Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Ukhuwah, Kota Pasuruan, pada Rabu pagi (25/2/2026). Para jamaah berkumpul untuk mengikuti pengajian pagi yang kali ini terasa istimewa dengan kehadiran seorang ulama langsung dari bumi Gaza, Palestina, Syekh Muhammad Hamd.
Dalam tausiyahnya, beliau membawa pesan mendalam tentang ikatan aqidah yang melampaui batas geografis, warna kulit, dan bahasa.
Ramadan dan Nikmat Hidayah
Membuka ceramahnya dengan rasa syukur, Syekh Muhammad Hamd mengingatkan jamaah bahwa kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadan adalah rezeki yang tak ternilai. Ia menyoroti betapa miliaran manusia di luar sana belum mendapatkan hidayah Islam dan tidak mengenal indahnya ibadah di bulan suci ini.
“Agama Islam adalah ikatan yang amat kuat. Meski kita berbeda ras dan adat istiadat, jarak jauh antara Gaza dan Indonesia seolah sirna karena kita adalah saudara seiman,” ungkapnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.
Gaza: Menjaga Tanah Wakaf Umat Islam
Syekh Muhammad Hamd memaparkan kondisi terkini di Palestina, khususnya Gaza, yang dalam dua tahun terakhir mengalami eskalasi konflik paling parah sepanjang 70 tahun pendudukan. Ia menegaskan bahwa Palestina bukan sekadar masalah warga lokal, melainkan tanah wakaf bagi seluruh umat Islam dunia (Ardil Mubarokah).
Beliau merujuk pada peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai bukti kesucian tanah tersebut, tempat di mana Nabi Muhammad SAW mengimami para nabi. “Penjajah zionis berusaha meratakan Gaza dengan tanah, menghancurkan masjid, rumah sakit, dan sekolah. Namun, rakyat Gaza memilih bertahan. Pilihannya hanya dua: Nashr (menang) atau Syahid,” tegasnya.
“Hutang” Umat Islam dan Langkah Nyata
Syekh mengingatkan bahwa setiap muslim akan ditanya oleh Allah SWT di akhirat kelak mengenai kontribusi mereka terhadap penderitaan saudara di Palestina. Ia menekankan tiga langkah konkret yang bisa dilakukan oleh masyarakat di Indonesia:
- Doa yang Tak Terputus: Terus memohon keselamatan dan kemerdekaan Palestina serta kesempatan untuk shalat di Masjidil Aqsa.
- Edukasi Generasi Mendatang: Mengajarkan anak-anak tentang sejarah Palestina dan Masjidil Aqsa agar semangat pembelaan tetap menyala di masa depan.
- Kontribusi Nyata: Baik melalui bantuan harta maupun “bantuan kata-kata” (opini) untuk terus menyuarakan kebenaran di forum internasional dan media sosial.
Diplomasi dan Solidaritas Indonesia
Menanggapi pertanyaan jamaah mengenai peran negara-negara Arab di sekitar Palestina, Syekh menjelaskan bahwa banyak negara tetangga yang saat ini sedang disibukkan oleh konflik internal dan tekanan politik luar negeri. Namun, ia secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada rakyat Indonesia.
“Orang Indonesia adalah garda terdepan dalam membantu kami. Kami sangat merasakan bantuan dan dukungan moral dari sini. Saya membawa salam takzim dan rasa terima kasih yang besar dari saudara-saudara kalian di Gaza,” tuturnya.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemerdekaan Palestina dan harapan agar umat Islam dapat berkumpul kembali, tidak hanya di Masjidil Aqsa yang merdeka, tetapi juga di jannah-Nya kelak.












