KOTA PASURUAN – Tantangan mendidik anak di era digital membutuhkan perhatian serius dari setiap keluarga. Peran orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus mampu membangun fondasi keimanan, membentuk karakter, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak menjadi generasi yang saleh dan berakhlak mulia.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Takmir Masjid Baitul Huda, Jalan Veteran Nomor 43, Kota Pasuruan, Minggu (8/11/2026). Mengangkat tema “Menyiapkan Generasi Langit”, kajian ini menghadirkan Dr. Hasan Ubaidillah, SE., MM., Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jawa Timur, sebagai pemateri.
Kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB tersebut diikuti ratusan jemaah dari berbagai kalangan. Suasana kajian berlangsung khidmat sekaligus hangat, dengan antusiasme peserta mengikuti pemaparan tentang pentingnya membangun ketahanan keluarga di tengah perubahan zaman.
Dalam ceramahnya, Dr. Hasan Ubaidillah mengajak para orang tua untuk memahami perubahan lingkungan dan pola interaksi anak pada era digital. Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Ia menggambarkan, dahulu orang tua mungkin merasa tenang ketika anak berada lama di dalam kamar karena dianggap terhindar dari pengaruh pergaulan negatif di luar rumah. Namun, kondisi tersebut tidak lagi bisa menjadi jaminan keamanan bagi anak.
Keberadaan telepon pintar atau gawai memungkinkan anak menjelajahi dunia digital tanpa batas, bahkan ketika mereka berada di dalam rumah. Berbagai informasi, hiburan, hingga pengaruh negatif dapat masuk melalui perangkat yang setiap hari mereka gunakan.
Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua harus semakin diperkuat. Keluarga tidak boleh kehilangan perannya sebagai tempat pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dalam konteks tersebut, Muhammadiyah menempatkan keluarga sebagai salah satu basis strategis pembinaan generasi. Keluarga harus menjadi lingkungan yang memberikan keteladanan, perlindungan, pendidikan, sekaligus ruang dialog bagi anak.
Lebih lanjut, Dr. Hasan mengajak jemaah memahami bahwa anak memiliki beragam karakter dan kedudukan sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an. Pemahaman ini penting agar orang tua tidak keliru dalam menentukan pola pengasuhan dan pendidikan.
Pertama, anak sebagai perhiasan (zinah). Kehadiran anak menjadi sumber kebahagiaan, kebanggaan, dan kesenangan bagi orang tua. Anak sering kali menjadi kebanggaan keluarga dan sesuatu yang dibanggakan di hadapan orang lain. Namun, kebanggaan tersebut perlu diimbangi dengan pembinaan akhlak dan keimanan agar anak tidak hanya membanggakan secara lahiriah.
Kedua, anak sebagai musuh. Dalam kondisi tertentu, hubungan anak dan orang tua dapat diwarnai pertentangan, ketidakpatuhan, bahkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai keluarga. Gambaran ini menjadi pengingat agar orang tua tidak mengabaikan komunikasi, keteladanan, dan pendidikan sejak dini.
Ketiga, anak sebagai fitnah atau ujian. Anak dapat menjadi ujian bagi orang tua, baik melalui perilaku, persoalan pendidikan, maupun tanggung jawab pengasuhan yang menyertainya. Dalam situasi seperti ini, orang tua dituntut memiliki kesabaran dan kebijaksanaan agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Keempat, anak sebagai penyejuk hati (qurrota a’yun). Inilah karakter anak yang menjadi dambaan setiap keluarga. Anak tidak hanya membahagiakan melalui prestasi, tetapi juga melalui tutur kata, sikap, ibadah, dan perilaku yang menenteramkan hati orang tua.
Keempat gambaran tersebut mengandung pelajaran bahwa membesarkan anak bukan sekadar memastikan mereka tumbuh dewasa, melainkan mendampingi mereka agar memiliki kepribadian dan orientasi hidup yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Selain pola pengasuhan di rumah, Dr. Hasan menekankan pentingnya penanaman akidah sejak usia dini. Fondasi keimanan harus dibangun melalui pembiasaan, pendidikan, serta keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada pengajaran teori atau hafalan. Anak perlu dibimbing untuk memahami dan mempraktikkan nilai-nilai Islam, termasuk membiasakan salat, menjaga adab, menghormati orang tua, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam hal ini, masjid juga mempunyai peran strategis sebagai pusat pembinaan generasi muda. Masjid semestinya tidak hanya menjadi tempat orang dewasa melaksanakan ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang ramah bagi anak-anak untuk mengenal dan mencintai rumah Allah.
Dr. Hasan mengingatkan para pengurus takmir agar tidak mudah memarahi anak-anak yang bermain atau menunjukkan perilaku aktif di lingkungan masjid. Menurutnya, pendekatan yang kurang bijaksana justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan enggan kembali ke masjid.
Anak-anak yang datang ke masjid harus disambut dengan baik, diarahkan dengan penuh kesabaran, serta dibimbing agar perlahan memahami adab dan tata tertib di rumah ibadah.
“Jangan sampai anak-anak kita yang ingin ke masjid justru lari ke tempat lain karena merasa tidak nyaman. Mari kita tata dan sambut mereka dengan baik,” pesan Dr. Hasan di hadapan para jemaah.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan kehidupan masjid pada masa mendatang sangat bergantung pada bagaimana generasi muda diperkenalkan dan didekatkan dengan masjid sejak kecil.
Tidak hanya menghadirkan kajian keislaman, kegiatan Ahad Pagi Masjid Baitul Huda juga dikemas dengan berbagai aktivitas sosial dan pelayanan kepada masyarakat. Takmir Masjid Baitul Huda bekerja sama dengan Lazismu Kota Pasuruan dan Klinik SehatMu menyediakan sejumlah layanan gratis bagi jemaah yang hadir.
Layanan tersebut meliputi konsultasi dan pemeriksaan kesehatan gratis dari Klinik SehatMu, pembagian sayuran gratis oleh Lazismu Kota Pasuruan, serta penyediaan sarapan pagi gratis bagi para jemaah.
Takmir masjid juga menyediakan beragam minuman, mulai dari kopi, moca, hingga air mineral untuk menemani kebersamaan setelah mengikuti kajian.
Kehadiran berbagai layanan tersebut menambah nilai kemanfaatan kegiatan. Masjid tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu dan memperkuat spiritualitas, tetapi juga menjadi pusat kepedulian sosial, pelayanan kesehatan, serta penguatan solidaritas masyarakat.
Melalui Kajian Ahad Pagi bertema “Menyiapkan Generasi Langit”, Takmir Masjid Baitul Huda berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun keluarga yang kuat secara spiritual dan sosial.
Pesan utama yang disampaikan dalam kajian ini menegaskan bahwa menyiapkan generasi masa depan bukanlah pekerjaan yang dapat diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau lembaga pendidikan. Keluarga memiliki tanggung jawab mendasar dalam membangun karakter, sementara masjid menjadi ruang strategis untuk memperluas pembinaan keagamaan dan sosial.
Sinergi antara keluarga, masjid, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat akidahnya, baik akhlaknya, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dengan demikian, cita-cita melahirkan Generasi Langit bukan sekadar harapan, melainkan sebuah ikhtiar bersama yang perlu dimulai dari rumah, diperkuat di masjid, dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.











