Masjid Darul Arqom menjadi penutup rangkaian kegiatan kajian I’tikaf 10 malam terakhir Ramadan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Kota Pasuruan. Kajian yang berlangsung pada malam ke-29 Ramadan, Selasa (17/3/2026) pukul 00.00 WIB ini menghadirkan Ustaz H. Arifin Ahmad sebagai narasumber.
Dalam ceramahnya, Ustaz Arifin Ahmad mengangkat tema “Falsafah Idulfitri”, sebuah pendekatan mendalam untuk memahami makna kembali kepada fitrah manusia. Ia menjelaskan bahwa berfikir secara falsafah berarti merenungkan sesuatu hingga ke akar-akarnya secara menyeluruh, sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh dan mendalam.
Menurutnya, istilah Idulfitri yang sering dipahami sebagai “kembali ke fitrah” memiliki makna kembali kepada kesucian. Kesucian ini, lanjutnya, bukan sekadar kondisi tanpa dosa, tetapi juga kembali kepada potensi dasar manusia yang telah dianugerahkan sejak lahir. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menyebutkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 30.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dalam perspektif ilmu psikologi, manusia memiliki beberapa potensi dasar atau fitrah, seperti intelektual, sosial, moral (susila), seni, harga diri, dan agama. Potensi-potensi ini harus dijaga dan dikembangkan agar manusia dapat menjalani kehidupan secara seimbang.
Ustaz Arifin juga menekankan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan sarana untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk mengendalikan pikiran, perasaan, dan kemauan—tiga unsur utama dalam jiwa manusia. Ketika salah satu dari unsur ini terganggu, maka akan berdampak pada keseluruhan kondisi kejiwaan seseorang.
Selain itu, puasa juga berperan dalam membentuk karakter sosial dan memperkuat rasa persaudaraan. Ia mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah satu umat, sehingga harus saling peduli dan merasakan penderitaan sesama. Kepedulian sosial, seperti berbagi dan membantu sesama, menjadi bagian penting dalam menghidupkan nilai-nilai fitrah tersebut.
Dalam aspek akhlak, puasa juga menjadi sarana pendidikan moral. Ustaz Arifin mengingatkan bahwa orang yang berpuasa harus menjaga lisan dan perilakunya dari perkataan dusta, fitnah, dan perbuatan tercela. Sebab, nilai puasa tidak hanya terletak pada menahan makan dan minum, tetapi juga pada kemampuan menjaga akhlak.
“Puasa sejatinya mengembalikan manusia menjadi pribadi yang taat kepada Allah, memiliki kepedulian sosial, serta berakhlak mulia,” ungkapnya.
Setelah kajian selesai, para jamaah kemudian melanjutkan kebersamaan dengan menyantap sahur bersama yang telah disediakan oleh Masjid Darul Arqom. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan pun terasa, menambah kekhidmatan rangkaian ibadah di penghujung Ramadan.
Kajian ini sekaligus menjadi penutup dari rangkaian kegiatan I’tikaf yang telah dilaksanakan di berbagai masjid di Kota Pasuruan selama sepuluh malam ganjil terakhir Ramadan. Para jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti kajian hingga selesai, dengan harapan dapat meraih keberkahan dan meningkatkan kualitas diri di penghujung bulan suci Ramadan.











