Suasana fajar di Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wachid Hasyim No. 202 Pasuruan, Kamis (13/8/2026), terasa begitu syahdu. Usai menunaikan salat Subuh berjemaah, para jemaah khusyuk menyimak untaian nasihat yang disampaikan oleh Ustaz H. Heru Winarno, M.BA dalam kajian rutin Kuliah Subuh.
Mengawali tausiahnya dengan mukadimah, salam, serta selawat ke atas baginda Nabi Muhammad SAW, Ustaz Heru melontarkan sebuah refleksi pembuka yang memantik kesadaran para jemaah.
“Sedekah harta itu sudah umum, tetapi sedekah dengan menjaga kehormatan serta memaafkan celaan kehormatan diri itu hal yang jarang. Betul apa betul?” tanyanya retoris yang diamini oleh jemaah.
Teladan Abdurrahman bin Auf dan Abu Aqil
Dalam paparannya, Ustaz Heru mengisahkan kembali momentum pengorbanan para sahabat Nabi saat menyambut seruan infak fi sabilillah. Salah satunya adalah kisah sahabat mulia, Abdurrahman bin Auf r.a.
Kala itu, Abdurrahman bin Auf datang menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 4.000 dirham seraya berkata:
“Wahai Rasulullah, hartaku berjumlah 8.000 dirham. Separuhnya (4.000 dirham) aku infakkan di jalan Allah, dan separuhnya lagi kutinggalkan untuk mencukupi nafkah keluargaku.”
Mendengar ketulusan itu, Rasulullah SAW mendoakannya dengan hangat:
“Semoga Allah memberkahi apa yang engkau berikan dan memberkahi pula apa yang engkau simpan.”
Doa Nabi berbuah berkah luar biasa. Ustaz Heru menggarisbawahi bahwa kedermawanan tidak pernah membuat seseorang jatuh miskin. Terbukti, peninggalan Abdurrahman bin Auf kelak bernilai fantastis, di mana bagian warisan para istrinya mencapai ribuan dirham/dinar—menegaskan betapa lapang dan berkahnya rezeki yang dinaungi keikhlasan.
Di sisi lain, datang pula sahabat dari kalangan tidak mampu, yakni Abu Aqil (Ashim bin Adi r.a.), yang membawa sedekah sederhana berupa kurma. Ia mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa ia bekerja keras semalaman hanya memperoleh sedikit takaran (sha’) kurma; sebagian untuk menafkahi keluarganya dan sebagian lagi ia bawa dengan tulus ke jalan Allah.
Lidah Racun Kaum Munafik dan Turunnya Surat At-Taubah: 79
Perbedaan jumlah nominal sedekah tersebut rupanya menjadi bahan cemoohan bagi orang-orang munafik di Madinah. Mereka mulai menyebarkan narasi fitnah dan menyerang kehormatan para sahabat:
Kepada Abdurrahman bin Auf, kaum munafik menuduh: “Ia bersedekah banyak hanya demi riya’ (pamer kemewahan).”
Kepada sahabat yang bersedekah sedikit, mereka mencibir: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan sedekah yang hanya satu sha’ kurma ini.”
Merespons celaan kaum munafik yang merendahkan kehormatan orang-orang beriman tersebut, Allah SWT langsung menurunkan pembelaan-Nya melalui wahyu dalam Surat At-Taubah ayat 79:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Orang-orang (munafik) yang mencela orang-orang beriman yang rela memberikan sedekah dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan selain sekadar kesanggupannya, lalu mereka menghinanya; Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.”
Pesan Penutup
Menutup kajiannya, Ustaz H. Heru Winarno berpesan kepada seluruh jemaah agar senantiasa meluruskan niat dalam beramal. Nilai sebuah kebaikan di sisi Allah tidak diukur dari besar-kecilnya nominal menurut pandangan manusia, melainkan dari kadar ketakwaan dan keikhlasan hati.
Beliau juga mengingatkan pentingnya berlapang dada—bersedekah kehormatan—ketika kebaikan kita disalahpahami atau dicela oleh orang lain, karena penilaian sejati hanyalah milik Allah semata.
Editor : Marjoko










