Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Bagi saya, 22 Oktober adalah ruang untuk membuka kembali kenangan tentang kehidupan pesantren: tentang kesederhanaan, perjuangan menuntut ilmu, kedisiplinan, persaudaraan, dan doa-doa yang diam-diam membentuk diri menjadi lebih dewasa.
Saya pernah menjadi bagian dari kehidupan itu. Menjadi santri mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus diamalkan; nasihat tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku. Ada masa ketika rindu rumah harus ditahan, lelah harus dilawan, dan keinginan pribadi harus belajar berdamai dengan aturan. Dari situlah saya memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan, melainkan juga tentang kesanggupan menata hati dan memperbaiki akhlak.
Allah Swt. berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
Ayat ini mengingatkan saya bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan pesantren. Ilmu justru menemukan maknanya ketika dibawa kembali ke tengah masyarakat, diajarkan, dan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Rasulullah saw. juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
Kini, ketika Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, saya menyadari bahwa menjadi santri bukan sekadar identitas masa lalu. Nilai-nilainya adalah bekal untuk menjalani masa depan: berilmu, berakhlak, berakar pada tradisi, dan berani berinovasi.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Untuk setiap kenangan yang pernah membentuk diri, untuk setiap guru yang menanamkan ilmu, dan untuk setiap doa yang mengiringi perjalanan, terima kasih. Mungkin masa menjadi santri telah berlalu, tetapi semangat kesantrian harus tetap hidup—dalam pikiran, perkataan, karya, dan pengabdian kepada negeri.








