Rangkaian acara doa dan sholawat bersama menandai peluncuran resmi (launching) renovasi Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, pada Rabu malam 22/10/2025. Acara yang dihadiri oleh perwakilan Kementerian Agama, ormas Islam, takmir masjid, dan masyarakat ini menekankan tujuan pembangunan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pelaksana Renovasi, Suedi, menjelaskan bahwa Masjid Al-Ikhlas telah berdiri selama kurang lebih 45 tahun dan merupakan salah satu masjid tertua di kawasan tersebut. “Bangunannya sudah tua, untuk itu kami mohon doa dan restu dari seluruh jamaah agar proses renovasi dapat berjalan lancar,” ujarnya.
Makna Strategis Masjid di Era Modern
Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, Anang Abdul Malik, dalam pidatonya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan jamaah yang telah bersatu padu mewujudkan rencana renovasi ini.
Ia menegaskan bahwa masjid memiliki makna strategis yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat shalat. “Masjid adalah tempat pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Pembangunan masjid ini adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir terus menerus,” katanya, mengutip sabda Rasulullah SAW.
Lebih lanjut, ia berharap renovasi ini menjadi simbol semangat pembaharuan dan persaudaraan (ukhuwah). “Dari sini kita bangun komitmen bersama untuk memakmurkan umat. Masjid ini harus menjadi sentra pembinaan akidah, ibadah, akhlak, dan sosial,” pesannya.
Harapan: Jadi Penanda dan Tempat Istirahat bagi Musafir
Harapan serupa disampaikan oleh Bapak Arief Hernanto, selaku Lurah Bukir. Ia mengungkapkan bahwa lokasi Masjid Al-Ikhlas yang strategis di tepi jalan provinsi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
“Awalnya saya tidak tahu ada masjid di sini. Saya berharap setelah renovasi, masjid ini menjadi penanda yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya musafir yang melintas di jalur provinsi ini untuk beristirahat atau melaksanakan shalat,” ujar Arief.
Ia juga menginformasikan bahwa di wilayah Kelurahan Bukir terdapat sekitar lima masjid, dan Masjid Al-Ikhlas adalah yang paling terlihat dari jalan raya.
Seruan Ajakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Dalam ceramah di acara ini, Dr Rasyidi, Kepala Kementerian Agama Kota Pasuruan mengingatkan kembali Al Quran surah Ali Imron 104 yang intinya menyeru kepada umat untuk saling mengajak dalam kebenaran dan kebaikan, serta mencegah dari kemungkaran. Kelompok yang menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkar ini, menurut ayat tersebut, digolongkan sebagai orang-orang yang beruntung.
“Kita sepakat bahwa ayat ini turun sudah ribuan tahun yang lalu. Maka, ketika kita sampaikan di Indonesia, tentu ada role model-nya,” ujar pembicara, seraya meminta maaf jika terdapat kekeliruan dalam pemaparannya.
Dua tokoh yang diangkat sebagai contoh teladan tersebut adalah pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Hasyim Asy’ari. Keduanya disebutkan memiliki hubungan persaudaraan dan sempat belajar dari guru yang sama, yakni Sayyid Kona Wali Bangkalan, serta sama-sama pernah menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi selama di Mekah.
“Kita cari persamaannya, jangan cari perbedaannya. Kalau kita cari perbedaan, tidak akan pernah ketemu,” tegasnya.
Meski memiliki akar ilmu yang sama, kedua tokoh tersebut kemudian mengembangkan segmen perjuangan yang berbeda. Kiai Ahmad Dahlan disebut lebih terpengaruh pemikiran modernis Muhammad Abduh dan Rashid Rida, sehingga fokus pada pendirian sekolah-sekolah formal. Sementara Kiai Hasyim Asy’ari lebih memilih untuk memperdalam ilmu hadits dan fikih, serta berkonsentrasi pada pengembangan pondok pesantren.
“Yang satu lebih memilih formalitas (sekolah), yang satu lebih memilih Pondok Pesantren. Walaupun tujuannya sama: sama-sama untuk mendidik dan memerdekakan bangsa Indonesia,” jelasnya.
Rasyidi berharap kehadiran Masjid Al-Ikhlas di Pasuruan dapat menjadi jembatan untuk mempersatukan umat dan mengedepankan kebersamaan. Dia mengajak semua pihak untuk tidak lagi mempertentangkan hal-hal kecil dan fokus pada kontribusi bersama untuk bangsa dan negara.
Melalui tausiyah ini Rasyidi memberi penekanan pada esensi perjuangan kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, yang meski berbeda pendekatan, memiliki tujuan mulia yang sama: mencerdaskan dan membebaskan bangsa melalui pendidikan.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan prosesi peresmian dan penandatanganan simbolis sebagai tanda dimulainya proyek renovasi Masjid Al-Ikhlas. Seluruh jamaah berdoa bersama agar pembangunan dapat berjalan lancar, tanpa hambatan, dan hasilnya dapat menjadi rumah peradaban yang mencerahkan serta memancarkan kebaikan bagi seluruh masyarakat.
Kegiatan ini juga turut memperingati Hari Santri Nasional, menyematkan pesan tentang peran penting para santri dan umat Islam dalam membangun negeri.













