Ada sebuah kesalahan dalam pola pengasuhan yang sering kali dianggap remeh, tetapi dampaknya dapat berlangsung panjang dan sulit diperbaiki: membiarkan kesalahan anak tanpa koreksi, membenarkan perilakunya atas nama kasih sayang, dan menganggap setiap tindakan buruk sebagai sesuatu yang wajar karena pelakunya masih kecil. Kesalahan ini jarang disadari sebagai kesalahan, karena sering kali dibungkus dengan niat baik: melindungi anak, menjaga perasaannya, dan memastikan ia tidak mengalami kekecewaan.
Ketika seorang anak berbuat salah, orang tua seharusnya hadir untuk mengajarkan batas antara benar dan salah. Namun, bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Anak melakukan kesalahan, orang tua diam. Anak menyakiti orang lain, orang tua membela. Anak melanggar batas, orang tua mencari pembenaran. Mungkin pada saat itu persoalannya terlihat kecil. Tidak ada teguran, tidak ada konsekuensi, dan tidak ada pertengkaran di dalam keluarga. Semuanya tampak baik-baik saja.
Namun, apakah benar tidak adanya masalah hari ini berarti tidak ada masalah untuk masa depan? Inilah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan merenung. Karena sering kali, hal yang paling berbahaya bukanlah kesalahan yang terlihat, melainkan kesalahan yang sengaja tidak dilihat.
Create the Demons, Create the Monster
Create the demons, create the monster. Kita menciptakan iblis, kita membentuk monster. Kalimat ini bukan berarti anak yang berbuat salah pasti akan tumbuh menjadi penjahat. Ini adalah metafora tentang bagaimana perilaku merusak dapat berkembang ketika terus dibiarkan, dibenarkan, dan tidak pernah dipertanggungjawabkan. Kalimat ini adalah peringatan, bukan vonis.
Sebab, persoalan utamanya bukanlah anak yang melakukan kesalahan. Anak-anak memang sedang belajar memahami dunia, mengelola emosi, dan membangun kesadaran moral. Mereka belum memiliki kemampuan penuh untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah tanpa bimbingan orang dewasa. Persoalan sesungguhnya muncul ketika orang dewasa yang seharusnya mendidik mereka justru menormalisasi kesalahan tersebut. Di sinilah tanggung jawab berpindah dari anak yang belum tahu, kepada orang tua yang seharusnya tahu.
Kesalahan yang Dibiarkan Bukan Berarti Kesalahan Itu Hilang
Bayangkan seorang anak yang menghina temannya, lalu orang tuanya berkata, “Namanya juga anak-anak.” Ketika anak itu mengambil barang milik orang lain, orang tuanya kembali berkata, “Masih kecil, belum mengerti.” Ketika ia menyakiti temannya, justru korban yang diminta mengalah demi menjaga kedamaian. Sekilas, setiap kejadian mungkin terlihat sederhana. Namun, jika pola tersebut terus berulang tanpa koreksi, anak berisiko mempelajari sesuatu yang keliru: bahwa tindakannya tidak perlu dipertanggungjawabkan selama ada seseorang yang bersedia membelanya.
Lebih dari itu, anak juga belajar bahwa perasaan orang lain tidak penting. Bahwa korban tidak perlu didengarkan. Bahwa yang terpenting adalah dirinya tidak merasa bersalah. Pelajaran-pelajaran ini tidak diajarkan secara lisan, tetapi diserap melalui pengalaman berulang yang membentuk cara pandang anak terhadap dunia.
Di sinilah perbedaan antara memahami kesalahan dan membenarkan kesalahan menjadi sangat penting. Memahami berarti menyadari bahwa seorang anak masih membutuhkan bimbingan. Membenarkan berarti memperlakukan perilaku yang salah seolah-olah tidak ada masalah yang perlu diperbaiki. Memahami membuka ruang untuk pertumbuhan. Membenarkan menutup pintu untuk perubahan.
