• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

1 Malam Suro itu Tradisi atau Syariat Sih?

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
38 detik yang lalu
in Opini
0
Malam 1 Suro tradisi budaya, bukan syariat. Isi dengan ibadah, jauhi mitos kesialan. (Ilustrasi: AI)

Malam 1 Suro tradisi budaya, bukan syariat. Isi dengan ibadah, jauhi mitos kesialan. (Ilustrasi: AI)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Malam 1 Suro merupakan salah satu malam yang sangat dikenal dalam budaya masyarakat Jawa. Setiap tahunnya, ketika kalender Jawa memasuki tanggal 1 Suro, berbagai kegiatan dilakukan oleh sebagian masyarakat, mulai dari tirakat, doa bersama, kirab pusaka, kungkum, hingga berbagai ritual adat lainnya. Di tengah tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji: bagaimana hukum mengucapkan “Selamat Malam 1 Suro” dalam Islam? Apakah termasuk amalan yang dibenarkan, atau justru bagian dari keyakinan yang perlu diluruskan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu sejarah lahirnya bulan Suro. Kata “Suro” sebenarnya berasal dari kata Arab *عَاشُورَاءُ (Āsyūrā’)*, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram. Dalam perkembangannya, masyarakat Jawa menyebut bulan Muharram sebagai bulan Suro. Perubahan istilah ini terjadi ketika Islam berkembang di tanah Jawa dan berinteraksi dengan budaya lokal yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.

Secara historis, kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil reformasi yang dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram pada tahun 1633 Masehi. Sebelum masa Sultan Agung, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu. Sultan Agung kemudian menggabungkan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah Islam sehingga lahirlah kalender Jawa-Islam yang tetap mempertahankan nama-nama pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Karena kalender Jawa mengikuti peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, maka bulan pertama dalam kalender Jawa disejajarkan dengan bulan Muharram. Dari sinilah istilah Suro menjadi sangat populer dalam masyarakat Jawa. Namun perlu dipahami bahwa kemuliaan yang sesungguhnya dalam Islam bukan terletak pada istilah Suro, melainkan pada bulan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah.

Related Post

Meluruskan Mitos Bulan Muharram: Menepis Anggapan Sial dalam Ajaran Islam

27 Juni 2025 - Updated On 28 Juni 2025

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ﴾

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ »

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa keutamaan Muharram terletak pada ibadah yang dianjurkan syariat, bukan pada ritual-ritual yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Sunnah.

Lalu bagaimana hukum mengucapkan “Selamat Malam 1 Suro” atau “Selamat Tahun Baru Suro”?

Para ulama pada umumnya menjelaskan bahwa hukum ucapan tersebut kembali kepada niat dan maknanya. Jika sekadar ucapan sosial untuk menyambut pergantian tahun dalam kalender Jawa tanpa meyakini adanya kesakralan tertentu yang bertentangan dengan akidah Islam, maka hukumnya boleh sebagai bentuk muamalah dan adat kebiasaan.

Kaidah fikih menyebutkan:

« الْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ »

“Hukum asal dalam perkara adat adalah boleh.”

Namun apabila ucapan tersebut disertai keyakinan bahwa malam 1 Suro memiliki kekuatan gaib tertentu, mendatangkan keberuntungan, atau diyakini sebagai malam yang harus ditakuti karena membawa kesialan, maka keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar dalam Islam.

Allah berfirman:

﴿ وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ﴾

“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17)

Islam mengajarkan bahwa segala manfaat dan mudarat berada dalam kekuasaan Allah semata, bukan pada tanggal, bulan, hari, benda pusaka, atau ritual tertentu.

Dalam sebagian masyarakat Jawa berkembang kepercayaan bahwa malam 1 Suro adalah malam yang angker, malam keluarnya makhluk halus, atau malam yang tidak baik untuk mengadakan hajatan. Kepercayaan seperti ini lahir dari percampuran antara tradisi lokal, mitologi, dan keyakinan lama yang berkembang sebelum datangnya Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ »

“Tidak ada kesialan yang menular dengan sendirinya dan tidak ada anggapan sial karena sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar bahwa Islam menolak tathayyur, yaitu menganggap waktu, tempat, atau kejadian tertentu sebagai pembawa kesialan.

