Editor: Yogi Arfan
Masjid Al-Ukhuwah Sekarsono kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada Minggu, 5 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Baidowi sebagai penceramah yang membahas pentingnya Tahsinul Qur’an (perbaikan bacaan Al-Qur’an) serta filosofi penciptaan manusia dalam perspektif Surat Al-Baqarah.
Dalam pembukaan ceramahnya, Ustaz Baidowi menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an harus dilakukan dengan tartil dan penuh kehati-hatian. Ia mengingatkan jamaah untuk tidak membaca secara tergesa-gesa, melainkan memperhatikan kaidah tajwid, termasuk durasi bacaan pada tanda mad.
“Bacaan Al-Qur’an itu harus tartil. Tidak bisa yang seharusnya lima ketuk dibaca satu ketuk. Itulah mengapa di Masjid Al-Ukhuwah ini ada bimbingan Tahsinul Qur’an,” ujarnya. Ia juga mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Memasuki inti kajian, Ustaz Baidowi mengulas Surat Al-Baqarah ayat 31 yang menjelaskan keistimewaan Nabi Adam AS. Dalam ayat tersebut, Nabi Adam diajarkan oleh Allah nama-nama benda di alam semesta, yang menjadi bukti keunggulan manusia dibandingkan malaikat dalam aspek pengetahuan.
“Malaikat tidak memiliki nafsu. Jika diperintahkan menjaga neraka, wajahnya akan selalu garang tanpa senyum. Berbeda dengan manusia yang memiliki karakter beragam, mulai dari sifat malaikat hingga potensi sifat binatang,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki fitrah yang condong kepada kebenaran. Namun, sifat sombong dan dendam menjadi tantangan besar yang dapat menjerumuskan manusia pada perilaku yang menyerupai karakter setan.
Menjelang akhir ceramah, Ustaz Baidowi mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarsesama dengan saling memaafkan. Ia menegaskan bahwa Allah tidak akan memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang masih menyimpan dendam dan memutus tali silaturahmi.
Selain itu, ia juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat, seperti praktik nikah siri yang menyimpang, kecurangan dalam perdagangan seperti oplosan parfum, hingga ketidakadilan hukum. Menurutnya, fenomena tersebut muncul akibat lunturnya rasa takut kepada Allah dan jauhnya manusia dari tuntunan Al-Qur’an.
Di era digital saat ini, Ustaz Baidowi turut mengajak jamaah untuk tetap istiqomah menghadiri majelis ilmu secara langsung di masjid. Ia menilai bahwa kehadiran fisik di majelis memiliki nilai keberkahan tersendiri dibandingkan hanya mengikuti kajian melalui platform digital.
“Mendengar lewat YouTube boleh saja, tapi keberkahan ilmu dan langkah kaki menuju masjid itu berbeda nilainya. Di majelis ilmu, kita mendapatkan keberkahan yang tidak didapatkan di kamar sendirian,” pungkasnya.











