Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Pasuruan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal menggelar silaturahmi dan Halalbihalal 1447 Hijriah pada Jumat, 15 Syawal 1447 H bertepatan dengan 3 April 2026. Bertempat di aula pertemuan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 6 Pasuruan, acara ini tidak hanya menjadi ajang mempererat tali persaudaraan, tetapi juga momentum strategis bagi organisasi perempuan tertua di Indonesia untuk merefleksikan diri agar lebih membumi dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat luas.
Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Pasuruan, drh. Hj. Emilis Setyawati, dalam sambutannya menegaskan pentingnya transformasi gerakan agar tidak sekadar berputar pada dinamika internal keanggotaan. Ia menguraikan sejumlah tantangan pelik yang masih membayangi Kota Pasuruan, mulai dari angka kemiskinan hingga persoalan kesehatan anak. “PR terbesar kita adalah bagaimana cabang dan ranting bisa memberikan kegiatan yang menyentuh dan dibutuhkan betul-betul oleh masyarakat. Kita sebagai organisasi perempuan tertua harus lebih peka terhadap kebutuhan perempuan dan anak,” tegas drh. Emilis.
Data yang dipaparkannya cukup mengkhawatirkan. “Angka stunting di Kota Pasuruan masih berada di level 18,7 persen, di atas target nasional. Guru-guru TK ABA harus menjadi ujung tombak dalam edukasi pola asuh yang benar kepada orang tua,” ujarnya. Sementara itu, tingkat kemiskinan yang masih bertahan di angka 7 persen dan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,9 persen menuntut peran aktif Majelis Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial untuk merancang program pemberdayaan yang lebih terarah. Tak kalah memprihatinkan, rendahnya rata-rata lama sekolah yang hanya sembilan tahun berkorelasi langsung dengan tingginya kasus penyalahgunaan narkoba dan perceraian di kota ini. Untuk itu, PDA Kota Pasuruan berencana memperkuat kolaborasi dengan lembaga pemasyarakatan terkait konseling keluarga dan penyediaan pendidikan paket bagi warga binaan.
Di tengah agenda besar seperti Musyawarah Pimpinan Daerah dan persiapan menuju Muktamar 2027, drh. Emilis juga mengingatkan pentingnya efisiensi pengelolaan keuangan serta kemandirian finansial. “Kita harus berhati-hati dalam pengelolaan keuangan. Saya berharap tiap majelis bisa mengadakan kegiatan yang menghasilkan, tidak selalu menggantungkan pada bendahara daerah,” tambahnya. Semangat swadaya ini dinilai krusial agar gerakan persyarikatan tetap kokoh dalam setiap situasi.
Memasuki acara inti, tausiyah hikmah halalbihalal disampaikan oleh Dr. Abu Nasir, M.Ag yang mengupas sejarah panjang tradisi halalbihalal di Indonesia. Tradisi ini, menurutnya, telah tercatat dalam berbagai manuskrip sejak abad ke-18 sebelum akhirnya diformalkan oleh KH Wahab Chasbullah dan Presiden Soekarno pada 1948. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh kader ‘Aisyiyah untuk mengadopsi sikap inklusif. “Inklusif berarti menerima kehadiran semua orang dengan tangan terbuka. Jangan merasa paling benar atau paling besar. Libatkan tokoh masyarakat dan warga sekitar tanpa memandang latar belakang agama agar sekolah dan organisasi kita semakin dicintai,” pesan Dr. Abu Nasir, M.Ag.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, Dr. Abu Nasir, M.Ag menekankan bahwa esensi seluruh instrumen pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, adalah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. “Ayo kita hadirkan sikap inklusif sebagai wujud gerakan persyarikatan. Sikap ini adalah ciri orang bertakwa yang memandang semua manusia setara, tanpa membedakan suku, bangsa, maupun latar belakang sosial,” ujarnya. Ia merujuk pada Surat Al-Hujurat ayat 13 yang menggunakan sapaan Yaa ayyuhannas—wahai manusia—sebagai simbol keterbukaan Islam terhadap keragaman. Perbedaan diciptakan agar manusia saling mengenal dan memahami, bukan untuk saling merendahkan.
Ia pun memberi teladan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir. “Pak Haedar seringkali bepergian hanya naik kereta api, duduk di stasiun menunggu jadwal, bahkan membawa oleh-oleh dalam kardus layaknya warga biasa. Beliau tidak menjaga jarak dengan protokol yang kaku. Inilah mentalitas pimpinan Muhammadiyah: merasa hanya ‘sedikit ditinggikan’ namun tetap setara dengan anggota lainnya,” tutur Dr. Abu Nasir, M.Ag.
Menutup tausiyahnya, Dr. Abu Nasir, M.Ag mengajak para guru TK ABA untuk meningkatkan kualitas ibadah pasca-Ramadan dengan membedakan dua level puasa: shiyam yang sekadar menahan lapar dan dahaga, serta shaum yang merupakan level lebih tinggi, yakni menahan diri dari perkataan buruk, ghibah, dan segala hal yang menyakiti hati orang lain. “Ciri orang bertakwa adalah mereka yang memproduksi qaulan karima dan qaulan layyina. Terutama bagi ibu-ibu dan guru, lisan dan tulisan di media sosial harus dijaga agar selalu menyejukkan dan tidak memicu perpecahan,” pesan Dr. Abu Nasir, M.Ag.
Halalbihalal pun ditutup dengan penguatan komitmen bersama. Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, warga ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan tetap menjadi rumah yang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar dan berkontribusi, sekaligus menjadi motor penggerak solusi atas berbagai problem kemanusiaan di kota ini.










