“Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.”
Sepenggal lirik dari lagu Sesi Potret ini belakangan begitu menyentuh hati banyak orang. Bukan karena kata-katanya yang rumit, melainkan karena ia mewakili perasaan yang mungkin pernah dialami hampir setiap manusia, kehilangan orang yang sangat dicintai.
Lagu tersebut mengisahkan seseorang yang terlalu sibuk mengejar nafkah hingga berkali-kali menunda kepulangan. Selalu ada alasan, pekerjaan belum selesai, rezeki belum cukup, atau waktu yang belum tepat. Hingga suatu hari ia benar-benar pulang, membawa harapan dan buah tangan. Namun, rumah yang dituju tak lagi sama. Sosok yang selama ini menunggu di depan pintu telah lebih dahulu “pulang” kepada Allah Swt.
Penyesalan pun tak lagi bisa diulang. Rumah yang dulu penuh canda kini hanya menyisakan kenangan. Foto keluarga terasa berbeda karena ada satu wajah yang tak lagi berada di sana. Rindu yang dahulu bisa ditebus dengan perjalanan, kini menjadi rindu yang tak mungkin lagi dipertemukan di dunia.
Lagu ini seolah mengingatkan kita bahwa kesempatan bersama orang-orang tercinta adalah nikmat yang sering kali baru disadari setelah kehilangannya.
Dalam Islam, kesedihan karena kehilangan bukanlah tanda lemahnya iman. Rasulullah saw. sendiri pernah menangis ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Beliau bersabda,
“Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata dan hati ini bersedih. Namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa menangis adalah fitrah manusia. Yang dilarang bukanlah air matanya, melainkan sikap menolak ketentuan Allah atau berputus asa atas takdir-Nya.
Allah Swt. juga telah mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Cepat atau lambat, setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Karena itu, ikhlas bukan berarti tidak lagi merasa sedih, tetapi menerima bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah yang suatu saat akan kembali kepada-Nya.
Saat musibah datang, Allah mengajarkan doa yang begitu agung:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156).
Kalimat ini bukan sekadar ucapan belasungkawa, tetapi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Orang yang kita cintai tidak benar-benar hilang, melainkan lebih dahulu menempuh perjalanan menuju kampung akhirat.
Karena itu, kerinduan kepada mereka hendaknya tidak berhenti pada tangisan. Islam mengajarkan cara mencintai yang tetap hidup meski telah dipisahkan kematian, yakni dengan memperbanyak doa, bersedekah atas nama mereka, menyambung silaturahmi yang dahulu mereka jaga, serta menghadiahkan amal saleh agar pahalanya terus mengalir.
Barangkali benar, bagi banyak orang ikhlas memang masih terasa “amatir”. Namun selama hati terus belajar menerima takdir Allah dan lisan tidak pernah berhenti mendoakan mereka yang telah mendahului, maka di situlah ikhlas sedang bertumbuh.
Sebelum penyesalan datang, mari luangkan waktu untuk pulang, memeluk orang tua, menghubungi keluarga, dan mengucapkan rasa sayang kepada mereka yang masih Allah titipkan kepada kita. Sebab kita tidak pernah tahu, pertemuan hari ini bisa jadi adalah pertemuan yang terakhir.
Semoga Allah Swt. merahmati orang-orang yang telah mendahului kita, melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, serta kelak mempertemukan kembali kita bersama mereka di surga-Nya. Āmīn.











