Masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat ibadah yang sunyi selepas salat. Di Masjid Al-Ukhuwah, yang berlokasi di Jalan Sekarsono 5, Kota Pasuruan, pendekatan sederhana namun efektif justru berhasil menghidupkan suasana: ngopi bareng selepas kajian Ahad pagi.
Seperti masjid-masjid yang dikelola Muhammadiyah pada umumnya, Masjid Al-Ukhuwah rutin menggelar kajian Ahad pagi usai salat Subuh. Namun ada yang berbeda. Setelah kajian selesai, jamaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka justru berkumpul di latar depan masjid, menikmati suasana santai sembari menyeruput kopi.
Kegiatan ngopi bersama ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi sosial yang terbilang efektif dalam membangun kedekatan antarjamaah. Sajian yang disediakan pun cukup beragam, mulai dari kopi, teh, susu, air mineral, hingga aneka kue. Bahkan, pada Ahad tertentu, panitia juga menyediakan menu sarapan berat bagi jamaah.




Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan almarhum H. Anshori sebagai Ketua Takmir Masjid. Inisiatif beliau untuk menghadirkan suasana hangat dan akrab di lingkungan masjid terbukti memberikan dampak positif. Kini, kebiasaan tersebut terus dilanjutkan oleh pengurus yang ada.
Hasilnya terlihat nyata. Jumlah jamaah yang mengikuti kajian Ahad pagi terus meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya itu, kehadiran jamaah pada salat Subuh berjamaah juga mengalami peningkatan signifikan.
Faktor kenyamanan masjid menjadi salah satu daya tarik utama. Ditambah lagi dengan area latar depan yang asri dan nyaman, menjadikan tempat ini ideal untuk berkumpul santai. Obrolan ringan antarjamaah pun mengalir, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh keakraban.
Lebih dari sekadar minum kopi, kegiatan ini menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat ukhuwah Islamiyah. Masjid Al-Ukhuwah menunjukkan bahwa pendekatan sederhana—seperti ngopi bersama—dapat menjadi sarana efektif untuk menghidupkan masjid dan menarik lebih banyak jamaah.
Dengan konsep yang membumi dan suasana yang ramah, Masjid Al-Ukhuwah membuktikan bahwa dakwah tidak selalu harus formal. Kadang, secangkir kopi dan kebersamaan justru menjadi jembatan terbaik untuk mendekatkan hati umat.