Orang tua tentu tidak harus menghukum setiap kesalahan dengan keras. Yang dibutuhkan adalah ketegasan, penjelasan, konsekuensi yang proporsional, dan kesempatan untuk memperbaiki perilaku. Sebab, kasih sayang bukanlah kewajiban untuk selalu mengatakan bahwa anak kita benar. Terkadang, bentuk kasih sayang yang paling besar justru keberanian untuk mengatakan kepada anak sendiri: kamu salah, kamu telah menyakiti orang lain, dan kamu harus bertanggung jawab. Kalimat itu mungkin tidak menyenangkan untuk diucapkan, dan tidak nyaman untuk didengar. Tetapi justru di situlah letak cinta yang sesungguhnya: cinta yang tidak hanya ingin membuat anak bahagia hari ini, tetapi juga ingin memastikan ia tidak menjadi sumber penderitaan orang lain di kemudian hari.
Ketika Anak Bertambah Dewasa, Siapa yang Bertanggung Jawab atas Apa yang Tidak Pernah Diajarkan?
Anak tidak selamanya kecil. Ia akan tumbuh, memiliki kebebasan yang lebih besar, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghadapi konsekuensi yang semakin kompleks. Perilaku yang tidak pernah dikoreksi berisiko menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang terus dipelihara dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain. Sementara itu, kebiasaan selalu dibela dapat menyulitkan seseorang menerima kritik atau mengakui kesalahan.
Tentu saja, perkembangan manusia tidak sesederhana hubungan sebab-akibat. Seseorang tidak otomatis menjadi pelaku kekerasan hanya karena pernah dimanjakan orang tuanya. Kepribadian dan perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan sosial, pengalaman hidup, pengendalian diri, dan pilihan pribadi. Mengakui kompleksitas tersebut penting agar kita tidak terjebak dalam penyederhanaan yang berlebihan.
Namun, mengakui kompleksitas tersebut bukan alasan untuk mengabaikan pentingnya pendidikan moral sejak dini. Pertanyaannya sederhana: jika sejak kecil seorang anak tidak pernah diajarkan untuk menghormati batas orang lain, kapan ia akan belajar melakukannya? Jika setiap kritik dianggap sebagai penghinaan karena ia selalu dibenarkan, bagaimana ia akan menghadapi perbedaan pendapat ketika dewasa? Dan jika setiap kesalahan selalu diselesaikan dengan pembelaan keluarga, bagaimana ia akan memahami bahwa di luar rumah, orang lain tidak memiliki kewajiban untuk terus memaklumi perilakunya?
Kita sering terlambat menyadari bahwa mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhannya, melindunginya dari kesulitan, atau memastikan ia selalu merasa nyaman. Mendidik juga berarti mempersiapkannya untuk hidup bersama orang lain tanpa merampas hak, martabat, dan rasa aman mereka. Anak yang tidak pernah diajarkan batasan akan kesulitan memahami bahwa kebebasannya berakhir di tempat kebebasan orang lain dimulai.
Kasus Nyata Harus Menjadi Pelajaran, Bukan Alasan untuk Membuat Tuduhan Tanpa Bukti
Kasus penganiayaan terhadap pegawai toko roti yang viral di Indonesia menjadi salah satu peristiwa yang mengundang perhatian publik mengenai perlakuan terhadap pekerja, penyalahgunaan kuasa, dan pertanggungjawaban atas tindakan terhadap orang lain. Peristiwa semacam ini layak menjadi bahan refleksi tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang yang berada dalam posisi lebih rentan.
Namun, ada batas yang harus kita jaga: kita tidak dapat menyimpulkan bahwa tindakan seseorang pasti disebabkan oleh pola asuh orang tuanya tanpa bukti yang mendukung kesimpulan tersebut. Kita dapat mengkritik perilaku yang merendahkan atau menyakiti orang lain. Kita juga dapat mempertanyakan bagaimana pendidikan tentang empati dan tanggung jawab ditanamkan. Akan tetapi, kritik tersebut harus dibedakan dari klaim bahwa kita mengetahui secara pasti penyebab perilaku seseorang. Menghubungkan sebuah tindakan kekerasan dengan pola asuh tertentu tanpa bukti bukan hanya tidak adil, tetapi juga berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang sebenarnya.
