• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Ketika Takdir Dipakai Menutupi Tragedi, Iman yang Runtuh di Tengah Pengecoran

PasMu Media oleh PasMu Media
8 bulan yang lalu
in Opini
0
foto: istimewa

foto: istimewa

13
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Kyai mondar-mandir pakai Mercy. Tapi ketika pondok dibangun, yang turun tangan justru para santri. Mereka jadi tukang dadakan, demi hemat biaya. Tangan-tangan yang semestinya memegang kitab, menimba ilmu serta memperbanyak hafalan, malah menggenggam sekop dan ember semen. Untuk menaikkan hasil campuran cor ke atas lantai yang akan di bangun

Dan ketika bangunan itu ambruk, mereka disebut syahid. Semua dibungkus rapi dengan kata “takdir”. Hebat ya, dagang pahala, untungnya dunia, bungkusnya surga.

Tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo bukan cuma soal tembok yang runtuh, tapi tentang nurani yang ikut roboh. Puluhan santri kehilangan nyawa, ratusan luka-luka. Tangis para orang tua pecah di depan reruntuhan. Di antara debu dan beton, ada sandal jepit kecil, kitab yang koyak, dan sisa-sisa harapan yang tak sempat tumbuh.

Bangunan itu baru saja selesai pengecoran lantai tiga. Padahal, menurut pakar teknik dari ITS, pondasi awalnya hanya untuk satu lantai. Tapi pengurus tetap menambah lantai demi lantai, seolah keyakinan bisa menggantikan perhitungan. Tak ada izin, tak ada pengawasan, dan yang bekerja pun bukan tukang, melainkan para santri sendiri.

Related Post

Semarak Milad 'Aisyiyah ke-109: senam, cek kesehatan, bazar, dan tasyakuran untuk hidup sehat. (foto: Mawaridah/pasmu.id)

Semarak Milad ‘Aisyiyah ke-109, Senam Bersama Ibu Wakil Wali Kota Pasuruan Menjadi Syiar Healthy Life Campaign

7 Juni 2026
Rehab Masjid Darul Arqom Masuk Fase Kritis, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi. (Foto: Agus/pasmu.id)

Rehab Masjid Darul Arqom, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi

7 Juni 2026

Menjaga Fitrah di Era Digital: Refleksi Kesombongan Iblis dan Remeh-remeh Kehidupan

7 Juni 2026

Menjaga Raga di Usia Senja: Memetik Hikmah Sehat Fisik, Jiwa, dan Sosial Bersama dr. Husni Muzakir Al Habsyi

7 Juni 2026

Beberapa orang tua santri bersaksi, anak mereka sering disuruh membantu pengecoran. Bahkan ada yang menjadikannya hukuman bagi santri yang melanggar aturan. Hukuman yang dibungkus dalih pendidikan mental. Padahal, apa yang bisa dididik dari bahaya yang tak mereka pahami?

Lalu, ketika bangunan itu runtuh, mereka berkata: ini ujian dari Allah, ini takdir. Padahal, takdir tidak pernah menafikan tanggung jawab manusia. Takdir tidak menulis dengan beton yang retak dan izin yang diabaikan.

Yang paling menyayat bukan hanya kabar duka, tapi bagaimana tragedi ini dinarasikan. Semua dibungkus dengan bahasa religius yang menenangkan tapi juga meninabobokan. Seolah Tuhan yang bersalah, bukan manusia yang lalai. Seolah nyawa-nyawa yang melayang adalah harga wajar dari pembangunan pondok yang megah.

Kyai memang pantas dihormati. Tapi hormat tidak berarti membutakan hati dan akal. Mengkritik bukan berarti durhaka, justru bentuk kasih sayang agar kebenaran tak dibungkam. Karena kalau setiap kesalahan disucikan atas nama agama, maka agama tinggal jadi pelindung bagi mereka yang menolak disalahkan.

Saya membayangkan para santri itu. Anak-anak muda yang meninggalkan rumah demi ilmu, tapi malah pulang dalam peti. Mungkin mereka tak pernah mengeluh saat disuruh mengangkut pasir atau menyiram coran. Mereka mengira sedang berkhidmat. Mereka percaya, semua yang diperintahkan guru adalah kebaikan. Karena di pondok, kata “ta’dzim” adalah hukum tertinggi.

