Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan menyelenggarakan kegiatan Upgrading Pimpinan Ortom Tingkat Daerah/Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Pasuruan pada Sabtu, 13 Desember 2025, bertempat di Hotel Nasional. Kegiatan ini mengusung tema “Menggali Potensi, Wujudkan Aksi, Membangun Sinergi” sebagai upaya penguatan kapasitas kepemimpinan generasi muda Muhammadiyah.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan PDM Kota Pasuruan, di antaranya Ustaz M. Nuryasin, Ustaz Anang Abdul Malik, dan Ustaz Akhyar. Turut hadir Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Pasuruan, Moh. Solehudin. Peserta upgrading berasal dari unsur Angkatan Muda Muhammadiyah, meliputi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Kwartir Daerah Hizbul Wathan, serta Pimda 038 Tapak Suci.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah yang diikuti seluruh peserta. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kabag Kesra Kota Pasuruan, Moh. Solehudin. Dalam sambutannya, ia menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan upgrading tersebut. “Saya mendukung acara ini, bagaimana agar kaum muda bisa mengekspresikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sesi keynote speech disampaikan oleh Ustaz M. Nuryasin yang menggantikan Ustaz Abu Nasir karena berhalangan hadir. Dalam materinya bertajuk “Upgrade Diri”, Ustaz Nuryasin menekankan pentingnya pengembangan kapasitas diri di tengah tantangan zaman. Menurutnya, terdapat sejumlah alasan mendasar mengapa setiap kader harus terus melakukan peningkatan diri, antara lain visi ilahi, potensi yang dimiliki, adanya estafet kepemimpinan, pentingnya sinergi, kompetisi, peluang peningkatan rezeki, serta penilaian dari Allah SWT.
Ia juga menegaskan bahwa ukuran seseorang dalam bekerja bukan sekadar pada proses, melainkan pada hasil yang tuntas. Hal tersebut ia jelaskan melalui empat tangga bekerja, yakni kecil proses, kecil dan beres, besar proses, serta besar dan beres. Selain itu, Ustaz Nuryasin memaparkan cara menambah kapasitas diri, yaitu memiliki kemauan dan doa, menambah ilmu, bersedia dipandu, serta siap menerima amanah baru.
Materi pertama setelah keynote speech disampaikan oleh Ustaz Moh. Taufik dengan tema Rencana Tindak Lanjut Upgrading AMM. Ia menyoroti paradigma kepemimpinan yang dibagi ke dalam delapan prinsip, yaitu trust, openness, paradigma torsi, responsibility, synergy, empowering, interdependence, serta prinsip 5K: komitmen, kompak, kokoh, kontribusi, dan konsisten.
Paradigma tersebut, menurutnya, relevan dengan kepemimpinan Muhammadiyah yang dimaknai sebagai kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan seluruh organ persyarikatan secara sistematis dalam menjalankan misi untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Setelah sesi istirahat, shalat, dan makan (ishoma), kegiatan dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh Hery Kustanto bertajuk “Aktualisasi Diri dan Kontribusi AMM di Persyarikatan dan Ruang Publik”. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan adalah tentang keberanian mengambil tanggung jawab, bukan mencari alasan. Menurutnya, setiap kontribusi kebaikan tidak akan hilang, melainkan akan kembali dalam bentuk lain. Ia juga menyampaikan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menyiapkan penggantinya menjadi pemimpin yang lebih baik.
Dalam paparannya, Hery Kustanto menguraikan tujuh leadership skills dalam Muhammadiyah, yakni etos kebesaran dengan landasan ilmu dan keikhlasan, memahami karakteristik “pelanggan” atau objek dakwah, menciptakan narasi dan inovasi baru, kolaborasi, pemanfaatan media sosial, manajemen waktu, serta orientasi pada manfaat dan solusi bagi masyarakat. Ia menutup dengan menegaskan bahwa prinsip pemimpin yang baik dan berhasil hanya ada dua, yaitu dermawan dan bijaksana.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Marjoko dengan tema “Keharusan dan Relevansi Ber-Muhammadiyah di Era Milenial”. Ia menjelaskan latar belakang lahirnya Muhammadiyah dari kegelisahan K.H. Ahmad Dahlan terhadap kondisi umat Islam yang tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pemikiran, serta masih bercampurnya ajaran Islam dengan praktik syirik dan khurafat. Menurutnya, karakter dakwah Muhammadiyah menekankan logika, ilmu, dan amal usaha, bukan kisah mistik atau karomah.
Marjoko juga mengulas makna “wajib bermuhammadiyah”. Menurutnya, jika bermuhammadiyah dimaknai sebagai berislam dengan akal sehat, menghindari kultus figur, dan beramal berdasarkan ilmu, maka sikap tersebut memang layak disebut wajib. Namun, jika hanya sebatas keanggotaan tanpa kesadaran nilai, hal itu tidak lebih dari fanatisme simbolik. Muhammadiyah, tegasnya, adalah kesadaran ideologis, bukan sekadar atribut organisasi.
Pada sesi akhir, Ustaz Anang Abdul Malik memandu focus group discussion (FGD) sekaligus memberikan kesimpulan atas seluruh rangkaian materi. Ia memaparkan syarat-syarat agar sebuah generasi mampu bertahan dan berperan di abad ke-21, yaitu memiliki kompetensi berpikir kritis, kreativitas, kemampuan kolaboratif, keterampilan komunikasi asertif dengan meneladani Nabi Muhammad SAW, serta compassion atau welas asih yang luas.
Melalui kegiatan upgrading ini, PDM Kota Pasuruan berharap kapasitas kepemimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah semakin meningkat, sehingga mampu berkontribusi secara nyata bagi persyarikatan dan masyarakat luas di tengah dinamika zaman.