Hal yang sama berlaku dalam kasus perundungan terhadap anak difabel di Surabaya yang diberitakan berujung maut. Kasus ini mengingatkan kita bahwa perundungan tidak boleh direduksi menjadi kenakalan biasa. Perundungan dapat menimbulkan dampak serius, terlebih ketika korban berada dalam posisi rentan dan kesulitan membela dirinya. Dalam kaitannya dengan kasus tersebut, beredar berbagai klaim mengenai ketakutan warga terhadap keluarga tertentu, dugaan penghilangan gambar dari rekaman CCTV, serta dugaan adanya pengaruh atau relasi yang membuat pihak tertentu sulit disentuh.
Klaim-klaim tersebut tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti. Kebenarannya harus diperiksa melalui bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, keterangan saksi, dan proses penyelidikan yang semestinya. Latar belakang keluarga, asal daerah, maupun dugaan kedekatan dengan pihak berpengaruh tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan atau kesalahan seseorang. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku, bahkan ketika publik merasa geram.
Namun, ada persoalan sosial yang tetap patut kita pertanyakan: bagaimana jika masyarakat merasa takut untuk bersuara ketika melihat tindakan yang salah? Bagaimana jika kepentingan menjaga nama baik keluarga lebih diutamakan daripada perlindungan terhadap korban? Pertanyaan ini bukan tuduhan bahwa setiap klaim dalam kasus tersebut benar. Ini adalah pertanyaan tentang prinsip yang seharusnya berlaku dalam masyarakat mana pun. Jika benar ada intimidasi, pembiaran, atau upaya menghalangi pengungkapan suatu peristiwa, hal itu harus ditangani secara serius berdasarkan bukti. Tidak seorang pun seharusnya kebal terhadap pemeriksaan hanya karena latar belakang atau pengaruhnya.
Dan jika seorang anak menjadi korban perundungan, perhatian kita tidak boleh berhenti pada pelaku dan keluarganya. Kita harus memastikan bahwa penderitaan korban tidak diabaikan, hak-haknya dihormati, dan proses penanganan berlangsung secara adil. Korban bukanlah catatan kaki dalam sebuah kasus; ia adalah manusia yang berhak mendapatkan keadilan dan pemulihan.
Melindungi Anak Bukan Berarti Membebaskannya dari Tanggung Jawab
Salah satu kekeliruan terbesar dalam pengasuhan adalah menganggap bahwa membela anak selalu berarti melindunginya dari konsekuensi. Padahal, perlindungan dan pembenaran adalah dua hal yang berbeda. Perlindungan berfokus pada keselamatan dan kesejahteraan anak. Pembenaran berfokus pada upaya menghindari rasa tidak nyaman, baik bagi anak maupun bagi orang tua.
Orang tua wajib melindungi anak dari kekerasan, perlakuan tidak adil, dan ancaman terhadap keselamatannya. Namun, kewajiban tersebut tidak berarti orang tua harus menyangkal kesalahan anak atau menghalangi pertanggungjawaban atas perilakunya. Ketika anak menyakiti orang lain, orang tua perlu memastikan bahwa tindakan itu dihentikan, korban mendapatkan perlindungan, dan anak memahami dampak perbuatannya. Ketika anak melakukan perundungan, persoalannya tidak selesai hanya dengan meminta korban memaafkan atau menyuruh semua pihak melupakan kejadian tersebut. Perlu ada evaluasi, penanganan yang sesuai, dan langkah nyata untuk mencegah pengulangan.