Tapi kadang, ketaatan yang tak dilandasi nalar justru berbuah petaka. Mungkin inilah luka paling dalam dari tragedi ini, ketika kesalehan digunakan untuk menutupi keserakahan. Ketika kelalaian dibungkus dengan istilah ujian. Ketika tanggung jawab dihapus oleh kalimat “ini sudah takdir”.

Padahal, di balik semua ini, ada orang tua yang kehilangan anak, ada sahabat yang tak sempat pamit, ada masa depan yang patah sebelum mekar.

Salah satu orangtua korban bahkan menolak uang santunan dari pihak pondok. Ia berkata, “Saya tidak butuh uang, saya hanya ingin doa yang suci atau keridhoan yang Kyai, doa yang tidak diperdagangkan.”Kalimat itu seperti cambuk. Karena di zaman ini, kesucian sering dijual dalam bungkus ketaatan, sementara nurani perlahan kehilangan suara.

Kita memang tak bisa menolak takdir, tapi kita bisa menolak kecerobohan. Kita tak bisa mengembalikan nyawa, tapi kita bisa menuntut tanggung jawab. Karena agama sejatinya bukan hanya soal sabar, tapi juga soal adil.

Tragedi Al-Khoziny seharusnya membuka mata kita, bahwa pondok bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, tapi juga ruang di mana nilai kemanusiaan harus dijaga. Bahwa membangun pesantren bukan hanya tentang tinggi bangunan, tapi kuatnya etika dan tanggung jawab di bawahnya.

Kalau kita terus diam, besok mungkin akan ada lagi pondok-pondok roboh. Akan ada lagi santri-santri yang disebut syahid karena kelalaian yang dibiarkan. Dan lagi-lagi, semuanya akan disebut “takdir”. Padahal, Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk lalai. Tuhan hanya meminta kita untuk jujur, pada iman, pada akal, dan pada kemanusiaan.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Share5Tweet3Share1
PasMu Media

PasMu Media

Related Posts

Semarak Milad 'Aisyiyah ke-109: senam, cek kesehatan, bazar, dan tasyakuran untuk hidup sehat. (foto: Mawaridah/pasmu.id)
Kabar

Semarak Milad ‘Aisyiyah ke-109, Senam Bersama Ibu Wakil Wali Kota Pasuruan Menjadi Syiar Healthy Life Campaign

oleh Nurul Mawaridah
7 Juni 2026
Rehab Masjid Darul Arqom Masuk Fase Kritis, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi. (Foto: Agus/pasmu.id)
Kabar

Rehab Masjid Darul Arqom, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi

oleh Agus Salim
7 Juni 2026
Ustadz Baidowi, dalam kajian ahad pagi, Iblis sombong karena api, manusia sombong karena dunia, lupa menjaga fitrah di era digital. (foto: Firnas/pasmu.id)
Kabar

Menjaga Fitrah di Era Digital: Refleksi Kesombongan Iblis dan Remeh-remeh Kehidupan

oleh Firnas Muttaqin
7 Juni 2026
Next Post

Jadi Salah Satu Investor, Muhammadiyah Kota Pasuruan Hadiri Launching Toko BASMALAH Cabang Baru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Semarak Milad 'Aisyiyah ke-109: senam, cek kesehatan, bazar, dan tasyakuran untuk hidup sehat. (foto: Mawaridah/pasmu.id)

Semarak Milad ‘Aisyiyah ke-109, Senam Bersama Ibu Wakil Wali Kota Pasuruan Menjadi Syiar Healthy Life Campaign

7 Juni 2026
Rehab Masjid Darul Arqom Masuk Fase Kritis, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi. (Foto: Agus/pasmu.id)

Rehab Masjid Darul Arqom, Pekerja Lakukan Ini Biar Kubah Besar Tak Rembes Lagi

7 Juni 2026
Ustadz Baidowi, dalam kajian ahad pagi, Iblis sombong karena api, manusia sombong karena dunia, lupa menjaga fitrah di era digital. (foto: Firnas/pasmu.id)

Menjaga Fitrah di Era Digital: Refleksi Kesombongan Iblis dan Remeh-remeh Kehidupan

7 Juni 2026
Kajian di Masjid Darul Arqom, Jaga sehat fisik, jiwa, dan sosial agar masa tua tetap bugar, mandiri, dan bahagia. (foto: Suharsono/pasmu.id)

Menjaga Raga di Usia Senja: Memetik Hikmah Sehat Fisik, Jiwa, dan Sosial Bersama dr. Husni Muzakir Al Habsyi

7 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan