Pasuruan, 7 Agustus 2026 – Mimbar ibadah sholat Jumat di Masjid At-Taqwa Jagalan menghadirkan nuansa tersendiri. Mengangkat tajuk utama “Izinkan Aku (Masih) Mencintaimu”, khotib Ustadz M. Muslimaini Errifai dalam khotbahnya tidak sekadar menyampaikan petuah ritualistik, melainkan mengajak jemaah mengotopsi kembali relasi antara cinta, ketakwaan, dan realitas sosial masa kini.
Secara eksplisit, narasi “Izinkan Aku (Masih) Mencintaimu” diarahkan sebagai sebuah manifestasi pembuktian cinta yang autentik—baik cinta kepada Pencipta maupun sesama manusia. Khotib menekankan bahwa rasa cinta yang sejati tidak boleh berhenti pada serangkaian ungkapan verbal atau ibadah ritual yang bersifat egoistis, melainkan harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial yang berdampak nyata.
Membongkar Paradoks Kesalehan Ritual dan Realitas Sosial
Dalam khotbahnya, M. Muslimaini Errifai mengutip dikotomi mendasar dalam ajaran Islam: pentingnya menjaga keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Ia menyoroti fenomena hari ini di mana geliat keagamaan tampak begitu semarak—mulai dari pembangunan fisik rumah ibadah, padatnya majelis taklim, hingga angka kunjungan ibadah ke Tanah Suci yang terus melonjak—namun kerap belum berbanding lurus dengan perbaikan etika publik.
”Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah secara ritual, tetapi lalai dan abai terhadap persoalan kemanusiaan di sekitar kita,” ujar M. Muslimaini Errifai di hadapan jemaah sholat Jumat.
Isu integritas sosial turut menjadi sorotan analitis dalam khotbah tersebut. Disebutkan bahwa fenomena penyimpangan kewenangan, ketidakjujuran, hingga praktik korupsi masih menjadi tantangan berat bangsa. Indikator objektif seperti Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang masih memprihatinkan menjadi cermin bahwa ada jarak (gap) yang lumayan lebar antara kesalehan ritual di dalam tempat ibadah dan praktik perilaku di ruang publik.
Meneladani Relasi Nabi Musa dan Pertanyaan Ibadah Terbaik
Untuk memperkuat tesisnya, khotib mengetengahkan kisah dialog antara Nabi Musa AS dan Allah SWT yang bersumber dari kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali. Dialog tersebut menggarisbawahi bahwa sholat, zikrullah, hingga puasa pada dasarnya berpulang untuk kebaikan personal sang hamba—seperti menjaga dari perbuatan keji, menenangkan hati, dan mengontrol hawa nafsu.
Namun, ketika ditanyakan ibadah apa yang paling dicintai-Nya, kebahagiaan yang dihadirkan bagi orang yang sedang mengalami kesulitan dan kesusahan sosial-lah yang menjadi jawabannya. Khotib merangkumnya dengan kutipan hadis populer, khairunnas anfahum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi kemaslahatan bagi manusia lainnya.
Manifestasi “Masih Mencintai” dalam Aksinyata
Refleksi “Izinkan Aku (Masih) Mencintaimu” di penghujung khotbah diterjemahkan sebagai ikhtiar untuk membumikan ajaran agama agar tidak mandek pada dogma atau seremoni semata. Mengutip pemikiran cendekiawan Muslim almarhum Prof. Azyumardi Azra, agama dituntut untuk senantiasa menghadirkan nilai kasih sayang, keadilan, dan perdamaian di dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa Jagalan ini, jemaah diajak merefleksikan kembali posisi dirinya: apakah rutinitas ibadah yang dijalankan selama ini sudah benar-benar melahirkan kepedulian pada fakir miskin, anak yatim, dan kebaikan lingkungan, ataukah sekadar penanda religiositas lahiriah semata.














