Membuka ceramah dengan tadabbur Surah Al-Hajj ayat 1-4, Ustaz Abu Nasir mengingatkan tentang guncangan hari kiamat yang besar. Pesan teologis ini dibawanya untuk menyadarkan peserta refleksi akhir tahun bahwa waktu di dunia sangat terbatas. Oleh karena itu, membangun amal usaha dan peradaban yang bermanfaat adalah cara terbaik untuk mengisi sejarah kehidupan sebelum menghadap Sang Pencipta.
“Pemimpin yang berintegritas tidak butuh validasi orang lain.” Kalimat tegas ini menjadi salah satu esensi penting yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Ustaz Abu Nasir, dalam acara Refleksi Akhir Tahun yang digelar di Tosari Pasuruan, Selasa (23/12/2025).
Di hadapan jajaran pimpinan dan kader muda Muhammadiyah, Ustaz Abu Nasir membedah arah baru organisasi yang kini tidak lagi sekadar berkutat pada urusan ritual, melainkan bergerak menuju pembangunan peradaban global yang lebih luas.
Integritas: Menaklukkan Ego untuk Ekosistem
Bagi Ustaz Abu Nasir, integritas adalah fondasi utama bagi setiap penggerak persyarikatan. Ia menekankan bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan kesesuaian antara hati, perkataan, dan perbuatan.
- Pengendalian Diri: Beliau menyoroti bahwa musuh terbesar pemimpin adalah ego. “Integritas berarti kemampuan mengendalikan ego. Orang yang fokus pada kualitas diri tidak akan membiarkan pikirannya diracuni oleh penyakit hati hanya karena butuh pengakuan,” tegasnya.
- Kualitas Interaksi: Abu Nasir mengingatkan bahwa buruknya komunikasi dan interaksi dalam organisasi seringkali bermuara pada rendahnya kualitas diri pemimpin yang gagal beradaptasi dengan lingkungannya.
Muhammadiyah sebagai Branding Peradaban
Dalam pidatonya, Ustaz Abu Nasir memaparkan bahwa Muhammadiyah telah memiliki differentiating factor atau faktor pembeda yang sangat jelas di mata masyarakat dunia.
- Diakui Dunia: Beliau mencontohkan bagaimana lembaga internasional seperti UEA (Uni Emirat Arab) mempercayakan penyaluran bantuan 30 ton logistik melalui Muhammadiyah. Ini membuktikan bahwa posisi tawar (positioning) organisasi sudah sangat kokoh di tingkat global.
- Melampaui Hal Normatif: “Bagi Muhammadiyah, urusan fiqh yang sifatnya normatif itu sudah selesai. Sekarang saatnya kita masuk ke ranah historis; memenangkan sejarah dengan membangun peradaban,” ujarnya merujuk pada langkah-langkah strategis internasional Muhammadiyah.
Memutus Mentalitas “Ingah-Ingih”
Salah satu poin paling tajam dalam refleksinya adalah ajakan untuk meninggalkan mentalitas lama yang menghambat kemajuan. Ustaz Abu Nasir mengajak seluruh elemen Muhammadiyah Kota Pasuruan untuk bertransformasi total.
“Jangan sampai kita menjadi orang yang ‘ingah-ingih’, ‘kelewas-kelewes’ (tidak berdaya), sedikit-sedikit mengeluh, atau terjebak dalam ‘lok-lokan’ (saling mengejek). Itu paradigma lama yang harus kita tinggalkan.”
Beliau menekankan bahwa kader Muhammadiyah harus memiliki respon yang cepat terhadap dinamika zaman. Menutup telinga dari pembicaraan negatif di luar sana, ia berpesan, “Orang yang membicarakan kita berarti mereka berada di belakang kita. Fokuslah pada capaian peradaban.”
Acara refleksi ini ditutup dengan semangat baru untuk seluruh organisasi, mulai dari tingkat ranting hingga daerah, agar lebih proaktif dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di tahun 2026.
Editor: Yogi Arfan














Acara yg sangat mengesankan, ditunggu acara semacamnya. Menarik n antusias para undangan…