercayaan seperti ini lahir dari percampuran antara tradisi lokal, mitologi, dan keyakinan lama yang berkembang sebelum datangnya Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ »
“Tidak ada kesialan yang menular dengan sendirinya dan tidak ada anggapan sial karena sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar bahwa Islam menolak tathayyur, yaitu menganggap waktu, tempat, atau kejadian tertentu sebagai pembawa kesialan.
Dari sisi sejarah, munculnya berbagai ritual malam Suro merupakan hasil akulturasi panjang antara budaya Jawa, tradisi keraton, pengaruh Hindu-Buddha, serta dakwah Islam yang berkembang selama berabad-abad. Sebagian ritual memiliki nilai budaya dan sejarah, namun tidak semuanya memiliki nilai ibadah dalam pandangan syariat.
Akibat positif dari peringatan malam 1 Suro adalah munculnya momentum muhasabah, introspeksi diri, mempererat silaturahmi, menjaga warisan budaya, dan mengingat pergantian waktu sebagai tanda perjalanan hidup manusia. Jika diisi dengan doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbaiki diri, maka hal tersebut termasuk perbuatan yang baik.
Sebaliknya, akibat negatif dapat muncul ketika masyarakat lebih sibuk dengan ritual mistik daripada ibadah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Ketika keyakinan terhadap benda pusaka, tempat keramat, atau kekuatan malam tertentu mengalahkan ketergantungan kepada Allah, maka di situlah muncul penyimpangan akidah yang harus diwaspadai.
Karena itu, sikap yang paling bijak adalah memandang malam 1 Suro sebagai bagian dari tradisi budaya yang boleh dihargai selama tidak bertentangan dengan syariat. Umat Islam hendaknya mengisi pergantian tahun dengan memperbanyak istighfar, dzikir, sedekah, silaturahmi, dan amal saleh, bukan dengan ketakutan yang berlebihan ataupun keyakinan yang tidak memiliki landasan agama.
Malam Suro pada akhirnya bukanlah malam yang harus ditakuti, bukan pula malam yang otomatis membawa keberuntungan. Ia hanyalah penanda pergantian waktu. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukan tanggal yang ia lalui, melainkan amal yang ia bawa di hadapan Allah. Sebab sejarah mengajarkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mitos, tetapi oleh ilmu, iman, dan ketakwaan.
Allah berfirman:
﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ﴾
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Maka jika ingin menyambut 1 Suro, sambutlah dengan memperbarui iman, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena yang akan ditanya kelak bukan berapa kali kita merayakan Suro, melainkan apa yang telah kita lakukan selama waktu yang Allah berikan.










