Surabaya, 20 Juni 2026 – Muballighat Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Pasuruan dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Nurul Mawaridah, M.Pd, hadir sebagai narasumber dalam program Cahaya Pagi yang disiarkan langsung oleh RRI Pro 4 Surabaya 96,8 FM pada Sabtu (20/6/2026). Dipandu oleh penyiar Ning Lia, dialog interaktif tersebut mengangkat tema “Sehat Iman, Sehat Finansial”, sebuah tema yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini di tengah berbagai tantangan kehidupan dan ekonomi.
Dalam pemaparannya, Nurul Mawaridah menjelaskan bahwa kesehatan iman dan kesehatan finansial merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, iman yang kuat akan membimbing seseorang dalam mencari, mengelola, dan menggunakan rezeki secara benar, sedangkan kondisi finansial yang sehat akan membantu seseorang menjalankan ibadah, menunaikan zakat, bersedekah, dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada sesama.
“Sehat iman berarti menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT melalui ibadah yang konsisten, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta membiasakan diri untuk bersyukur. Sementara sehat finansial berarti mampu mengelola keuangan secara bijaksana sehingga kebutuhan hidup dapat terpenuhi tanpa menimbulkan tekanan yang berlebihan,” jelasnya.
Dalam siaran yang juga diikuti pendengar dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Lamongan, Pasuruan, hingga Jakarta, Nurul Mawaridah mengingatkan pentingnya memahami konsep rezeki dan tawakal. Ia menegaskan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, namun manusia tetap diwajibkan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara jujur, profesional, dan penuh tanggung jawab.
Selain membahas pengelolaan keuangan yang sehat, narasumber juga mengajak masyarakat untuk menghindari perilaku konsumtif, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan diri menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah. Menurutnya, keberkahan harta tidak hanya diukur dari jumlah yang dimiliki, tetapi juga dari manfaat dan ketenangan yang dihadirkan dalam kehidupan.
Pada sesi interaktif, sejumlah pendengar menyampaikan pertanyaan yang sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Salah satunya datang dari seorang pendengar yang menanyakan cara menyikapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Menanggapi hal tersebut, Nurul Mawaridah menjelaskan bahwa kenaikan harga merupakan fenomena yang dapat terjadi akibat berbagai faktor ekonomi. Namun, masyarakat perlu menyikapinya dengan bijak melalui pengelolaan keuangan yang lebih terencana.
“Ketika harga naik, jangan hanya fokus pada keluhan. Prioritaskan kebutuhan pokok, susun ulang anggaran keluarga, hindari pembelian berlebihan, tingkatkan ikhtiar mencari rezeki, dan tetap menjaga kebiasaan bersedekah. Saat harga naik, yang perlu diperkuat bukan hanya penghematan, tetapi juga keimanan dan rasa syukur,” ujarnya.
Pertanyaan menarik lainnya datang dari Pak Rahmad, pendengar dari Lamongan, yang menyampaikan adakalanya muncul rasa iri ketika melihat teman-temannya lebih mapan secara ekonomi. Menanggapi hal tersebut, Nurul Mawaridah menjelaskan bahwa perasaan iri merupakan hal yang manusiawi, tetapi harus dikelola agar tidak berubah menjadi dengki.
Ia menjelaskan bahwa kelola rasa iri tersebut untuk bermuara pada hal-hal yang positif yang mendorong seseorang untuk memperbaiki diri tanpa menginginkan hilangnya nikmat orang lain. “Setiap orang memiliki jalan rezeki, waktu keberhasilan, dan ujian yang berbeda. Jangan membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain. Fokuslah pada ikhtiar, syukuri nikmat yang sudah dimiliki, dan jadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk berkembang,” pesannya.
Siaran berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Banyak pendengar yang menyampaikan apresiasi karena tema yang diangkat dinilai sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan ekonomi sekaligus menjaga kualitas spiritual di era modern.
Melalui program Cahaya Pagi RRI Pro 4 Surabaya, Nurul Mawaridah mengajak masyarakat untuk menjadi pribadi yang kuat sebagaimana yang dicintai Allah SWT: kuat imannya, kuat ilmunya, kuat fisiknya, dan kuat finansialnya. Dengan keseimbangan tersebut, seseorang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi keluarga, masyarakat, dan umat.
“Iman yang sehat akan membimbing cara kita mencari dan menggunakan rezeki, sedangkan finansial yang sehat membantu kita beribadah, berbagi, dan menjalani hidup dengan lebih tenang serta penuh keberkahan,” pungkasnya.
Program Cahaya Pagi edisi kali ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan sejati bukan hanya tentang banyaknya harta yang dimiliki, melainkan juga tentang ketenangan hati, rasa syukur, dan kemampuan memanfaatkan rezeki untuk kebaikan yang lebih luas.













