Pasuruan, 23 Februari 2026 – Semburat fajar menyapa Kota Pasuruan dengan hembusan angin yang sejuk. Meski suhu cukup rendah, hal itu tak menyurutkan langkah jamaah yang berbondong-bondong menuju Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim. Dalam suasana dzikir dan lantunan doa, para jamaah mengikuti kuliah subuh bertema “Motivasi Ramadhan Kita” yang disampaikan oleh Ust. Muhammad Yusuf Hasmy.
Dalam tausiyahnya, Ust. Yusuf menekankan bahwa bulan suci Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum perubahan menyeluruh bagi setiap muslim. Ia mengajak jamaah mengubah cara pandang terhadap Ramadhan, dari beban menjadi peluang.
“Ramadhan adalah hadiah dari Allah bagi hamba yang ingin memperbaiki diri. Jangan melihat puasa sebagai penderitaan fisik, tetapi sebagai proses memperbaiki jiwa yang mungkin telah lalai selama sebelas bulan terakhir,” ujarnya di hadapan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid.
Menurutnya, persepsi keliru tentang Ramadhan sering membuat umat menjalani ibadah tanpa semangat. Padahal, Ramadhan justru menjadi kesempatan emas untuk memperkuat iman, memperbanyak amal, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Ust. Yusuf yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi juga menyampaikan pendekatan menarik dengan konsep “investasi akhirat”. Ia mengibaratkan ibadah di bulan Ramadhan sebagai investasi dengan keuntungan berlipat.
“Kalau dalam dunia bisnis kita menghitung laba, di Ramadhan kita juga harus punya target amal. Misalnya khatam Al-Qur’an, memperbanyak sedekah subuh, menjaga shalat berjamaah, dan meningkatkan ibadah sunnah,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya efisiensi waktu. Dalam keseharian yang padat, umat diminta memprioritaskan ibadah wajib, lalu menambah amalan sunnah yang memiliki nilai pahala besar. Dengan perencanaan yang matang, Ramadhan dapat dijalani secara optimal tanpa mengganggu aktivitas lain.
Selain itu, Ust. Yusuf mengingatkan bahwa semangat Ramadhan tidak boleh berhenti setelah Idul Fitri. Menurutnya, keberhasilan Ramadhan diukur dari konsistensi setelah bulan suci berlalu.
“Pemenang Ramadhan bukan hanya yang rajin di awal, tetapi yang tetap istiqomah setelahnya. Jika selepas Ramadhan kita tetap menjaga shalat, sedekah, dan membaca Al-Qur’an, itulah tanda ibadah kita diterima,” katanya.
“Kami ingin jamaah tidak hanya semangat saat Ramadhan, tetapi juga konsisten setelahnya. Ini bagian dari dakwah untuk membangun masyarakat yang lebih religius dan peduli,” ungkapnya.
Kuliah subuh di Masjid Darul Arqom menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Dengan niat, strategi, dan konsistensi, bulan suci Ramadhan dapat menjadi titik balik kehidupan. Di tengah dinginnya udara Pasuruan, semangat jamaah justru terasa hangat—membawa harapan bahwa Ramadhan tahun ini akan menjadi momentum perubahan yang nyata bagi umat.