Disiplin tidak harus berupa kekerasan. Ketegasan tidak harus berarti penghinaan. Konsekuensi tidak harus menghilangkan kesempatan seorang anak untuk memperbaiki diri. Justru, anak perlu memahami bahwa mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Meminta maaf bukanlah kekalahan. Dan memperbaiki perilaku bukanlah sesuatu yang memalukan. Kita tidak sedang berusaha membesarkan anak yang takut kepada orang tuanya. Kita sedang berusaha membesarkan manusia yang mampu mengendalikan dirinya, menghormati orang lain, dan menerima bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Jadi, Masihkah Kita Ingin Create the Demons, Create the Monster?
Pada akhirnya, monster dalam judul ini bukanlah label bagi anak tertentu. Ia adalah gambaran tentang perilaku merusak yang dapat tumbuh ketika kesalahan terus dibenarkan, tanggung jawab terus dihindari, dan lingkungan memilih diam. Ia dapat tumbuh ketika orang tua lebih sibuk membela daripada mendidik. Ia dapat tumbuh ketika keluarga lebih takut kehilangan nama baik daripada berani mengevaluasi kesalahan. Ia dapat tumbuh ketika masyarakat melihat tindakan yang merugikan orang lain, tetapi memilih diam karena takut kepada pihak yang dianggap berkuasa. Dan ia dapat tumbuh ketika penderitaan korban dianggap tidak sepenting kenyamanan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab.
Namun, kita juga harus berani mengakui bahwa tidak semua anak yang pernah berbuat salah akan tumbuh menjadi pribadi yang merusak. Setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri. Justru karena perubahan itu mungkin terjadi, koreksi sejak dini menjadi penting. Koreksi bukanlah vonis. Teguran bukanlah cap. Konsekuensi bukanlah akhir dari segalanya. Semua itu adalah bagian dari proses belajar yang memungkinkan anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita tidak boleh menunggu sampai seorang anak dewasa untuk mulai mengajarkannya tanggung jawab. Kita tidak boleh menunggu sampai seseorang menjadi korban serius untuk menganggap perundungan sebagai persoalan nyata. Dan kita tidak boleh menunggu sampai masyarakat kehilangan keberanian untuk bersuara sebelum menyadari bahaya pembiaran.
Anak-anak membutuhkan kasih sayang, tetapi juga batasan. Mereka membutuhkan perlindungan, tetapi juga pendidikan tentang tanggung jawab. Mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah, tetapi kesempatan tersebut tidak boleh digunakan untuk membenarkan pengulangan perilaku yang menyakiti orang lain.
Maka, sebelum terlambat, mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang mendidik anak, atau hanya sedang melindunginya dari setiap konsekuensi atas kesalahannya? Apakah kita sedang membangun karakter, atau sekadar memuaskan keinginan anak agar selalu merasa benar? Apakah kita berani menghentikan kesalahan hari ini, atau baru akan bertindak ketika akibatnya sudah tidak dapat diperbaiki?
Create the demons, create the monster. Bukan karena setiap anak yang salah pasti menjadi monster, melainkan karena setiap kesalahan yang terus dibenarkan berisiko mengajarkan pelajaran yang salah.
Maka, jangan jadikan kasih sayang sebagai alasan untuk membiarkan. Jangan jadikan keluarga sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab. Dan jangan jadikan masa kecil sebagai pembenaran untuk menormalisasi perilaku yang merugikan orang lain. Sebab, tugas orang tua bukan memastikan anak selalu menang dalam setiap persoalan. Tugas orang tua adalah mendidik anak agar mampu membedakan mana yang benar, berani mengakui ketika salah, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya.
Mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka bahagia hari ini, melainkan juga mengajarkan mereka agar tidak menjadi alasan penderitaan orang lain di kemudian hari. Karena kasih sayang yang sejati tidak berhenti pada kenyamanan sesaat, melainkan berani menanamkan batasan, tanggung jawab, dan empati yang akan menemani anak sepanjang hidupnya.








