Penulis: Suharsono
Suasana khidmat menyelimuti Masjid Darul Arqom di Jalan KH Wakhid Hasyim, Kota Pasuruan, pada Ahad pagi 25/01/2026. Di hadapan jamaah yang antusias, H. Ismail Nachu, S.Ag., membedah sebuah dimensi kehidupan Rasulullah SAW yang sering kali terlewatkan dalam narasi mimbar konvensional: Sisi Entrepreneurship (Kewirausahaan).
Selama ini, kita lebih sering mengenal Nabi Muhammad SAW hanya dari sisi ibadah ritualnya. Namun, H. Ismail mengingatkan bahwa sebelum memikul beban risalah sebagai Rasul di usia 40 tahun, Muhammad adalah seorang “CEO” dan pedagang lintas negara yang disegani selama lebih dari dua dekade.
- Fondasi Karakter: Al-Amin sebagai “Personal Branding”
H. Ismail menekankan bahwa kunci kesuksesan bisnis Rasulullah bukan terletak pada modal materi, melainkan pada integritas. Gelar Al-Amin (Yang Terpercaya) bukan sekadar julukan sosial, melainkan sebuah personal branding yang sangat kuat dalam dunia perdagangan.
“Rasulullah tidak pernah menjual barang dengan menyembunyikan cacatnya. Kejujuran adalah strategi pemasaran terbaiknya,” ujar H. Ismail. Dalam konteks modern, ini adalah nilai transparansi yang menjadi dambaan setiap konsumen.
- Mentalitas Kemandirian (Iffah)
Meneladani sisi wirausaha Nabi berarti memutus rantai mentalitas tangan di bawah. Ceramah pagi itu menggarisbawahi bahwa Islam sangat menghargai mereka yang bekerja keras untuk menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta.
Entrepreneurship dalam pandangan Rasulullah adalah jalan untuk mencapai Iffah (menjaga kehormatan) dan alat untuk memberikan manfaat luas melalui zakat dan sedekah.
- Jaringan dan Diplomasi Bisnis
H. Ismail juga memaparkan bagaimana Rasulullah merupakan sosok yang pandai membangun jejaring. Perjalanan dagangnya ke Syam bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan upaya membangun relasi internasional. Beliau mengajarkan bahwa bisnis bukan sekadar transaksi angka, melainkan tentang membangun silaturahmi yang berkelanjutan.
“Menjadi pengusaha yang meneladani Nabi bukan berarti menjadi rakus harta, melainkan menjadi kuat secara ekonomi agar bisa membela agama dan membantu sesama.”
Melalui ceramah ini, H. Ismail Nachu mengajak warga Pasuruan, khususnya jamaah Masjid Darul Arqom, untuk tidak alergi terhadap dunia bisnis. Justru, umat Islam harus merebut kembali kejayaan ekonomi dengan meniru etika bisnis kenabian: jujur, profesional, dan berorientasi pada keberkahan.
Di hadapan jamaah, ia tidak hanya menyajikan figur Nabi sebagai pemimpin agama, melainkan sebagai seorang maestro bisnis yang jejaknya patut menjadi cetak biru bagi pengusaha Muslim modern.
- Berbisnis sebagai Bentuk Ibadah dan Identitas
Dalam pemaparannya, Ismail Nachu menekankan bahwa bagi seorang Muslim, berwirausaha bukanlah sekadar mencari profit (keuntungan) semata. Rasulullah menunjukkan bahwa pasar adalah medan dakwah yang nyata. Beliau mengingatkan bahwa selama puluhan tahun sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad SAW adalah seorang praktisi bisnis yang tangguh.
“Kita sering lupa bahwa masa kenabian hanya 23 tahun, namun masa berbisnis Rasulullah jauh lebih lama dari itu,” tegasnya. Hal ini menyiratkan bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi yang dibangun Nabi sebelum membangun tatanan sosial-politik Islam.
- Pilar Utama: Al-Amin (Integritas di Atas Segalanya)
Dalam sesi kedua ini, sorotan tajam diberikan pada gelar Al-Amin (Yang Terpercaya). Ismail menjelaskan bahwa dalam kewirausahaan modern, ini diterjemahkan sebagai brand integrity.
- Kejujuran Produk: Nabi tidak pernah menyembunyikan cacat barang.
- Transparansi Harga: Menghindari praktik spekulasi yang merugikan pembeli.
- Loyalitas pada Janji: Menepati kontrak kerja dan komitmen waktu.
Menurut Ismail, kesuksesan Nabi saat membawa barang dagangan Siti Khadijah bukan karena teknik pemasaran yang manipulatif, melainkan karena tingkat kepercayaan yang luar biasa dari pelanggan.
- Membangun Networking yang Melampaui Batas
Sisi kewirausahaan Nabi yang juga dibahas adalah kemampuannya dalam membangun jejaring (networking). Sejak usia muda, Nabi telah melakukan ekspansi bisnis hingga ke negeri Syam (Suriah). Ismail mengajak jamaah untuk meneladani keberanian Nabi dalam keluar dari zona nyaman.
Seorang pengusaha Muslim harus memiliki wawasan global namun tetap membumi dalam etika. Networking dalam Islam bukan sekadar bertukar kartu nama, melainkan membangun silaturahmi yang membawa keberkahan dan peluang kolaborasi.
Poin Penting untuk Refleksi: “Rasulullah mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Enterprenurship adalah jalan untuk memastikan tangan kita selalu berada di atas agar bisa membantu lebih banyak orang.” — H. Ismail Nachu, S.Ag.
Ceramah ini diakhiri dengan sebuah ajakan kuat bagi warga Pasuruan dan jamaah Darul Arqom secara umum: jadikanlah masjid bukan hanya pusat sujud, tapi juga pusat pemikiran untuk membangkitkan ekonomi umat. Meneladani Nabi berarti berani berdikari, jujur dalam timbangan, dan visioner dalam melihat peluang.
Dengan semangat Prophetic Entrepreneurship, setiap Muslim memiliki potensi untuk menjadi “pahlawan ekonomi” di lingkungannya masing-masing, persis seperti yang dicontohkan oleh Sang Al-Amin. Sepulang dari masjid, jamaah tidak hanya membawa bekal pahala mendengarkan ilmu, tetapi juga percikan semangat untuk mengubah cara mereka berdagang dan bekerja esok hari—menjadikan pasar sebagai medan dakwah yang nyata.











