• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Parkir Sembarangan di Depan Rumah, Masalah Sepele Bikin Sakit Hati

Marjoko oleh Marjoko
6 bulan yang lalu
in Opini
0
Gambar Ilustrasi AI

Gambar Ilustrasi AI

10
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Kasus yang melibatkan Kiai Mim, dosen UIN Malang, dengan salah satu tetangganya yang memiliki usaha travel, sempat menjadi perbincangan hangat. Terlepas benar atau tidaknya persoalan yang berkembang, saya merasa ada sisi yang bisa kita tarik sebagai refleksi Bersama yaitu betapa hal yang dianggap “sepele” seperti parkir kendaraan bisa menimbulkan masalah besar dalam hubungan bertetangga. Istilahnya “sepele dadi sepuluh” dalam Bahasa Jawa.

Saya pribadi pernah mengalami hal yang hampir sama. Salah satu tetangga memiliki travel, dan kendaraan-kendaraan miliknya kerap parkir sembarangan di depan rumah saya. Kedengarannya sederhana, tetapi kenyataannya sangat mengganggu. Setiap kali saya hendak keluar rumah, saya tidak bisa langsung jalan. Saya harus mengetuk pintu rumah pemilik kendaraan, meminta dengan sopan agar mobil digeser. Anehnya, meski saya yang dirugikan, saya seringkali justru yang meminta maaf terlebih dahulu. Itu dilakukan demi menjaga hubungan baik, sekalipun hati saya kesal.

Dari pengalaman ini saya bisa memahami jika Kiai Mim juga merasakan hal serupa. Sebagai manusia biasa, wajar jika muncul rasa jengkel, apalagi jika persoalan parkir ini berlangsung berulang kali dan tidak ada iktikad baik dari pemilik kendaraan. Kita seringkali diajarkan untuk sabar, menahan amarah, dan mengedepankan musyawarah dalam bertetangga. Namun, sabar juga ada batasnya, terutama ketika hak dasar kita sebagai pemilik rumah, yaitu akses keluar-masuk terhalang oleh ketidakpedulian orang lain.

Masalah parkir memang terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan dua hal penting: kesadaran sosial dan etika bertetangga. Sebuah kendaraan tidak hanya benda mati yang berhenti di suatu titik, melainkan juga cermin sikap pemiliknya terhadap lingkungan sekitar. Jika parkir sembarangan sudah dianggap hal biasa, maka bukan tidak mungkin rasa saling menghormati antarwarga akan terkikis perlahan.

Related Post

Ustaz Miftakhul Jannah Mengajak Menjadi Manusia Bertakwa Pasca Ramadhan

20 Maret 2026

Momentum Idul Fitri 1447 H, Jamaah di Lapangan SLB Wironini Diajak Jaga “Ritme” Ibadah Pasca Ramadan

20 Maret 2026

Khutbah Idul Fitri di Halaman Masjid Baiturrahman: Rekonstruksi Jiwa Menuju Fitrah Orisinal

20 Maret 2026

Ustaz Nurul Humaidi Bongkar Fakta: Banyak Orang Bertakbir di Masjid Tapi Takabur di Luar! 

20 Maret 2026

Di sisi lain, sikap kita yang berusaha tetap menjaga hubungan baik, meski sering dirugikan, juga menyimpan dilema. Di satu sisi kita ingin menegakkan hak, tetapi di sisi lain ada kekhawatiran hubungan bertetangga menjadi renggang. Akibatnya, kita memilih jalur sabar, meski hati menggerutu. Persis seperti yang saya alami, meminta maaf padahal bukan saya yang salah.

Dari sini saya melihat perlunya kesadaran kolektif untuk menghormati ruang hidup orang lain. Pemerintah daerah mungkin bisa membuat aturan tegas terkait parkir, terutama bagi usaha-usaha travel atau angkutan yang menggunakan lahan perumahan. Namun yang lebih penting adalah kesadaran pribadi, jangan sampai mencari rezeki dengan cara yang membuat orang lain menderita.

Kasus Kiai Mim hendaknya menjadi cermin bagi kita semua. Bukan sekadar tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan bagaimana kita menempatkan diri sebagai warga yang saling menghormati. Karena hubungan sosial di masyarakat dibangun bukan hanya dari hal-hal besar seperti gotong royong atau musyawarah desa, tetapi juga dari hal-hal kecil seperti tidak parkir sembarangan.

Akhirnya, saya percaya bahwa masalah sederhana seperti parkir bisa menjadi ladang ujian kesabaran, sekaligus ukuran kedewasaan kita dalam berinteraksi. Bila kita mampu menahan ego dan menumbuhkan rasa empati, maka konflik seperti yang menimpa Kiai Mim tidak perlu lagi terulang di lingkungan kita.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Share4Tweet3Share1
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy in every universe.

Related Posts

Kabar

Ustaz Miftakhul Jannah Mengajak Menjadi Manusia Bertakwa Pasca Ramadhan

oleh Muslim Notonegoro
20 Maret 2026
Kabar

Momentum Idul Fitri 1447 H, Jamaah di Lapangan SLB Wironini Diajak Jaga “Ritme” Ibadah Pasca Ramadan

oleh Firnas Muttaqin
20 Maret 2026
Dosa adalah malware yang merusak sistem fitrah, dan Ramadhan adalah proses reset total atas virus-virus keburukan.
Kabar

Khutbah Idul Fitri di Halaman Masjid Baiturrahman: Rekonstruksi Jiwa Menuju Fitrah Orisinal

oleh Izzaudin Nuskha Khalifah
20 Maret 2026
Next Post
foto: shutterstock

Runtuhnya Masjid Pondok Pesantren Al Khoziny: Tragedi yang Mengingatkan Kita pada Hal-Hal yang Terlupakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Berita Duka: Ustaz Saiful Hadi Wafat, PDM Kota Pasuruan Kehilangan Sosok Teladan Dakwah

20 Februari 2026
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 menjadi penegas presisi hisab KHGT sekaligus simbol kuat arah baru persatuan kalender umat Islam dunia.

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Validasi Astronomis KHGT dan Momentum Menuju Kesatuan Umat

3 Maret 2026
Menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan, Majelis Tabligh PDM Kota Pasuruan menyelenggarakan kajian i’tikaf di lima masjid yang tersebar di Kota Pasuruan.

Majelis Tabligh PDM Kota Pasuruan Gelar Rangkaian Kajian I’tikaf Ramadhan

6 Maret 2026
Menuju 2029, Bawaslu dan Muhammadiyah Kota Pasuruan resmi bersinergi kawal demokrasi bersih dan berintegritas.

Langkah Besar Menuju 2029: Bawaslu dan Muhammadiyah Kota Pasuruan Teken MoU Strategis

3 Maret 2026

Ustaz Miftakhul Jannah Mengajak Menjadi Manusia Bertakwa Pasca Ramadhan

20 Maret 2026

Momentum Idul Fitri 1447 H, Jamaah di Lapangan SLB Wironini Diajak Jaga “Ritme” Ibadah Pasca Ramadan

20 Maret 2026
Dosa adalah malware yang merusak sistem fitrah, dan Ramadhan adalah proses reset total atas virus-virus keburukan.

Khutbah Idul Fitri di Halaman Masjid Baiturrahman: Rekonstruksi Jiwa Menuju Fitrah Orisinal

20 Maret 2026
Kita besarkan Allah di tempat ibadah, tapi kita agungkan kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan di luar sana.

Ustaz Nurul Humaidi Bongkar Fakta: Banyak Orang Bertakbir di Masjid Tapi Takabur di Luar! 

20 Maret 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan