Lagu Panggung Sandiwara karya Ahmad Albar memiliki satu lirik yang sangat menarik: “Kisah Mahabharata dan tragedi dari Yunani.” Lirik itu menggambarkan bagaimana dua peradaban besar—India dan Yunani—telah melahirkan kisah-kisah epik yang terus dikenang sepanjang zaman. Mahabharata menjadi legenda yang diwariskan lintas generasi, sementara The Odyssey karya Homer kembali menjadi perhatian dunia setelah diangkat ke layar lebar oleh Christopher Nolan. Bahkan, perdebatan mengenai apakah Odysseus benar-benar pernah hidup atau hanya tokoh sastra kembali menghangat setelah penemuan arkeologi di Pulau Ithaca yang menunjukkan adanya pemujaan terhadap sosok tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia selalu tertarik pada cerita besar. Bukan sekadar karena unsur peperangan atau petualangannya, tetapi karena kisah-kisah tersebut menyimpan nilai keberanian, pengorbanan, kecerdikan, dan perjuangan melawan berbagai tantangan. Mahabharata, Iliad, maupun Odyssey telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat yang melahirkannya.
Namun, jika berbicara mengenai kisah-kisah agung, dunia Islam sesungguhnya memiliki warisan sejarah yang sama megahnya, bahkan dalam banyak hal lebih kuat karena sebagian besar tokoh dan peristiwanya memiliki pijakan sejarah yang jauh lebih jelas. Berbeda dengan banyak kisah mitologi yang berada di antara legenda dan sejarah, tokoh-tokoh Islam seperti Thariq bin Ziyad, Shalahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, hingga Sultan Muhammad Al-Fatih tercatat dalam berbagai sumber sejarah yang saling menguatkan.
Salah satu kisah paling mengagumkan adalah penaklukan Andalusia pada tahun 711 M oleh Thariq bin Ziyad. Dengan pasukan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan Visigoth, ia berhasil membuka gerbang Semenanjung Iberia yang kemudian menjadi pusat peradaban Islam selama hampir delapan abad. Kisah tentang pembakaran kapal setelah mendarat memang populer dalam tradisi sejarah Islam, meskipun sebagian sejarawan modern memperdebatkan apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau berkembang sebagai simbol tekad pantang mundur. Terlepas dari perdebatan tersebut, keberhasilan ekspedisi Thariq sendiri merupakan fakta sejarah yang mengubah wajah Eropa.
Demikian pula dengan Shalahuddin Al-Ayyubi. Di Barat sekalipun, ia dihormati sebagai panglima yang menjunjung tinggi etika perang. Setelah merebut Yerusalem pada tahun 1187, ia tidak melakukan pembantaian besar sebagaimana yang pernah terjadi ketika pasukan Salib merebut kota itu hampir satu abad sebelumnya. Ia justru memberi kesempatan kepada penduduk untuk menebus diri atau pergi dengan aman. Sikap ksatria inilah yang membuat namanya dikenang bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh banyak penulis Eropa.
Kisah lain yang sering membangkitkan kekaguman adalah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453. Salah satu strategi paling terkenal adalah memindahkan kapal-kapal Utsmani melewati daratan yang dilumuri pelumas untuk menghindari rantai besar yang menutup Teluk Golden Horn. Dalam semalam, puluhan kapal berhasil dipindahkan ke sisi lain pertahanan Bizantium. Bagi sebagian orang, kisah ini terdengar seperti adegan dalam film fantasi. Namun, berbagai sumber sejarah Bizantium maupun Utsmani mencatat bahwa strategi tersebut memang terjadi, meskipun rincian teknisnya masih menjadi bahan kajian para sejarawan.
Inilah yang menarik. Jika dunia mengagumi kecerdikan Odysseus ketika menyusun siasat Kuda Troya—yang sendiri berada dalam wilayah tradisi mitologis Yunani—maka sejarah Islam juga menyuguhkan kecerdasan strategi militer yang nyata dan terdokumentasi. Jika Mahabharata mengisahkan peperangan besar Kurukshetra sebagai simbol pertarungan antara dharma dan adharma, sejarah Islam pun dipenuhi kisah perjuangan yang sarat dengan nilai moral, kepemimpinan, keadilan, dan tanggung jawab.
Hal yang membedakan adalah tujuan utama kisah-kisah tersebut. Dalam banyak mitologi pagan, para dewa sering digambarkan memiliki sifat-sifat manusia: marah, iri, saling bersaing, bahkan berperang satu sama lain. Tokoh-tokoh manusia pun kerap berinteraksi langsung dengan dewa-dewa yang menjadi bagian dari alur cerita. Sebaliknya, dalam tradisi Islam, pusat kisah bukanlah pertarungan antardewa, melainkan hubungan manusia dengan Allah, tanggung jawab moral, serta perjuangan menegakkan keadilan. Kepahlawanan tidak diukur dari kekuatan fisik semata, tetapi juga dari keikhlasan, amanah, dan ketakwaan.
Tentu, penting pula membedakan antara sejarah dan legenda. Tidak semua cerita populer dalam tradisi Islam memiliki tingkat kepastian sejarah yang sama. Sebagian kisah berkembang melalui tradisi lisan, karya sastra, atau hikayat sehingga perlu dibaca secara kritis. Sikap yang sama juga diterapkan para sejarawan terhadap Mahabharata, Iliad, maupun Odyssey. Penemuan arkeologi di Ithaca, misalnya, menunjukkan bahwa Odysseus pernah dipuja oleh masyarakat kuno, tetapi belum membuktikan bahwa seluruh petualangannya benar-benar terjadi sebagaimana diceritakan Homer. Demikian pula, beberapa rincian kisah dalam sejarah Islam masih menjadi bahan penelitian akademik, sementara peristiwa-peristiwa utamanya memiliki landasan historis yang kuat.
Pada akhirnya, setiap peradaban memiliki cerita besar yang membentuk identitasnya. Mahabharata dan Odyssey layak dipelajari sebagai warisan sastra dunia yang luar biasa. Namun, dunia Islam tidak kekurangan kisah yang menginspirasi. Dari keberanian Thariq bin Ziyad, kebijaksanaan Shalahuddin Al-Ayyubi, kecerdasan strategi Muhammad Al-Fatih, hingga keteladanan para sahabat Nabi, sejarah Islam menawarkan narasi yang tidak kalah epik. Bahkan, banyak di antaranya bukan sekadar legenda yang diwariskan melalui puisi, melainkan peristiwa yang tercatat dalam sejarah dan meninggalkan jejak nyata bagi peradaban manusia.
Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ketika dunia mengagumi Mahabharata atau Odyssey sebagai kisah kepahlawanan yang melampaui zaman, umat Islam juga memiliki warisan sejarah yang sama agungnya. Bedanya, banyak kisah Islam tidak hanya hidup dalam imajinasi dan sastra, tetapi juga tercermin dalam fakta sejarah, peninggalan peradaban, dan pengaruh nyata yang masih dapat ditelusuri hingga hari ini. Dengan mempelajarinya secara kritis dan objektif, kita dapat melihat bahwa setiap peradaban memiliki pahlawan dan kisah besarnya sendiri, dan sejarah Islam berdiri sejajar sebagai salah satu warisan paling kaya dalam perjalanan umat manusia.













