Di tengah hiruk-pikuk interogasi sosial yang kerap melabeli lelaki lajang seusia senja sebagai sosok yang “kalah” atau “tidak lurus”, seorang dosen dan penulis pemikiran Islam berusia 40 tahun justru menemukan makna kemerdekaan jiwa melalui kesendirian yang bermartabat. Hurairah, demikian ia akrab disapa, menjalani hari-harinya dengan rambut yang telah memutih sempurna menyamai warna jubah katun yang kerap ia kenakan, ditemani aroma kopi hitam dan wangi lembaran kertas tua di perpustakaan pribadinya yang memuat ribuan kitab.
Pertanyaan bernada interogasi masih kerap mampir di sela-sela kajian atau saat berkumpul dengan keluarga besar: “Sudah mapan, punya ilmu, rumah ada, lalu tunggu apa lagi? Mengapa memilih kalah dan menyerah pada takdir pernikahan?” Kata “kalah” selalu menjadi penekanan yang getir. Namun Hurairah hanya tersenyum. Baginya, ia tidak pernah memilih untuk kalah. Ia hanya memilih untuk tunduk pada skenario yang sudah dituliskan di Lauh Mahfuzh.
Sore itu, keponakannya, Jihan (28), yang sedang dilanda kecemasan karena beberapa kali proses taaruf kandas di tengah jalan, datang berkunjung. “Paman hidup sendiri, tapi rumah ini rasanya begitu damai. Apakah Paman tidak pernah merasa kesepian? Atau merasa gagal sebagai seorang lelaki muslim karena tidak menggenapkan separuh agama?” tanya Jihan.
Hurairah lalu mengajak keponakannya meneladani kisah Abu Hurairah RA, sang perawi hadis terbanyak yang menjadi bagian dari Ahlus Suffah—para sahabat yang tinggal di emperan Masjid Nabawi. “Beliau memilih hidup dalam kefakiran dan kelajangan dalam waktu yang sangat lama demi bisa duduk di dekat Rasulullah, menghafal setiap sabda, dan menjaga warisan Islam,” jelas Hurairah. “Beliau tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi atau mencari nafkah untuk keluarga karena jiwanya sudah diwakafkan untuk ilmu.”
Hurairah menegaskan bahwa jodoh adalah wilayah Qadha’—ketetapan Allah yang misterius. Ketika seorang lelaki telah berikhtiar namun takdir belum mempertemukannya dengan belahan jiwa, maka kesendirian bukanlah aib, melainkan tugas baru. “Menjadi lajang sampai akhir hayat bukan berarti kita mengibarkan bendera putih pada kehidupan. Ketika Allah tidak memberi paman amanah untuk menjaga seorang istri dan anak, paman paham bahwa Allah sedang meminta paman menjaga hal lain: ilmu pengetahuan, para santri, dan umat.”
Hurairah tidak menafikan ada malam-malam di mana sunyi terasa begitu pekat. Namun di sepertiga malam, saat seluruh kota tertidur, ia justru menemukan “pasangan” dialognya yang paling mesra melalui hamparan sajadah. “Pernikahan adalah ujian bagaimana kita berbagi ego. Sedangkan kelajangan yang dipaksakan oleh takdir adalah ujian bagaimana kita mengelola sepi menjadi energi yang maslahat.”
Dengan meneladani spirit kesetiaan ilmu dari sahabat nabi, Hurairah membuktikan bahwa mencintai Allah dengan seluruh sisa hidup bisa dilakukan dalam bentuk apa pun—termasuk melalui kesendirian yang bermartabat. Malam itu, Jihan pulang dengan hati yang jauh lebih ringan. Sementara Hurairah kembali membuka lembaran kertas baru, mencelupkan penanya, dan mulai menulis.
Editor: Marjoko