Dari sisi sejarah, munculnya berbagai ritual malam Suro merupakan hasil akulturasi panjang antara budaya Jawa, tradisi keraton, pengaruh Hindu-Buddha, serta dakwah Islam yang berkembang selama berabad-abad. Sebagian ritual memiliki nilai budaya dan sejarah, namun tidak semuanya memiliki nilai ibadah dalam pandangan syariat.

Akibat positif dari peringatan malam 1 Suro adalah munculnya momentum muhasabah, introspeksi diri, mempererat silaturahmi, menjaga warisan budaya, dan mengingat pergantian waktu sebagai tanda perjalanan hidup manusia. Jika diisi dengan doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbaiki diri, maka hal tersebut termasuk perbuatan yang baik.

Sebaliknya, akibat negatif dapat muncul ketika masyarakat lebih sibuk dengan ritual mistik daripada ibadah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Ketika keyakinan terhadap benda pusaka, tempat keramat, atau kekuatan malam tertentu mengalahkan ketergantungan kepada Allah, maka di situlah muncul penyimpangan akidah yang harus diwaspadai.

Karena itu, sikap yang paling bijak adalah memandang malam 1 Suro sebagai bagian dari tradisi budaya yang boleh dihargai selama tidak bertentangan dengan syariat. Umat Islam hendaknya mengisi pergantian tahun dengan memperbanyak istighfar, dzikir, sedekah, silaturahmi, dan amal saleh, bukan dengan ketakutan yang berlebihan ataupun keyakinan yang tidak memiliki landasan agama.

Malam Suro pada akhirnya bukanlah malam yang harus ditakuti, bukan pula malam yang otomatis membawa keberuntungan. Ia hanyalah penanda pergantian waktu. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukan tanggal yang ia lalui, melainkan amal yang ia bawa di hadapan Allah. Sebab sejarah mengajarkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mitos, tetapi oleh ilmu, iman, dan ketakwaan.

Allah berfirman:

﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ﴾

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Maka jika ingin menyambut 1 Suro, sambutlah dengan memperbarui iman, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena yang akan ditanya kelak bukan berapa kali kita merayakan Suro, melainkan apa yang telah kita lakukan selama waktu yang Allah berikan.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: hijriyahsurotahun baru islam
ShareTweetShare
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

Opini

Meluruskan Mitos Bulan Muharram: Menepis Anggapan Sial dalam Ajaran Islam

oleh Marjoko
27 Juni 2025 - Updated On 28 Juni 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Bu Safa dan siswa SD Al Kautsar berfoto bersama Dean Bragonier usai workshop inklusi di UMM/foto: Istimewa pasmu.id

Workshop Notice Ability di UMM Bangun Semangat Pendidikan Inklusif, Kepala SD Al Kautsar: “Setiap Anak Memiliki Potensi yang Harus Dilihat”

25 Mei 2026 - Updated On 26 Mei 2026
Malam 1 Suro tradisi budaya, bukan syariat. Isi dengan ibadah, jauhi mitos kesialan. (Ilustrasi: AI)

1 Malam Suro itu Tradisi atau Syariat Sih?

16 Juni 2026
Ngopi, berbagi inspirasi, dan menguatkan semangat hijrah bersama Pemuda Muhammadiyah dalam suasana hangat islami. (Ilustrasi: pasmu.id)

Ngopi untuk Gen Z dan Milenial, DeepTalk AMM Hadirkan Semangat Hijrah dalam Suasana Ala Cafe

15 Juni 2026
Jodoh bukan ukuran takwa. Lajang hingga wafat bisa jadi mulia jika hati tetap dekat Allah. (Ilustrasi: AI)

Sudut Pandang Islam Tentang Jodoh yang Tak Kunjung Datang

15 Juni 2026
Kelajangan bukan kekalahan, melainkan ruang sunyi untuk memenangkan cinta kepada-Nya. (Ilustrasi: AI)

Lentera yang Tetap Menyala

15 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan