Masjid Al-Ikhlas Bukir, Kota Pasuruan menggelar kegiatan kajian menjelang berbuka puasa yang dirangkaikan dengan buka bersama dan berbagi takjil pada Minggu, 15 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri puluhan jamaah dan warga sekitar yang memanfaatkan waktu menunggu azan magrib dengan mengikuti majelis ilmu.
Kajian tersebut menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Ustaz Abu Nasir, sebagai narasumber. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga dapat berkumpul dalam majelis ilmu di bulan Ramadan.
Menurutnya, momen menunggu waktu berbuka merupakan waktu yang baik untuk memperdalam pemahaman agama, terlebih ketika umat Islam telah memasuki hari-hari terakhir Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa dalam beberapa hari ke depan umat Islam akan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
“Perbedaan waktu penetapan hari raya tidak perlu dipertentangkan. Baik yang merayakan pada 19, 20, atau 21 Maret, semuanya tetap sama-sama memasuki tanggal 1 Syawal. Yang terpenting adalah saling menghargai dan menjaga persaudaraan,” jelasnya di hadapan jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Abu Nasir juga menjelaskan tentang pentingnya memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya dalam mencari malam Lailatul Qadar. Ia mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA mengenai doa yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika seorang hamba berharap bertemu dengan malam Lailatul Qadar.
Doa yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai permaafan, maka maafkanlah aku).
Ia menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan yang menjadi sarana pembakaran dosa-dosa bagi orang-orang beriman. Selama bulan ini, umat Islam menempuh dua jalan yang juga ditempuh oleh para malaikat, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu di siang hari, serta memperbanyak ketaatan kepada Allah pada malam hari melalui salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an.
“Puasa bukanlah perkara mudah. Menahan diri dari makan dan minum seharian penuh memerlukan keimanan yang kuat. Karena itu, Ramadan menjadi kesempatan bagi orang beriman untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Lailatul Qadar tidak seharusnya dipahami secara materialistik seolah-olah mendatangkan keuntungan dunia secara tiba-tiba. Menurutnya, makna utama Lailatul Qadar adalah momentum turunnya Al-Qur’an yang seharusnya mendorong umat Islam untuk semakin dekat dengan kitab suci tersebut.
“Ketika seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka akan lahir perubahan dalam hidupnya. Ibadahnya menjadi lebih khusyuk, perilakunya lebih baik, dan tutur katanya lebih santun. Itulah hakikat keberkahan Lailatul Qadar,” jelasnya.
Ustaz Abu Nasir juga mengingatkan bahwa selain memohon ampun kepada Allah SWT, umat Islam juga harus menyelesaikan urusan dengan sesama manusia menjelang akhir Ramadan. Kesalahan, utang, maupun janji yang belum ditunaikan sebaiknya diselesaikan agar tidak menjadi beban saat menghadap Allah SWT kelak.
“Jika kita telah saling memaafkan dan menyelesaikan hak-hak sesama manusia, maka ketika Idulfitri tiba kita benar-benar kembali dalam keadaan bersih dari dosa. Karena itu tradisi saling memaafkan setelah Ramadan memiliki makna yang sangat dalam,” tuturnya.
Kegiatan kajian kemudian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembagian takjil dan buka puasa bersama jamaah serta warga yang hadir. Suasana kebersamaan dan kekhusyukan terasa hangat di tengah masyarakat yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mempererat ukhuwah dan meningkatkan kualitas ibadah.













